Produksi Berbagai Varietas Jagung dalam Tumpangsari Kayu Putih di RPH Menggoran, BDH Playen, KPH Yogyakarta
GALIH NUGROHO, Dr. Priyono Suryanto, S.Hut., M.P
2016 | Skripsi | S1 KEHUTANANKPH Yogyakarta memiliki luas hutan kayu putih sebesar 4.603,72 hektar dengan produksi daun mencapai 4.794,48 ton per tahun. Karakteristik hutan kayu putih di KPH Yogyakarta, yaitu adanya variasi kondisi tegakan salah satunya berada di RPH Menggoran. Hal ini dikarenakan oleh adanya kerusakan tanaman kayu putih (kematian). Untuk mengoptimalkan ruang tumbuh tegakan kayu putih di RPH menggoran salah satu caranya dengan pola tanam tumpangsari model alternate rows. Jagung yang memiliki banyak varietas unggul cukup sesuai untuk ditanam di daerah kering seperti gunung kidul. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui produksi beberapa varietas jagung pada berbagai kondisi tumpangsari kayu putih. Penelitian dilaksanakan di Petak 83 RPH Menggoran, BDH Playen, KPH Yogyakarta. Penentuan lahan penelitian berdasarkan jumlah pohon kayu putih per hektar antara lain kondisi tegakan rapat T1 (n/ha > 2500), sedang T2 (1500 < n/ha < 2500), dan jarang T3 ( n/ha < 1500). Varietas jagung yang digunakan adalah P31 (V1), Bisma (V2), Bima 3 (V3), dan Bima URI (V4). Rancangan penelitian ini Randomized Complete Blok Design (RCBD). Analisis data hasil menggunakan anova dilanjutkan analisis DMRT. Hasil menunjukkan kondisi tegakan kayu putih memberikan pengaruh terhadap produksi semua varietas jagung. Faktor komponen pertumbuhan, berat kering bagian jagung, dan komponen hasil jagung semua varietas mengalami peningkatan hasil mulai dari lahan tegakan kayu putih kondisi rapat, sedang, hingga jarang. Produksi berat biji per hektar jagung tetinggi terdapat pada tegakan jarang dengan varietas P31 sebesar 5,5 ton per hektar dan terendah pada tegakan rapat dengan varietas Bima 3 sebesar 3,22 ton per hektar. Untuk komponen hasil kayu putih yaitu pada berat daun, berat ranting, dan berat daun dan ranting diperoleh hasil tertinggi pada kondisi tegakan sedang.
KPH Yogyakarta has 4603.72 hectares area of Cajuput forests with leaf production reached 4794.48 tons per year. The characteristics of Cajuput forests in KPH Yogyakarta were found some variations of stand condition and one of them occured in RPH Menggoran. It is because of the damage of Cajuput plant (death). To optimize the growing space in stands of Cajuput in RPH Menggoran one of way is to apply the alternate rows pattern as a model of intercropping. Maize has many prime varieties that fit enough to be planted in dry areas such as Gunung Kidul. The purpose of this study is for knowing the production of some varieties of maize under various conditions inside the Cajuput intercropping. This study was conducted in Petak 83 RPH Menggoran, BDH Playen, KPH Yogyakarta. Determination of the study area based on the number of Cajuput trees per hectare, among others stand with healthy condition T1 (n / ha> 2500), moderate condition T2 (1500 <n / ha <2500), and wide apart condition T3 (n / ha <1500). Maize varieties used are P31 (V1), Bisma (V2), Bima 3 (V3), and the Bima URI (V4). This study designed with Randomized Complete Block Design (RCBD). The data results analysis were using ANOVA followed with DMRT analysis. Results showed Cajuput stands conditions gave the effect to the production of all varieties of maize. Component factors of growth, dry weight parts of maize, and maize yield components of all varieties have increased proceeds from land stands of Cajuput in dense conditions, moderate, until wide apart. Production of maize seed weight per hectare is the highest in the stands with wide apart condition with P31 varieties that produce 5.5 tons per hectare and lowest in stand with dense condition with Bima 3 varieties that produce 3.22 tons per hectare. For components of Cajuput is from leaves weight, twigs weight, and the weight of the leaves and twigs obtained the highest results in the condition of the moderate stands.
Kata Kunci : kayu putih, jagung, produksi, Menggoran