Lessons Learned: Bank Lending Practices in Indonesia's Palm Oil Industry and What the Country Can Learn from Brazil
SHITA PINA SAPHIRA, Karina Dwi Nugrahati Putri, S.H., LL.M.
2016 | Skripsi | S1 ILMU HUKUMLaju deforestasi di Indonesia, saat ini tercepat di dunia, didorong oleh meningkatnya permintaan minyak sawit dunia (yang mana setengah dari pasokan dunia berasal dari Indonesia). Penelitian hukum normatif-empiris ini fokus pada peranan industri perbankan dalam mendorong perubahan dalam industri kelapa sawit di Indonesia. Pertama, dipertanyakan bagaimana tetap terjadinya pembiayaan produsen kelapa sawit yang telah nyata melakukan hal-hal illegal dalam praktek usahanya dan juga telah terdapatnya kebijakan bank dan pemerintah untuk menghindari transaksi-transaksi seperti ini untuk terjadi. Penulis menemukan bahwa untuk bank yang mensyaratkan sertifikasi RSPO, alasan mengapa para produsen tetap mendapatkan pembiayaan/kredit bank adalah dikarenakan bank terlalu bergantung pada sistem RSPO dan tidak mengambil langkah lebih jauh dalam memastikan kepatuhan klien mereka. Untuk bank yang tidak mensyaratkan sertifikasi RSPO, masalah berasal pada penafsiran hukum mengenai wajib tidaknya bank untuk memastikan kepatuhan klien terhadap hukum lingkungan nasional. Peraturan ini dapat ditafsirkan sebagai hal tidak wajib untuk dilakukan, dan ditemukan bahwa bank-bank Indonesia lebih memilih untuk mengikuti interpretasi yang tidak ketat ini. Rumusan masalah yang kedua fokus pada negara Brasil, yang mana telah memberlakukan beberapa peraturan yang mendukung peningkatan peranan bank dalam mengurangi laju deforestasi di negaranya. Peneliti melihat bahwa penandatangan bank-bank Brazil terhadap Green Protocol di tahun 2009 telah mendorong dialog nasional untuk masalah keuangan berkelanjutan. Maka dari itu, dikarenakan masalah yang ada di Indonesia saat ini adalah kurangnya kemauan dan kesamaan dalam menerapkan kredit berwawasan lingkungan, suatu mekanisme sukarela yang melibatkan ssemua bank di Indonesia ( sebagaimana diterapkan di Brazil) dapat bertindak sebagai sebuah batu loncatan sebelum Indonesia dalam menerbitkan undang-undang keuangan keberlanjutan yang lebih ketat.
Indonesia's rate of deforestation, the fastest in the world, has been driven by the world's increasing demand for palm oil (where half of the world's supply comes from Indonesia). This normative-empirical legal research focuses on the role of banks in pushing for change in Indonesia's palm oil industry. It is firstly questioned, the reason behind the recurring financing of producers despite known illegality in its business practices and despite banks and the Indonesian Government having already adopted policies to prevent transactions such as this from occurring. The author found that for banks that do require RSPO certification, a number of reports have revealed that the reason banks are still financing questionable expansion practices is because they have become too reliant on the RSPO system and takes no further step in ensuring their clients compliance. For banks who do not rely on the RSPO system the problem stems on the banks interpretation of the law, which may be interpreted as to not require them to conduct further environmental compliance assessments. Indonesian banks tends to choose this less-stricter interpretation of the law. The second research question focuses on Brazil, whose banking sector has enacted a number of regulations which supports the increasing role of banks in reducing deforestation rates in the country. This research highlighted that the turnaround of the banking industry in Brazil was Brazil's banking association signatory of the Green Protocol in 2009. This small act has advanced Brazil's domestic dialogue on sustainable finance. Therefore, because the problem that currently exist in Indonesia is lack the will and a level playing field, a similar voluntary mechanism incorporating all banks domiciled in Indonesia should also act as a stepping stone before venturing into issuing more stringent sustainable finance laws.
Kata Kunci : sustainable banking, palm oil, deforestation, perbankan keberlanjutan, kelapa sawit, deforestasi