MOTIVASI PERJALANAN BACKPACKING DITINJAU DARI PENGALAMAN PERJALANAN
DHIA RAHMI ANDRINA, Aisah Indati, Dra., M.S.
2015 | Skripsi | S1 PSIKOLOGISelama satu dekade terakhir, pariwisata Indonesia semakin berkembang dalam mempromosikan kegiatan berwisata sehingga orang Indonesia semakin gemar melakukan berbagai macam wisata, salah satunya dengan cara backpacking. Backpacking sebagai salah satu tipe berwisata telah menjadi fenomena global yang berasal dari negara-negara Barat dimana mereka terbiasa melakukan perjalanan selama hitungan bulan mengunjungi daerah yang jauh dari tempat tinggal mereka. Kegiatan backpacking merepresentasikan anak-anak muda yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kebudayaan lokal yang mereka kunjungi. Perbedaan paling menonjol antara backpacker Barat dengan backpacker Indonesia terletak pada rata-rata lama perjalanan backpacking yang dilakukan. Dalam studi Barat, backpacking sering diidentikkan dengan rite-of-passage, serupa dengan karakter transisi pada dewasa muda, namun kegiatan backpacking di Indonesia masih diasosiasikan sebagai jalan-jalan semata. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap motivasi para backpacker dewasa muda Indonesia yang mendorong mereka untuk melakukan kegiatan backpacking, ditinjau dari banyak atau sedikitnya pengalaman perjalanan yang telah mereka alami sebelumnya. Subjek penelitian ini berjumlah 102 orang dan tersebar di seluruh Indonesia, sehingga metode pengambilan data yang paling sesuai adalah secara online. Peneliti menggunakan kuesioner motivasi perjalanan backpacking dengan model pengukuran Likert. Langkah pertama adalah mengidentifikasi dimensi motivasi perjalanan backpacking para backpacker Indonesia. Langkah kedua adalah membagi subjek kedalam dua kelompok pengalaman perjalanan, tinggi dan rendah. Dan terakhir menganalisa hubungan antara motivasi perjalanan backpacking dengan pengalaman perjalanan. Langkah pertama menghasilkan 6 dimensi atau aspek motivasi perjalanan backpacking, yaitu self-development, experiential, social, purposive trip, relaxation, dan drifting. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan antara motivasi perjalanan backpacking dengan pengalaman perjalanan. Dari 6 dimensi atau aspek motivasi perjalanan backpacking, 2 aspek yaitu self-development dan relaxation menunjukkan taraf signifikansi yang dapat diterima, yaitu p=0.01 dan p=0.00. Tidak ditemukan perbedaan yang signifikan pada 4 aspek motivasi lainnya antara kelompok pengalaman perjalanan (KPP) tinggi, dan KPP rendah. Hal ini dapat berarti bahwa aspek motivasi experiential, social, purposive trip, xv dan drifting merupakan inti motivasi backpacker Indonesia sehingga meskipun pengalaman perjalanan backpacking mereka banyak atau pun sedikit, keempat aspek motivasi tersebut mendorong mereka pada untuk melakukan kegiatan backpacking pada kepentingan yang sama.
For the past decade, Indonesian tourism has been becoming more developed in promoting the travel activities, which results in their increasing interest of traveling, one of the way of doing that is by backpacking. Backpacking as a type of traveling has become a global phenomenon, which came from Western countries where they have been used to travel for a long period, months, even years, visiting a region far away from their home. Backpacking activities represent the youth, who influence and getting influenced by the locals they visit. The prominent difference between Western backpackers and Indonesian backpackers is in the average length of stay. In the studies of Western backpackers, backpacking is often associated with the rite-of-passage, similar with the transition character of young adult, whereas backpacking in Indonesia is still associated with leisure traveling. The purpose of this study is to reveal the motivation of Indonesia young adult backpackers to do backpacking, and its relation with whether high or low level of their previous travel experience. There are 102 subjects of this study, which are scattered all around Indonesia, so the most efficient data collecting method is by using online questionnaire. We used backpacking motivation questionnaire with Likert measurement scale. First step was to identify backpackers’ underlying backpacking motivation dimension. Second step was to classify subjects into 2 travel experience group, the high and the low. Lastly, we analized the relationship between backpacking motivation and travel experience. The first step resulted in 6 dimension or aspects of backpacking motivation, which are self-development, experiential, social, purposive trip, relaxation and drifting. The result of this study shows that there is no relationship between backpacking motivation and travel experience. 2 out of 6 dimension, which are self-development and relaxation, show acceptable significance scores (p=0.01 and p=0.00). There is no significant difference on 4 other motivation aspects between the high level travel experience and the low travel experience subjects. This could mean that experiential, social, purposive trip and drifting are the core motivation of Indonesia backpackers in doing backpacking, which means they experience those aspects of motivation in teh same level regardless their level of travel experience.
Kata Kunci : motivasi, pengalaman, backpacking