Laporkan Masalah

NEGOTIATING LOCAL CULTURE AND RELIGION The Dynamics of Muslims' Perspectives on the Ceremony of Nawu Sendang Saliran in Kotagede, Yogyakarta

SULFIA, Muhammad Iqbal Ahnaf, Ph.D

2016 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Penelitian ini menyajikan studi kasus tentang ketegangan yang terjadi karena perbedaan perspektif di kalangan umat Islam mengenai acara nawu sendang saliran. Sendang Saliran merupakan kolam bersejarah dari kerajaan Mataram. Tujuan dari acara ini pada awalnya adalah untuk membersihkan sendang saliran dan menguras airnya setiap tahun. Para penyelenggara acara mengikuti tradisi nenek moyang mereka yang percaya bahwa membersihkan kolam merupakan bagian dari hubungan mereka dengan jiwa atau makhluk halus yang menjaga tempat tersebut. Tapi dengan berlalunya waktu, tujuan upacara ini tidak hanya untuk mempertahankan tradisi membersihkan sendang, tetapi juga untuk mempromosikan desa mereka sebagai kota budaya kepada para wisatawan. Untuk tujuan itu, para penyelenggara acara mengembangkan praktek membersihkan sendang menjadi sebuah festival publik. Tapi, karena perubahan upacara, hal tersebut menimbulkan ketegangan antara abdi dalem sebagai penyelenggara acara dan kelompok puritan, salah satu organisasi Islam di desa tersebut yang menentangnya. Kelompok Muslim menentang festival tersebut karena mereka menganggapnya sebagai bid'ah publik. Dalam menanggapi ketegangan ini, baik abdi dalem sebagai penyelenggara dan kelompok Muslim sebagai pihak yang menentang, berpartisipasi dalam proses mediasi. Dari hasil mediasi, saya mengklasifikasikan dua pola bagaimana budaya lokal bernegosiasi dengan tekanan pemurnian agama. Kedua pola tersebut adalah reinterpretasi dan Islamisasi.

This research presents a case study about the tension that occurred because of differing perspectives among Muslims regarding the ceremony of nawu sendang saliran. Sendang saliran is a historical pool of Mataram kingdom. The purpose of the sendang saliran ceremony is initially to clean up the sendang saliran and drain the water from it in annual period. The performers follow their ancestors' tradition who believe that cleaning the pool is part of their relation with the spirit that guard the pool. But with the passage of time, the purpose of the ceremony is not only to maintain the tradition to clean up the sendang, but also to promote their village as city of culture to the tourists. For this purpose, the performers expand the practice of cleaning into a public festival. But, because of the changing of the ceremony, it raised the tensions between abdi dalem as the organizers of the ceremony and puritan group, one of Islamic organizations in that village that oppose the ceremony. They oppose the festival because they consider it as a public heresy. In response to this tension, both abdi dalem as the performers and the Muslim group as the disputants participate in a mediation process. From the result of the mediation, I classify two patterns of how local culture negotiate with the pressure of religious purification. Those are reinterpretation and Islamization.

Kata Kunci : nawu sendang saliran, ceremony, religion, culture, conflict, mediation, negotiation