Laporkan Masalah

RELASI PENGUSAHA DAN BURUH BATIK BERSEKALA KECIL (Studi : Industri Kampung Batik di Desa Kemplong, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan)

ZULFADLI RAHMAN, ANDREAS SOEROSO, Drs., M.S.

2016 | Skripsi | S1 SOSIOLOGI

INTISARI Batik adalah salah satu warisan kebudayaan bangsa Indonesia yang agung. Karena itu pantas jika tanggal 2 Oktober diperingati hari batik untuk menjaga kebesaran namanya. Batik selalu mengalami transformasi sesuai dinamika kelompok masyarakatnya. Oleh karena itu batik tidak saja berhenti sebagai kesenian belaka melainkan sebagai jalan kesejahteraan bagi pelaku batik itu sendiri. Batik bersandar sepenuhnya pada pundak masyarakat awam yang terus mengekspansi pasar tanpa batas. Ini menunjukkan betapa rekatnya industri batik dengan masyarakat. Banyak penelitian yang memfokuskan pada aspek industri batik dan upaya masyarakat yang mengandalkan batik sebagai mata pencaharian. Penelitian ini memfokuskan pada relasi pengusaha dengan buruh. Sudut pandang ini memotret sisi sosial di balik produksi batik. Relasi sosial dalam konteks kerja ini amat penting untuk memicu produksi. Dengan demikian kedekatan antara pengusaha dan buruh harus tetap terjaga. Bagaimana pola dan relasi sosial yang terbangun antara pengusaha dan buruh pada industri batik berskala kecil di Desa Kemplong, Wiradesa, Pekalongan? Pada penelitian ini peneliti menggunakan teori pertukaran sosial yang diusung oleh Goerge Caspar Homans. Secara garis besar teori pertukaran sosial adalah salah satu pisau analisis yang menjelasakan hubungan antar aktor. Hubungan ini menciptakan prilaku tertentu yang membuat para aktor tersebut merasa kecewa atau merasa dihargai/bangga. Teori ini mendeskripsikan bagaimana relasi sosial antar aktor. Dalam konteks ini teori pertukaran sosial sangat cocok untuk menelusuri pola relasi sosial antara pengusaha dan buruh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Penelitian ini berusaha menjelaskan secara mendalam sisi yang belum terungkap. Sebelum penelitian ini dilakukan penulis terlebih dahulu meninjau lapangan untuk memahami sedikit kondisi masyarakatnya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi. Sementara itu sumber data yang diperoleh melalui wawancara mendalam, studi pustaka, dokumentasi lapangan. Selanjutnya data akan dianalisis melalui tiga cara yaitu reduksi data, display data, dan kesimpulan. Hasil Penelitian diketahui bahwa relasi sosial pengusaha dan buruh mendasarkan pada dua aspek. Pertama, berdasarkan profesionalitas. Kedua, sistem sosial masyarakat. Profesionalitas menjadi landasan penting bagi pengusaha dan buruh untuk menyepakati upah dan jam kerja. Loyalitas buruh dan kedermawanan pengusaha adalah dua aspek penting yang saling bertukar di dalam produksi batik sehingga membuat mereka kian erat. Sementara sistem sosial masyarakat adalah salah satu cara di luar kerja yang digunakan oleh pengusaha untuk mendekatkan diri pada buruh. Dengan mengandalkan dua aspek ini relasi antara buruh dan pengusaha berjalan sangat kuat sehingga posisi buruh sebenarnya bukanlah anak buah melainkan partner kerja.

ABSTRACT Batik is one of the cultural heritage of great Indonesia. Therefore appropriate that the day is celebrated on October 2 to keep the big names of batik. Batik is always transformed in accordance community group dynamics. That�s why batik is not only to stop as mere art but rather as a way of welfare for perpetrators of batik itself. Batik relied heavily on the shoulders of community who continue expanding the market indefinitely. This shows how closely the batik industry with the community. Many research has focused on aspects of batik industry and community efforts that rely batik as a livelihood. This study focuses on industrialist relations with workers. This viewpoint photographing social side behind the batik production. Social relations in the context of this work is essential to spur production. Thus closeness between industrialist and workers must stay awake. How patterns and social relations that have developed between industrialist and workers in small scale batik industry in the village Kemplong, Wiradesa, Pekalongan? In this study, researchers used a social exchange theory that promoted by George Caspar Homans. Broadly speaking, the theory of social exchange is one of the knives analysis that identifies relationships between actor. This relationship creates specific behaviors that make the actor feel disappointed or feel appreciated / proud. This theory describes how the social relations between actor. In this context of social exchange theory is suitable to trace the pattern of social relations between industrialists and workers. The method used in this study is a qualitative method. This study seeks to explain in depth the side that has not been revealed. Prior to this research the authors firstly review the field to understand a bit of the condition of society. Data collection techniques used were observation. Meanwhile the source of the data obtained through in-depth interviews, literature study, field documentation. Furthermore, the data will be analyzed in three ways that is data reduction, data display, and conclusion. Research's result is known that the social relations of industrialist and employees based on two aspects. First, based on professionalism. Second, the social system. Professionalism become an important basis for industrialist and workers to agree on wages and working hours. Loyalty workers and industrialist generosity are two important aspects are exchanged in the production of batik making them increasingly tight. While the social system is one of the ways out of work used by industrialist to get closer to the workers. By relying on two aspects of the lines this relations between workers and industrialist is running very strongly that the position of the actual worker is not subordinate but a partner.

Kata Kunci : PENGUSAHA,DAN,BURUH,BATIK

  1. S1-2016-299170-abstract.pdf  
  2. S1-2016-299170-bibliography.pdf  
  3. S1-2016-299170-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2016-299170-title.pdf