Pinjaman daerah sebagai salah satu alternatif pembiayaan pembangunan daerah :: Studi kasus kemungkinan daerah Kabupaten Sleman melakukan pinjaman
DIMYATI, Nurlaela, Dra. Sri Handaru Yuliati, MBA
2002 | Tesis | Magister Manajemen
Dengan diterapkannya Undang-Undang Noinor 22 tahun I090 Iclilillig Peinerintah Daerah dan Uiidang-Undang Noinor 25 tahuii 1999 tentang Perimbangan Keuangan Daerah antara Pemerintah Pusat dan Daerah , memberikan pengaruh dalam pengembangan otonomi yang sebenarnya. Dalsun Pasal 79 Undang-Undaiig Noinor 22 Tahun 1999 daii I%sill 3, Iliidang- Undang Nomor 25 Tahun 1999, menyatakan bahwa suinbcr pcncrimaaii dwah dalaiii rangjka peinbiayaan didaerah adalali pendapatan asli dacrah, dana pcrimhaiigaii, pinjaman, dan lain-lain peneriinaan yang sah dan peiiierintah daerali dibcri kc\vcnangaii sepenuhnya untuk mengelolah penerimaan daeralinya scndiri tcriiiasuk pciigcloh ha 11 dari sumber penerimaan dalain bentuk pinjainan daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Sleinan didalani inelakukan piiijanian yang tclah diI;ikul,aii clan inemproyeksikan bcsarnya pinjaiiian yang layak untuk liiiia tahun nictidalang (tiiliiiii 200 1-2005). Data yang digunakan sekunder tahunan dari taliun 1990/ I99 I -2000,yaiiii a. Anggaran Peiidapatan dan Belanja Daerah b. Pendapatan Asli Daerah c. Bagi Hasil PajaldBukan Pajak d. Dana Alokasi Uinuin e. Belanja Rutin f. Sebagian Belanja Pembangunan yang teniiasuk Belanja wajib
Alat analisa yang dipakai yang tcrcantum pada Peraturan Pemerintah Noinor I07 Tahun 2000 nieliputi: b. Untuk mengetahui bcrapa Batas Maksiinal Pinjaman
Hasil Analisis dapat diainbil kesimpulan untuk lima tahun mendatang Keuangan Daerah Kabupaten Sleman mempunyai kemampuan untuk membayar angsuran pinjaman yang telah maupun yang akan dilakukan sesuai PP nonior I07 taliuii 2000. 13csnriiya angsuran yang dapat dibayar tahun 200 1 sebesar Rp9.026,40 j iita daii t a u s mciiiiigkal pada tahun 2005 inencapai Rp12.800,80 juta, scdangkan nilai sckarang dari piiijnniaii dengan tingkat bunga 1 1,75% jangka waktu pinjaiiian 15 tahun, pada taliuii 200 1 scbcsar Rp62.307,20 sainpai tahun 2005 mcningkat menjadi I By implementing law No. 22/1999 about regional government and law No. 25/1999 about proportion of regional finance between central and local gives influence on the real autonomous development In article 79, Law No. 22/1999 and article 2, law No. 25/1999 declare that regional income source in term of regional expenditure is original income of the regency, proportional fund, loans, and the other legal incomes, and regional government has been given completely the authority to manage its own regional income included the income from regonal loan.
This research is aimed to identie a financial potency of Sleman regency in term of managing the loan that has been conducted, and projecting the adequate number of loan for the next five years (from 2001 - 2005). a. Regional budget b. Original income of region c. Divided profit of tax/ non-tax d General allocation fund e. Routine expenditure f. A number of development expenditure included main expenditure 107/2000 comprised: a. To identie how much the Debt Coverage Service Ratio b. To identify the limit of maximum loan
The result of analysis can be concluded that for the next five years the regional finance of %eman Regency has potency to pay both recent loan and next loan based on government regulation No. 107/2000. The charge of installments could be pay R~9~026.4m0i llion, and continuously increased in 2005year to Rp12,800.80 million, whereas the recent value of loan with interest rate of 11,7%, the loan time period for fifteen years, in 2001 year is Rp62,307.20 million and it will increase in 2005 year of Rp86,980.49 million. The maximum limit of loan in 2001 year is Rp90,271.80 before being decreased by former loan and will continuously increase in 2005 year, it will be Rp130,107.00 million
Kata Kunci : Pembiayaan Pembangunan Daerah, Pinjaman, Kabupaten Sleman, regional loans.