Laporkan Masalah

POTENSI AIR DI RESORT PEMANGKUAN HUTAN KATERBAN UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN RUMAH TANGGA MASYARAKAT

TRI WIJAYA, Ir. Sri Astuti Soedjoko

2015 | Skripsi | S1 KONSERVASI SUMBER DAYA HUTAN

Hutan pinus RPH Katerban merupakan areal hutan produksi yang juga memiliki peranan sebagai penyedia jasa lingkungan berupa air. Mata air didalam kawasan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar hutan yaitu mata air Kaliancar, mata air Ketawang, mata air Denansri, mata air Seprau, mata air Banjarsari, mata air Jepati, mata air jambu dan mata air Tuk Songo. Penelitian bertujuan untuk mengetahui besarnya potensi mata air di kawasan RPH Katerban untuk mencukupi kebutuhan air rumah tangga masyarakat sekitar. Penelitian dilakukan di RPH Katerban, Kecamatan Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah. Pengukuran debit mata air dilakukan dengan metode volumetrik pada kedelapan mata air yang mengalirkan untuk ketujuh dusun (Dusun Sleteh, Dusun Katerban, Dusun Rejosari, Dusun Jambu, Dusun Susuri, Dusun Sepanggal dan Dusun Dukuh). Pengukuran kebutuhan air rumah tangga masyarakat sekitar dilakukan dengan pengisian kuisioner dan pengukuran ke rumah-rumah penduduk yang ditentukan sebagai sampel. Berdasarkan hasil pengukuran di musim penghujan besarnya debit yang mengalir dari kedelapan mata air sebesar 20,63 liter/detik, sedangkan pada musim kemarau sebesar 1,28 liter/detik. Berdasarkan hasil perhitungan dari kuisioner, diketahui bahwa pasokan air rumah tangga penduduk pada 7 dusun yang memanfaatkan mata air di kawasan RPH Katerban sebesar 146,88 liter/hari/kapita dengan total penduduk 970 jiwa. Sebaran masyarakat pengguna mata air tidak merata yang dipengaruhi oleh kondisi kawasannya.Imbangan antara kebutuhan air dan ketersediaan pada lokasi penelitian pada musim hujan sebesar 24,16% yang berarti belum mendekati titik kritis, dan 387,7% pada musim kemarau yang berarti sudah sangat kritis. Prediksi pada tahun 2035 diketahui bahwa kebutuhan air penduduk setara dengan 1,92 liter/detik, sehingga imbangan antara kebutuhan air dan ketersediaan saat musim hujan pada tahun 2035 sebesar 26,64 %, nilai tersebut belum mendekati titik kritis, sedangkan pada musim kemarau nilai imbangan sebesar 427,47% yang berarti sangat kritis

The pine forest RPH Katerban is the production forest also had the role as service providers environment of water. The springs in the region that are used by the communities around the forest which Kaliancar Spring, Ketawang Spring, Denansri Spring, Seprau Spring, Banjarsari Spring, Jepati Spring, Jambu Spring and Tuk Sanga Spring. The study aims to determine the potential of the Springs in the RPH Katerban are to fulfill the water needs of households surrounding communities. The study was conducted at RPH Katerban, District Kaligesing, Purworejo, Central Java. The measurement of discharge springs done with the volumetric methods in eighth springs that drain for the seven hamlets (Sleteh, Katerban, Rejosari, Jambu, Susuri, Sepanggal and Dukuh). The measurement of the water needs of households surrounding communities conducted by filling the questionnaires and measurement into people's homes designated as a sample. Based on the results of the measurements in the rainy season the amount of discharge that flows from the eighth springs are 20.63 liters/sec, meanwhile in the dry season are 1.28 liters/sec. Based on the calculations of the questionnaires, note that the household water supply of 7 hamlets that use the spring water in the area RPH Katerban of 146.88 liters/day/capita with a total population are 970 people. Distribution of the communities that are use uneven springs that are affected by the condition of the region. Balance between water demand and availability at the study site during the rainy season amounted to 24.16%, which means not approaching the critical point yet, and 387.7% in the dry season which means it is very critical. The prediction in 2035 is known that the water needs of the population equivalent to 1.92 liters/sec, so the balance between water demand and availability during the rainy season in 2035 amounted to 26.64%, the values have not approached the critical point, whereas in the dry season values balance is 427.47%, which means very critical

Kata Kunci : Mata Air, Debit Air, Kebutuhan Air Rumah Tangga