PRODUKTIVITAS RUMPUT KONVENSIONAL DENGAN SISTEM SILVOPASTORAL DI JAMBULA TERNATE
ACHMAD GUNTUR, Bambang Suwignyo, S.Pt., M.P., Ph.D.; Nafiatul Umami, S.Pt., M.P., Ph.D.
2015 | Tesis | S2 Ilmu PeternakanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas rumput konvensional yang ditanam pada sistem silvopastoral. Rumput konvensional yang telah ditanam ada dua jenis rumput, yaitu rumput Gajah (Pennisetum purpureum) dan rumput Benggala (Panicum maximum). Sistem silvopastural menggunakan tiga jenis naungan yaitu naungan 78%, naungan 82%, naungan 38%dan tanpa naungan (N0) sebagai kontrol. Penelitian ini menggunakan rancangan RCBD dengan 3 ulangan. Rumput gajah dan rumput benggala yang ditanam dalam 3 blok naungan yang berbeda yaitu: tanpa naungan (naungan 0%), naungan pohon kelapa (naungan 38%), naungan pala (naungan 78%), dan naungan pohon cengkeh (naungan 83%). Penelitian ini telah dilakukan di Kelurahan Jambula Kecamatan Pulau Ternate Maluku Utara, waktu pelaksanaannya dimulai dari Mei - Oktober 2014. Analisis statistik RCBD menunjukkan bahwa umur 40 hari rumput gajah memberikan nilai tinggi tanaman yang lebih tinggi atau tinggi tanaman terus meningkat seiring dengan adanya naungan. Umur 80 rumput benggala memberikan nilai tinggi tanaman yang lebih tinggi atau tinggi tanaman terus meningkat seiring dengan adanya naungan. Umur 40 hari rumput gajah memberikan nilai jumlah daun yang lebih banyak atau jumlah daun terus meningkat seiring dengan adanya nuangan. Umur 80 hari rumput benggala memberikan nilai jumlah daun yang lebih banyak atau jumlah daun terus meningkat seiring dengan adanya nuangan. Umur 40 hari rumput gajah memberikan nilai jumlah anakan yang lebih banyak atau jumlah anakan terus meningkat seiring dengan adanya nuangan. Umur 80 hari rumput benggala memberikan nilai jumlah anakan yang lebih banyak atau jumlah anakan terus meningkat seiring dengan adanya nuangan. Kedua jenis rumput yang ditanam pada penelitian ini menunjukkan hasil yang berbeda, baik pada produksi maupun pada kandungan nutrisi.
This study aims to determine the productivity of conventional grass planted on silvopastoral systems. Conventional grass that has been planted there are two types of grass, the Pennisetum purpureum and Panicum maximum. Silvopastoral system uses three types of shade trees that shade of nutmeg (N1), clove tree shade (N2), the shade of a coconut trees (N3) and without shade (N0) as a control. This study used RCBD factorial design. The main factor is the grass that consists of two types of grasses are Pennisetum purpureum and Panicum maximum and the interaction factor is silvopastoral system consisting of a shade of nutmeg, clove tree shade and the shade of coconut trees. This research has been conducted in the Village Jambula District of Ternate Island Maluku Utara, execution time starting from May - October 2014. RCBD Statistical analysis showed that the age of 40 days Pennisetum purpurem grass provide high value higher plant or plant height increases along with the shade. Age 80 Panicum maximum grass deliver high value higher plant or plant height increases along with the shade. Age 40 days Pennisetum purpureum grass value greater number of leaves or leaf number continues to increase along with the shade. Age 80 days grass Panicum maximum grass value greater number of leaves or leaf number continues to increase along with the shade. Age 40 days Pennisetum purpureum grass value greater number of seedlings or saplings number continues to increase along with the shade. Age 80 days Panicum maximum value greater number of seedlings or saplings number continues to increase along with the shade. The second type of grass grown in this study showed different results, both in production and in nutritional content.
Kata Kunci : Produktivitas, Rumput gajah, Rumput benggala, Silvopastoral/Productivity, Pennisetum purpureum, Panicum maximum, Silvopastoral