Laporkan Masalah

Melokalkan Nilai Kosmopolitan dalam Novel Tsugaru Karya Osamu Dazai

WINDA IKA TYANINGRUM, Prof. Dr. Faruk, S.U.

2016 | Tesis | S2 Ilmu Sastra

Jepang dalam konteks orientalisme dapat dikatakan sebagai Timur namun Timur yang tidak terjajah secara fisik. Tetapi pengaruh Barat tidak dapat ditolak Jepang ketika terjadi Restorasi Meiji tahun 1868, masa dimana Jepang melihat Barat yang merupakan tonggak pengaruh Barat terhadap Jepang. Setelah selama dua ratus tahun lebih menutup diri dari dunia luar di masa Tokugawa (1603-1868) pada akhirnya Jepang tidak dapat lagi membendung dirinya untuk tidak melihat Barat dengan segala kemodernannya. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, Jepang melakukan Pembaruan (kaikaku) serta Peradaban dan Pencerahan (bunmei kaika) dengan berkaca pada Barat (Inouye, 2008: 103). Persentuhan dengan Barat membawa Jepang pada modernisasi berupa pemikiran dan ideologi yang mencakup banyak aspek seperti sosial budaya, politik, kesusastraan dan lain-lain. Mengutip Said, cerita perjalanan ternyata berperan penting dalam pembentukan tatanan global yang bersifat kolonial. Penelitian ini mencoba melihat sejauh mana cerita perjalanan dalam novel ini terpengaruh oleh wacana kolonial dalam penggambarannya tentang tempat-tempat dan orang-orang asing yang ditemui selama perjalanan. Permasalahan itu dipahami dengan menggunankan teori cerita perjalanan Carl Thompson yang antara lain mengatakan bahwa cerita perjalanan pada dasarnya adalah cerita tentang negosiasi diri dengan liyan sebagai akibat terjadinya pergerakan dalam ruang. Hasil penelitian menunjukkan dari segi penggambaran dunia novel ini lebih menonjolkan subjektivitas daripada objektivitas. Lalu dari segi pola cerita perjalanan, memperlihatkan kecenderungan sebagai perjalanan romantik, turistik sekaligus eksploratif. Sebagian besar perjalanan yang dilakukan merupakan perjalanan yang direncanakan dan tanpa banyak hambatan yang dapat dikatakan sebagai perjalanan turistik.Sedangkan pada strategi peliyanan pada novel ini dapat dilihat kecenderungannya adalah strategi peliyanan neo-kolonial namun tidak sepenuhnya bersumber pada Barat namun juga bersumber pada nilai-nilai kelokalan Jepang. Selanjutnya, dari ketiga hal di atas terimplikasi agenda etis dan politis. Secara etis, novel ini menunjukkan sikap egaliter dengan mengacu pada nilai-nilai lokal. Secara politis, cerita perjalanan dalam novel ini berhasil melakukan agenda pembebasan diri dari hegemoni kolonialisme, tidak terperangkap ke dalam neo-kolonialisme yang menganut nilai-nilai kosmopolit Barat.

In orientalism term, Japan could be mentioned as the East but the East that was not physically colonized. However, influence of the West could not be resisted by Japan during Meiji Restoration in 1868 when Japan finally saw the West as the influence of the West begun entering Japan. After approximately 250 years isolated from the outer world during Tokugawa era (1603-1868), Japan finally could not repress herself not to see the West with its modernity. As explained before, Japan performed Reformation (kaikaku) as well as Civilization and Enlightment (bunmei kaika) by orienting toward the West. Contact with the West brought Japan to modernization in thought and ideology of many aspects such as socials, cultures, politics, literatures, et cetera. According to Said, travel writing evidently played crucial role in the global order in colonial term. This research tried to see how far travel writing in novel Tsugaru by Osamu Dazai influenced by colonial discourse in his description about the strange places and people that he met during the travel. This issue was figured out using travel writing theory by Carl Thompson that said travel writing basically is the writing about the negotiation between self and other that it brought about by movement in space. This research signified that from the depiction of the world aspect, this novel focused on subjectivity instead of objectivity. From the forms of travel writing aspect, it showed the tendency as romantic, touristic, and explorative travel. Most of the travels done were a well-planned travel without many obstacles and it could be defined as touristic travel. Meanwhile, from the strategy of Othering aspect in the novel, it can be seen that the novel tend to be neo-colonial othering strategy but it was not completely sourced from the West because it was also sourced from the Japanese local values. Furthermore, from the three aspects explained above, there was implication of ethical and political agenda. Ethically, this novel shown the egalitarian manner based on local values. Politically, travel writing in this novel successfully performed self-releasing agenda from colonialism hegemony, not trapped in the neo-colonialism embracing cosmopolitan values from the West.

Kata Kunci : agenda, diri, dunia, kolonial, liyan, lokalitas, negosiasi, neo-kolonial, egaliter, kosmopolitan, turistik/ agenda, self, world, colonial, other, locality, negotiation, neo-colonial, egalitarian, cosmopolitan, touristic