Graha Seni Budaya di Banda Dengan Pendekatan Regionalisme dalam Arsitektur
ARIANA DESQI, Dr. Ir. Dwita Hadi Rahmi, M.A.
2016 | Skripsi | S1 ARSITEKTURPada dasarnya, Provinsi Aceh kaya akan seni dan budaya tradisional yang diwariskan dari para leluhur. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan waktu, segala bentuk yang bersifat tradisional mulai hilang dari kebiasaan masyarakat Aceh, mulai dari seni, kebudayaan, hingga bentuk arsitektur yang mencerminkan indentitas Aceh. Selain perkembangan zaman dan waktu, masuknya budaya globalisasi yang bersifat kebarat-barat lebih dipilih oleh masyarakat Aceh terutama generasi muda sehingga kebanyakan mulai melupakan apa yang diwariskan oleh leluhur. Salah satu contoh, mungkin bagi beberapa diantara kita yang berada di luar Provinsi Aceh, mengagumi tarian yang disebut Tari Saman. Tarian itu sendiri menjamur mengisi di beberapa kesempatan acara. Hal ini jarang ditemukan di Provinsi Aceh. Selain kurangnya minat terhadap seni budaya tradisional, Provinsi Aceh tepatnya Kota Banda kurang memadai dari segi fasilitas tempat melakukan pagelaran yang mencerminkan arsitektur lokal Aceh untuk dapat mempromosikan warisan leluhur kepada masyarakat Aceh serta wisatawan. Untuk itu perlu adanya sebuah tempat yang mampu mewadahi kegiatan penyelamatan terhadap Seni Budaya Aceh di Kota Banda, dan menciptakan citra bangunan arsitektur lokal, serta dapat mempromosikan kepada wisatawan disamping Islamic Tourism yang sedang ditonjolkan pada saat ini. Melihat tingginya antusias masyarakat di luar Aceh terhadap seni budaya Aceh, wadah penyelamatan seni budaya yang disebut Graha Seni Budaya ini bersifat edukatif untuk wisatawan yang ingin mempelajari seni budaya Aceh, dan juga untuk masyarakat Aceh agar dapat selalu menjaga kelestarian seni budaya agar tidak terlambat dan menyesal dikemudian hari.
Pada dasarnya, Provinsi Aceh kaya akan seni dan budaya tradisional yang diwariskan dari para leluhur. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan waktu, segala bentuk yang bersifat tradisional mulai hilang dari kebiasaan masyarakat Aceh, mulai dari seni, kebudayaan, hingga bentuk arsitektur yang mencerminkan indentitas Aceh. Selain perkembangan zaman dan waktu, masuknya budaya globalisasi yang bersifat kebarat-barat lebih dipilih oleh masyarakat Aceh terutama generasi muda sehingga kebanyakan mulai melupakan apa yang diwariskan oleh leluhur. Salah satu contoh, mungkin bagi beberapa diantara kita yang berada di luar Provinsi Aceh, mengagumi tarian yang disebut Tari Saman. Tarian itu sendiri menjamur mengisi di beberapa kesempatan acara. Hal ini jarang ditemukan di Provinsi Aceh. Selain kurangnya minat terhadap seni budaya tradisional, Provinsi Aceh tepatnya Kota Banda kurang memadai dari segi fasilitas tempat melakukan pagelaran yang mencerminkan arsitektur lokal Aceh untuk dapat mempromosikan warisan leluhur kepada masyarakat Aceh serta wisatawan. Untuk itu perlu adanya sebuah tempat yang mampu mewadahi kegiatan penyelamatan terhadap Seni Budaya Aceh di Kota Banda, dan menciptakan citra bangunan arsitektur lokal, serta dapat mempromosikan kepada wisatawan disamping Islamic Tourism yang sedang ditonjolkan pada saat ini. Melihat tingginya antusias masyarakat di luar Aceh terhadap seni budaya Aceh, wadah penyelamatan seni budaya yang disebut Graha Seni Budaya ini bersifat edukatif untuk wisatawan yang ingin mempelajari seni budaya Aceh, dan juga untuk masyarakat Aceh agar dapat selalu menjaga kelestarian seni budaya agar tidak terlambat dan menyesal dikemudian hari.
Kata Kunci : Arsitektur Regionalisme, Seni Budaya, Banda Aceh