KEPEMIMPINAN SANJAYA DI KERAJAAN GALUH ABAD KE 8 MASEHI
SHOIM ABDUL AZIZ, MIMI SAVITRI, M.A., PhD.
2016 | Skripsi | S1 ARKEOLOGIKepemimpinan seorang raja merupakan salah satu hal yang menjadi dasar dalam pembabakan sejarah. Hal-hal yang dilakukan raja dapat menjadi bahan kajian. Sumber bahan kajian berasal dari isi prasasti dan naskah kuno. Pada penelitian ini, penulis mengangkat kepemimpinan Sanjaya di kerajaan Galuh. Pada masa Hindu dan Budha ajaran kepemimpinan terdapat pada dua pedoman yaitu Astabrata dan Tritangtu. Permasalahan penelitian adalah bagaimana kepemimpinan Sanjaya di Kerajaan Galuh berdasarkan prasasti Canggal dan naskah Carita Parahiyangan dengan Astabrata dan Tritangtu. Tujuan dari skripsi ini adalah menguraikan kepemimpinan Sanjaya di kerajaan Galuh untuk melengkapi sejarah Indonesia kuno abad 8 Masehi. Tahap pertama yaitu pencarian data tekstual yaitu prasasti Canggal dan naskah Carita Parahiyangan. Tahap kedua adalah mengklasifikasi berdasarkan isi dan memilih hal yang berkaitan dengan kepemimpinan. Tahap ketiga adalah menghubungkan aspek kepemimpinan Sanjaya dengan konsep Astabrata dan Tritangtu. Sanjaya menjalankan kepemimpinan di kerajaan Galuh pada abad 8 Masehi sesuai Astabrata dan Tritangtu. Kedua pedoman tersebut berguna untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Pemimpin dalam ruang apapun dapat menggunakan konsep tersebut sebagai panduan dalam melaksanakan kewajibannya di masyarakat.
Leadership of a king became a basis for make historical chronology. Anyaspects of the king can be study materials. Source material derived from the inscription and manuscript. In this study, author raise Sanjaya leadership on Galuh kingdom. Hindu and buddhist teaching about leadership with two guidelines, Astabrata dan Tritangtu. The research problem is how leadership of Sanjaya in Galuh Kingdom based inscription with Astabrata and Tritangtu. The purpose of this paper is to describe the leadership if Sanjaya on Glauh Kingdom to complement to the ancient history of Indonesia 8th century AD. First step is to search for textual data, Canggal inscription and Carita Parahiyangan manuscript. Second step is to classified based on the content and choose the issues related to leadership. Third step is to connect of leadership of Sanjaya with Astabrata and Tritangtu. Sanjaya run the leadership on Galuh Kingdom in 8 AD in accordance Astabrata and Tritangtu. The purpose of the guideline is for the welfare of society. Everyone in all aspects of society can use it as guidance to implement the obligation. .
Kata Kunci : Kepemimpinan, Sanjaya, Astabrata, Tritangtu.