Dinamika Peran dan Negosiasi Budaya Etnik : Studi Pertunjukan Barongsai di Surabaya Pasca Soeharto
MOCH. CHOIRUL ARIF, Dr. GR. Lono Lastoro Simatupang, MA; Dr. Budiawan
2016 | Disertasi | S3 Kajian Budaya dan MediaTujuan dilakukan penelitian ini adalah mendeskripsikan terjadinya dinamika peran pada tradisi Barongsai, proses negosiasi kultural yang mengiringi dan implikasi pertunjukan serta respon orang-orang etnis Cina sebagai akibat dari dinamika peran tradisi Barongsai. Mengingat data yang dihasilkan bersifat deskriptif, maka metode kualitatif dengan pendekatan kritis menjadi menjadi sangat penting digunakan. Landasan teori strukturasi Anthony Giddens digunakan untuk menjelaskan aktifitas agen dalam mendorong terjadinya dinamika peran tradisi Barongsai tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang menentukan dinamika peran Barongsai, yaitu strategi bertahan di tengah pelemahan referensi kultural, motif kultural dan ekonomi pegiat Barongsai, prinsip keseimbangan dalam dinamika peran Barongsai, dukungan pemerintah kota Surabaya, dan agen = pemilik kapital. Melalui faktor-faktor itulah tradisi Barongsai melakukan perubahan peran sebagai tradisi etnik-komoditas etnik dan olahraga prestasi. Berubahnya peran tradisi Barongsai bukan sekedar mengikuti trend atau bersifat taken for granted, tapi melalui proses negosiasi kultural yang berjalan berlapis dan kompleks, yang tidak saja melibatkan elit budaya kecinaan dan pemerintah kota Surabaya tapi juga kalangan bawah (grassroot) yang terlibat dalam tradisi Barongsai. Di sinilah peran agen menjadi kunci dinamika itu dengan mengomunikasikan berbagai kepentingan menuju dinamika peran yang berujung pada keberlanjutan tradi budaya kecinaan. Dinamika peran tradisi Barongsai bukan sekedar berubah posisi, tapi perubahan itu menggambarkan kemampuan Pemegang Otoritas Budaya Cina dan agen mengoneksikan tradisi kecinaan dengan perubahan global dan tantangan lokal, sehingga tercipta ruang ketiga. Ruang yang berisi kemungkinan-kemungkinan baru bagi orang-orang etnis Cina dalam menegosiasikan eksistensinya secara kultural
The aim of this study is to describe the dynamics of the role of the Lion Dance, the process of cultural negotiation and the implications that accompany the performances and the response of ethnic Chinese people as a result of that the dynamic role. Given the resulting data is descriptive, the qualitative method with a critical approach becomes very important to use. Anthony Giddens structuration theoretical basis is usedto describe the activities of agents in driving the dynamics ofthe role of the Lion Dance Results of this study, there are several factors that determine: a strategy to survive amid weakening cultural references, cultural and economic motives, the principle of balance in the dynamic role, Surabaya government support, and agents=owners of capital. Through factors that Lion Dance changes the role of ethnic traditions - ethnic commodity-sports. The changing role of the Lion Dance is not just follow the trend or are taken for granted, but through a process of cultural negotiation that goes layered and complex, which not only involves the elite culture of China and the Surabaya government but also the lower classes (grassroots).This is where the role of the agent to be the key dynamics of communicating with a variety of interests that led to the sustainability of the cultural traditions of China The dynamics of the role is not just changing the position, but the changes it describes the ability Holder Chinese Culture Authority and an agent that connects the Chinese tradition to the changing global and local challenges, so as to create a third space, that contains new possibilities for people of ethnic Chinese inexistence negotiate culturally.
Kata Kunci : Barongsai, Dinamika Peran, Negosiasi, Ruang Ketiga