Laporkan Masalah

PENGARUH MONEY POLITICS PADA MASYARAKAT URBAN PEMILU LEGISLATIF 2014 (Studi Kasus Masyarakat Kampung Ledok Prawirodirjan Daerah Istimewa Yogyakarta)

HANDAYANI, Miftah Adhi Ikhsanto, S.I.P., M.A

2016 | Skripsi | S1 ILMU PEMERINTAHAN (POLITIK DAN PEMERINTAHAN)

ABSTRAK Sistem pemilihan umum legislatif secara langsung tahun 2014 membuka maraknya praktik money politics di Kota Yogyakarta dengan mengatasnamakan shadaqah, hadiah, hibbah dan lain sebagainya. Dalam situasi yang serba sulit seperti saat ini, uang merupakan alat kampanye yang cukup ampuh untuk mempengaruhi masyarakat guna memilih calon legislatif tertentu. Kecerdasan intelektual dan kesalehan pribadi tidak menjadi tolak ukur kelayakan bagi calon legislatif, tetapi kekayaan finansial yang menjadi penentu pemenangan dalam pemilu. Dengan rumusan masalah bagaimana pengaruh money politics pada masyarakat urban di kelurahan prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, peneliti akan mengupas praktik money politics yang digunakan oleh para caleg dengan metode patronase. Lebih khusus, penelitian ini melihat money politics di kampung Prawirodirjan khususnya di RW 16 RT 52, 53, 54 kelurahan Prawirodirjan, kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif yang dianggap dapat melihat hal yang diteliti dengan lebih mendalam dan mendetil. Salah satu cara dalam penelitian kualitatif adalah dengan studi kasus (case study). Alasan memakai metode ini adalah karena metode ini dianggap dapat melihat lebih dalam mengenai bagaimana pernanan money politics dalam mengarahkan perilaku pemilih. Penelitian dilakukan kepada pihak � pihak yang memiliki hubungan dengan obyek penelitian yang meliputi Tokoh masyarakat, masyarakat dan tim sukses. Teknik pengumpulan data akan dilakukan dengan tiga cara, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari berbagai bentuk patronase di dalam money politics, bentuk patronase yang terjadi di kampung Ledok Prawirodrijan dalam model vote buying dan club goods. Bentuk patronase yang paling dominan adalah dengan menggunakan uang dan barang. Besaran uang yang mereka berikan antara Rp. 10.000 � Rp. 50.000 untuk perorang/per kepala rumah tangga. Bagi calon legislative, pendistribusian bantuan baik berupa barang dan uang di sesuaikan dengan kebutuhan wilayah yang menjadi basis pemilihan mereka. Barang yang diberikan oleh caleg berupa seragam RT, Paket natal dan Lebaran, peralatan memasak, bantuan berupa bebek. Pendistribusian barang dilakukan oleh para calon legislative sebelum masa kampanye dan pada masa kampanye. Sementara itu, pembagian uang atau fresh money di berikan pada masa tenang dan di hari pemungutan suara. Jika melihat perolehan suara dan melihat bentuk patronase yang diberikan caleg yang menang dan caleg yang kalah, maka dapat dianalisis dengan melihat pendekatan-pendekatan dari perilaku memilih bahwa kebanyakan model patronase yang digunakan oleh para kandidat atau caleg yakni model vote buying dan club goods. Dimana diketahui bahwa model vote buying lebih mengarah kepada pendekatan perilaku memilih rasional diasumsikan bahwa pemilih akan bertindak rasional yakni memberikan suara kepada yang mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya dan menekankan kerugian bagi dirinya dan hal tersebut mendatangkan keuntungan ekonomi yang bersifat individual. Bantuan berupa barang, uang, jasa bukanlah instrument yang berdiri sendiri. Selain bantuan, ikatan kekerabatan, persahabatan, dan kedekatan seseorang dengan figure caleg atau tim sukses dan anggota juga merupakan instrument yang berpengaruh dalam menentukan pilihan si pemilih. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan melihat hasil perolehan suara dengan menganalisis melalui penedekatan patronase dan perilaku memilih maka money politics nyatanya tidak serta merta mempengaruhi perilaku memilih masyarakat. Masyarakat membangun prefensinya sendiri sehingga menerima bantuan atau tidaknya nyatanya tidak mempengaruhi pilihan yang telah mereka buat. Kata kunci: money politics, patronase, perilaku memilih

ABSTRACT System of direct legislative elections in 2014 opened the widespread practice of money politics in the city of Yogyakarta on behalf of charity, gift, hibbah and others. In a difficult situation such as this, money is a campaign tool powerful enough to influence the public to choose certain candidates. Intellectual and personal righteousness does not become a benchmark of eligibility for candidates, but financial wealth that determines winning in the election. With the formulation of the problem of how the influence of money politics in the urban community in the Prawirodirjan village, Gondomanan District, Yogyakarta, researchers will explore the practice of money politics used by the candidates with the methods of patronage. More specifically, this research see money politics in the Prawirodirjanvillage particularly in RT 52 RW 16, 53, 54 Prawirodirjan village, districts Gondomanan, Yogyakarta. The method used is qualitative method that is considered able to see it studied in greater depth and detail. One way in qualitative research is a case study. Reasons for using this method is that the method is considered to be able to see more deeply about how therole of money politics in directing the behavior of voters. The study was conducted to others parties that have a relationship with the object of research that includes community leaders, community and successful team. Techniques of data collection will be done in three ways, namely observation, interviews, and documentation. Of the various forms of patronage in money politics, forms of patronage that occurred in the village in the model LedokPrawirodrijan vote buying and club goods. The most dominant form of patronage is to use money and goods. The amount of money they provide between Rp. 10.000 - Rp. 50,000 per person / per head of household. For prospective legislative, distribution of aid in the form of goods and money are customized to the needs of the territory that became the basis for their selection. Goods given by the candidates in the form of uniform RT, Christmas Package and Eid Package, cooking utensils, aid in the form of a duck. The distribution of goods is done by the legislative candidates before the campaign period and on election day. Meanwhile, the distribution of money or fresh money is given to the quiet period and on polling day. If you see the vote and see the form of patronage given the winning candidate and the candidate who lost, it can be analyzed by looking at the approaches of voting behavior that most models of patronage that used by the candidate or candidates the model of vote buying and club goods. Where it is known that the model leads to a vote buying more rational approach to voting behavior assumed that voters act rationally that gives voice to that bring maximum profit and loss for him and stressed that economic benefit that is individualized. Assistance in the form of goods, money, services is not a stand-alone instrument. In addition to aid, the ties of kinship, friendship, and the proximity of a person with a figure of candidates or team members is also a successful and influential instrument in determining the choice of the voters. It concluded that by looking at the voting results by analyzing through approach patronage and money politics voting behavior then it's not necessarily influence the voting behavior of society. The preference build their own communities so that receive assistance or not in fact does not affect the choice they have made. Keyword : money politics, patronage, vote behavior

Kata Kunci : money politics, patronase, perilaku memilih

  1. S1-2016-299471-abstract.pdf  
  2. S1-2016-299471-bibliography.pdf  
  3. S1-2016-299471-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2016-299471-title.pdf