Beban Ganda yang Dialami oleh Asisten Fashion dalam Praktek Cultural Intermediaries (Studi Kasus Department Store X, Yogyakarta)
NADYA PUSPITASARI, Soeprapto, Drs., S.U
2015 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIDewasa ini pembangunan mal semakin berkembang di kota Yogyakarta. Selain membawa dampak negatif (seperti kemacetan, berkurangnya ruang resapan air, dan tergusurnya pasar tradisional, dan lain-lain) pembangunan mal juga membawa dampak positif salah satunya adalah penyerapan tenaga kerja. Pemenuhan kebutuhan yang ditawarkan oleh mal sebagian besar adalah pemenuhan kebutuhan yang erat kaitannya dengan fashion. Kondisi tersebut menyebabkan peran asisten fashion sangat diperlukan untuk membantu customer memenuhi kebutuhan fashion mereka. Mengingat mal sebagai industri retail adalah bentuk dari kapitalisme modern saat ini, berarti dampak yang ditimbulkan dari kapitalisme semakin banyak dirasakan juga oleh masyakat khususnya mereka yang bekerja sebagai asisten fashion. Dirasa perlu untuk diteliti. Fokus penelitian ini mengkaji tentang sejauh mana kapitalisme menyebabkan beban, bukan hanya dalam konteks gender tetapi juga dalam praktek cultural intermediaries kepada diri asisten fashion, keuntungan dan kerugian sebagai resiko profesi yang diterima asisten fashion, serta mengetahui bagaimana strategi resistensi dan siasat yang dilakukan oleh para asisten fashion. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilaksanakan di salah satu department store yang berada di dalam mall yang berlokasi di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Pemilihan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampel, informan berasal dari 5 departemen yang berdeda, serta profil sosial (umur, jenis kelamin, dan status sosial dalam keluarga) yang berbeda. Hal ini diterapkan agar penelitian memperoleh hasil penelitian yang valid dan seimbang. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan teknik observasi partisispatif yang sifatnya kilas balik ketika peneliti masih bekerja sebagai asisten fashion, teknik wawancara yang bebas terstruktur, dan dokumentasi. Melalui peraturan penampilan, sistem kerja dan tugas kerja asisten fashion, dapat dilihat bagaimana unsur hegemoni kapitalis melalui Department Store. Hegemoni tersebut dilakukan oleh kapitalis kepada asisten fashion tanpa mereka sadari. Keadaan itu membuat asisten fashion harus: menghadapi resiko kerja (dapat menimbulkan keuntungan dan kerugian), melakukan resistensi atau, serta menerapkan siasat dalam mencari untung. Kaitannya dengan relasi gender, perbedaan kalkulasi rasional mengenai kebutuhan hidup serta perbedaan material, membawa dampak tingkat konsumsi, yang berbeda pada masing-masing jenis kelamin, walaupun konstruksi internalisasi kedalam konsumsi diri mereka sama. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa asisten fashion mengalami beban ganda yang disebabkan oleh resiko pekerjaan dari konstruksi atas barang yang bermuatan simbolik. Komoditi yang dihasilkan bukan sekedar barang, tetapi barang dengan brand. Barang tersebut memiliki nilai, simbol, dan makna yang berdampak secara fisik dan ekonomi bahkan secara mental kepada asisten fashion sebagai orang yang menjajakannya. Hal ini secara secara tidak langsung juga dapat dikatakan sebagai bentuk eksploitasi kemanusiaan karena resiko pekerjaan yang dibangun oleh struktur industri cutural intermediaries.
Recently mall construction is growing in the city of Yogyakarta. Besides bring negative impact (such as: congestion, reduced water absorption, and the displacement of traditional markets and others), mall construction also had a positive impact , one of which is employment. Fulfillment offered by most of the mall is yhe fulfillement of which is closely related to fashion. The condition make the role of fashion assistant is needed to help customers find their fashion needs. Considering the mall as the retail industry is a form of modern capitalism today, means that the impact of capitalism is more felt by society, especially those who work as assistant fashion. So it is important for investigate. Focus of this research is examines the extend to which capitalism led to burden, not only in the context of gender, but also in cultural intermediaries practices to assistant fashion, gains and losses as risk, and to know how strategy and tactics of resistance carried out the asisten fashion. This research uses qualitative method with case study approach were implemented in one department store inside the mall who located in Sleman district, Yogyakarta. The selection of informants in this research was done by using purposive sample, informants come from 5 different departements , and different social profile ( age, sex, and social status within the family). It is applied for obtain valid and balance result. Data collection techniques that are only flashback when researchers are still working as an assistant fashion, free structured interviewing techniques , and documentation. Through regulation appearance, work systems and work assignments fashion assistant , can be seen how the elements of capitalist hegemony is done without knowing assistant fashion. The state made a fashion assistant must face the risk of labor (which can lead to gains and losses), perform resistance, as well as implement the strategy in the search for profit. Relation to gender relations, differences in rational calculation of the necessities of life and material differences have affected the level of consumption, the risk of abuse, and differences tactics in each of sex, although construction internalization into themselves are same consumption. This research resulted conclusion that fashion assistant have a double burden caused by the ocuppational risk by construction of symbolic object. Commodities produced not just product, but product with the brand . Brand have values , symbols, and meanings that affect physically, economy and even mentally to assistant fashion as a person who sell the product. Indirectly it can be called as a form of human exploitation because of occupational risk who developed by the industrial structure of cultural intermediaries.
Kata Kunci : Beban ganda,Cultural Intermediaries,Kapitalisme,Kelas Sosial,Nilai Simbolik,Hegemoni,dan Relasi Gender.