EVALUASI LAHAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN PERTANIAN TANAMAN PANGAN Kasus di Raumoco Lautem Timor Leste
ANTONIO JOAO DA COSTA, Prof. Dr. Ir. Bambang Hendro Sunarminto, SU; Prof. Dr. Totok Gunawan, MS; Dr. Ir. Sri Nuryani Hidayah Utami, MP., M.Sc
2016 | Disertasi | S3 Ilmu PertanianEvaluasi lahan adalah proses penilaian potensi lahan atau memprediksi kinerja lahan untuk pengunaan tertentu. Prediksi lahan untuk pertanian tanaman pangan diperlukan informasi kualitas dan karakteristik lahan melalui evaluasi lahan terhadap kesuburan tanah maupun kesesuaian lahan. Evaluasi kesuburan tanah dan kesesuaian lahan dalam penelitian ini bertujuan untuk menilai kualitas dan karakteristik lahan, potensi dan kendala kesuburan tanah dan kesesuaian lahan untuk pengembangan tanaman padi dan palawija terutama jagung, kedelai dan kacang tanah. Penelitian ini telah dilakukan evaluasi lahan melalui survei tanah dengan pendekatan sistem satuan lahan pada tingkat semi detil (skala 1:50.000) dan pengelolaan tingkat sedang. Kegiatan survei tanah telah dilaksanakan di Raumoco Lautem, Timor Leste, meliputi sub-distrik Lautem dan Luro sejak bulan Oktober 2013 hingga Januari 2015 pada luas lahan 13.353,5 ha dengan 11 satuan lahan. Satuan lahan sub-distrik Lautem terdiri atas Lalinuk 1 (SPT 5), Lalinuk 2 (SPT 6), Salapunu (SPT 12), Suruwaku (SPT 18) dan Macalodo (101); sedangkan, sub-distrik Luro, meliputi satuan lahan Odafuro (SPT 17), Etanisi (SPT 59), Ailarino (SPT 105), Akawasa (SPT 125), Atecalmor (SPT 126) dan Burugue (SPT 130). Tiap satuan lahan diwakili oleh 1 profil tanah. Sampel tanah dari profil pewakil maupun komposit dianalisis dengan menggunakan seperangkat peralatan dan bahan kimia analisis tanah di Laboratorium Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Hasil evaluasi lahan terdapat dua jenis tanah, yaitu Entisol dan Inceptisol yang berkembang di bawah curah hujan 1.044,7 mm tahun-1, suhu udara rata-rata 26,5oC dengan rejim suhu tanah isotermik dan kelembaban ustik. Entisol mencakup luas lahan 12.607,1 ha (94,4%) dan Inceptisol 746,4 ha (5,6%). Kesuburan tanah tergolong rendah sampai tinggi dengan persentase rendah 18,2%, sedang 63,6% dan tinggi 18,2%. Kendala utama kesuburan tanah adalah kekeringan kelengasan tanah. Kesesuaian lahan untuk tanaman padi dan jagung pada kondisi aktual dengan sistem LPT Bogor terdapat 18,2 % S3rfn, 45,5% N1me, dan 36,3% N2m. Pada kondisi potensial menjadi 27,3% S3mre, 36,4% N1m dan 36,3% N2m. Tanaman kedelai secara aktual terdapat 18,2% S3n, 36,3% N1me dan 45,5% N2m; sedangkan, pada kondisi potensial kelas kesesuaian lahan meningkat menjadi 18,2% S2tmrn, 9,1% S3mre, 36,4% N1m dan 36,3% N2m. Kesesuaian lahan aktual tanaman kacang tanah terdapat 18,2% S3n, 45,5% N1me dan 36,3% N2m; sedangkan, pada kondisi potensial menjadi 18,2% S2mn, 9,1% S3me, 36,4% N1m dan 36,3% N2m. Tanaman padi, jagung, kedelai dan kacang tanah cukup sesuai untuk dikembangkan di sub-distrik Lautem dan Luro terutama satuan lahan Odafuro (SPT 17) dan Suruwaku (SPT 18), kecuali Atecalmor (SPT 126) khusus untuk kacang tanah dengan sistem pola tanam tumpang sari. Masa tanam dapat dua kali dalam satu tahun, bila adanya irigasi tambahan.
Land evaluation is assessing process the land potential or prediction land performance for a particular use. Land prediction for food crops is necessary land quality and characteristics information through the land evaluation on soil fertility and land suitability. Soil fertility and land suitability evaluation in this research aims to assess the land quality and characteristics, the potential and constraints of soil fertility and land suitability for upland rice and pulses crops development in especially maize, soybean and peanut. This research has conducted land evaluation through soil survey system by land units approach at semi-detail level (scale 1: 50,000) and medium of management level. Land surveying activities have been carried out in Raumoco Lautem, East Timor, and covering sub-district Lautem and Luro from October 2013 to January 2015 on area of 13,353.5 ha with 11 land units. The sub-district of Lautem land units consists of Lalinuk 1 (SPT 5), Lalinuk 2 (SPT 6), Salapunu (SPT 12), Suruwaku (SPT 18) and Macalodo (101). The Luro sub-district land units covering Odafuro (SPT 17), Etanisi (SPT 59), Ailarino (SPT 105), Akawasa (SPT 125), Atecalmor (SPT 126) and Burugue (SPT 130). Each land unit as represented by a soil profile. Soil samples from representative's profile and composites has been analyzed using a set of equipments and chemicals for soil analysis at the Soil Science Laboratory of Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada.The results of land evaluation are in two soil types, namely Entisol and Inceptisol that formed under the rainfall is 1,044.7 mm year-1, the average air temperature at 26,5oC with isothermic soil temperature regime and ustic humidity regime. Entisol covers a land area of 12,607.1 ha (94.4%) and Inceptisol is 746.4 ha (5.6%). Soil fertility is low to high with the percentage are low 18.2%, medium 63.6% and higher 18.2%. The main obstacle of soil fertility is soil moisture dryness. Land suitability for rice and maize on the actual conditions by LPT Bogor system are S3rfn 18.2%, N1me 45.5%, and N2m 36.3%. Land suitability classes on the potential conditions are S3mre 27.3%, N1m 36.4% and N2m 36.3%. Soybean crop actually contained by S3N 18.2%, N1me 36,3% and N2m 45.5%; whereas, the land suitability classes on the potential condition is increasing to S2tmrn 18.2%, S3mre 9.1%, N1m 36.4% and N2m 36.3%. The actual land suitability for peanut are S3n 18.2%, N1me 45.5% and N2m 36.3%. On the potential conditions to S2mn 18.2%, S3me 9.1%, 36.4% and 36.3% N1M N2m. The rice, maize, soybean and peanut are quite suitable to be developing in the sub-district of Lautem and Luro in especially on land units of Odafuro (SPT 17) and Suruwaku (SPT 18) by intercropping pattern system. The cropping periods can be twice in one year, if there is an additional irrigation.
Kata Kunci : Kesuburan tanah, kesesuaian lahan, padi dan palawija