Laporkan Masalah

Polemik Kebijakan Penataan Kawasan di Kota Yogyakarta (Studi Kasus : Kebijakan Penataan Kawasan Malioboro menjadi Kawasan Semi Pedestrian)

PUTRI AJI RAHAYU, Prof.Dr.Wahyudi Kumorotomo,MPP.

2015 | Skripsi | S1 ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)

Intisari Sebagai kawasan yang strategis, Malioboro memiliki banyak kegiatan di dalamnya. Kegiatan jasa dan perdagangan, kegiatan wisata, seni dan budaya menjadi kegiatan rutin yang mengisi kawasan tersebut. Banyaknya kegiatan menjadikan kawasan ini terlihat semakin padat dan sesak. Seiring berjalannya waktu, banyak masalah yang muncul di Malioboro. Masalah-masalah yang muncul di Malioboro yaitu masalah kemacetan jalan dan kesemrawutan kondisi yang disebabkan oleh banyaknya parkir dan PKL yang ada di sana. Untuk itu Pemerintah Kota Yogyakarta dan Pemerintah Provinsi DIY merumuskan kebijakan penataan Malioboro yang rencananya akan dijadikan sebagai kawasan semi pedestrian. Namun demikian, walaupun isu penataan ini sudah lama serta adanya masalah yang kian berkembang, penataan Kawasan Malioboro sampai saat ini masih mengalami kendala. Resistensi masih muncul dalam menanggapi kebijakan penataan Kawasan Malioboro. Dalam penelitian ini, aktor yang masih resisten adalah juru parkir. Ada banyak aktor yang ada di Malioboro yang memiliki kepentingan dan sikap masing-masing dalam menanggapi rencana penataan Malioboro. Penelitian ini dilakukan untuk melihat aktor-aktor yang terlibat dalam proses penataan Malioboro serta kepentingannya. Sehingga akan terlihat aktor mana saja yang masih resisten beserta faktor-faktor penyebabnya.

Abstract As a strategic area, there are many activities in Malioboro. Service and trade, tourism, arts and culture. Many activities make this area become more crowded and congested. Now, Malioboro face any problems like road congestion and chaos condition caused by large of parking and PKL in there. Because of that, Yogyakarta City Government and Yogyakarta Provincial Government planning a semi-pedestrian area in Malioboro. However, although this issue has a long time, semi-pedestrian area planning still face problems. One of the problems is resistance of parking community. Many actors in Malioboro like parking community, PKL community, and becak community. They have each interest and responses to the semi-pedestrian area planning on Malioboro. This research saw actors that involved in semi-pedestrian area planning in Malioboro and analyse their interest. And then, it will be seen who are still resistance to the planning and their reasons.

Kata Kunci : Kata kunci : Perumusan kebijakan, penataan kawasan, kepentingan aktor, resistensi./Keywords: policy formulation, regional arrangement, the interests of the actor, resistance.