Laporkan Masalah

Petrogenesis dan Proses Pelapukan Batuan Beku Penyusun Candi Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

TITI HAPSARI, Dr. Ir. I. Wayan Warmada.

2016 | Skripsi | S1 TEKNIK GEOLOGI

Candi Prambanan merupakan Candi Hindu terindah yang masuk ke dalam daftar warisan budaya dunia menurut UNESCO. Peninggalan bersejarah ini perlu dijaga agar tetap utuh sehingga dapat menceritakan sejarah masa lampau. Pada kenyataannya, akibat beberapa faktor, salah satunya pelapukan, bangunan ini kini semakin rapuh dan di beberapa bagian mengalami kerusakan. Oleh karena itu penelitian ini dimaksudkan untuk mempelajari lebih lanjut mengenai karakteristik batuan penyusun Candi Prambanan beserta proses pelapukan yang terjadi. Metode analisis yang digunakan meliputi petrografi dan geokimia. Analisis petrografi menunjukkan bahwa andesit di daerah penelitian seluruhnya tersusun oleh plagioklas, klinopiroksen, gelas dan mineral opak serta beberapa mengandung hornblenda. Data geokimia digunakan dalam penentuan nama batuan, seri magma, posisi tektonik dan proses yang berlangsung selama pembentukan batuan, serta indeks pelapukan. Andesit pada daerah penelitian berasal dari magma basalt yang terbentuk pada tatanan tektonik zona subduksi tepatnya pada island arc. Proses diferensiasi merubah komposisi magma asal menjadi lebih asam dengan seri magma kalk-alkali. Proses pelapukan dikontrol oleh faktor internal yang berasal dari batuan itu sendiri seperti struktur dan komposisi serta oleh faktor eksternal salah satunya iklim. Mineral yang mengalami pelapukan terutama adalah mineral-mineral seperti hornblende, piroksen dan plagioklas. Plagioklas yang menyusun andesit umumnya berubah menjadi mineral lempung, sedangkan hornblenda dan piroksen berubah menjadi mineral oksida besi. Pelapukan sebagian besar terjadi disekitar pori batuan. Nilai porositas pada daerah penelitian berkisar antara 9,48% hingga 36,43%, sedangkan nilai Chemical Index of weathering (CIW) berkisar 44,99% hingga 48,01%. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa air hujan serta karakteristik batuan berperan penting pada pelapukan batuan penyusun Candi Prambanan. Tingkat pelapukan batuannya berbanding lurus dengan besarnya porositas batuan.

Prambanan Temple is the finest Hindu temple which is listed in world heritage by UNESCO. This heritage has to be protected to keep it in shape so that the history can be told. In fact, caused by some factors, which one of those is weathering, Prambanan Temple is getting weaker and some parts of it is damaged. Therefore, this research is going to understand more about the characteristic of the rocks of Prambanan Temple and undergo weathering process. Analysis methods for this research are petrography and geochemistry. Petrography analysis shows that andesites are composed by plagioclase, clinopyroxene, glass and opaque minerals and some contains hornblende. Geochemical data is used for determining name of the rocks, magma series, tectonic setting and undergo process on rocks forming, also weathering index. Andesites came from basaltic magma which was formed in subduction zone, exactly in island arc. Differentiation changed parental magma composition to become more felsic and calc-alkaline magma series. Weathering process is controlled by internal factors such as structure and composition of the rocks as well as external factors, for example the climate. Mineral such as hornblende, pyroxene, and plagioclase are the ones which experiences weathering. Plagioclase is commonly changed to clay minerals. Hornblende and pyroxene are changed to iron oxides. Most of weathering occurs around rocks porosity. Porosity of the rocks is about 9,48% to 36,43%, and the Chemical Index of Weathering (CIW) is about 44,99% to 48,01%. This research concluded that rains and rocks characteristics give a great responsibility to the rocks of Prambanan Temple. Degree of weathering is directly proportional to rocks porosity.

Kata Kunci : Prambanan Temple, petrogenesis, weathering, porosity