Pemanfaatan Jaminan Kesehatan Daerah di Kabupaten Kulon Progo (Pendekatan Teori Exit, Voice , dan Loyalty)
HERY PURNOMO, Prof. Dr. Agus Pramusinto, MDA; Dr. Bevaola Kusumasari, M.Si.
2015 | Tesis | S2 Manajemen dan Kebijakan PublikStudi ini membahas tentang pemanfaatan jaminan kesehatan daerah (Jamkesda) di Kabupaten Kulon Progo dengan pendekatan teori Alberch Hirshman yaitu exit, voice, dan loyalty. Ketiga pendekatan ini digunakan sebagai bentuk kontrol dari faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan jamkesda. Studi pemanfaatan jamkesda dianggap penting karena memberikan gambaran pelaksanaan pelayanan kesehatan pasca penerapan Universal Health Coverage. Tiga tujuan utama dari penerapan UHC yaitu kesetaraan dalam akses pelayanan kesehatan, kualitas pelayanan kesehatan cukup baik untuk meningkatkan siapa saja yang menggunakannya, dan perlindungan atas resiko kejatuhan finansial. Jamkesda Kabupaten Kulon Progo di mulai pada tahun 2009 yaitu dengan terbitnya Peraturan Daerah Kabupaten Kulon Progo Nomor 6 Tahun 2009 tentang Sistem Jaminan Kesehatan Daerah. Pengelolaan jamkesda di Kabupaten Kulon Progo mengalami perkembangan yang pesat, hal tersebut dapat dicermati ketika adanya pergantian pemimpin daerah dari Bupati Kulon Progo Toyo Dipo Santoso ke Hasto Wardoyo yang berimplikasi munculnya Peraturan Bupati No 65 Tahun 2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Sistem Jamkesda. Peraturan bupati tersebut merupakan awal di mulainya penerapan Universal Health Coverage di Kabupaten Kulon Progo. Tiga pertanyaan utama dalam penelitian, yaitu bagaimana pemanfaatan program jamkesda di Kabupaten Kulon Progo pada tahun 2013, bagaimana karakter exit dan voice dalam pemanfaatan progam jamkesda, serta bagaimana strategi untuk mempertahankan loyalty.Jenis penelitian yang digunakan adalah analisis data sekunder. Sumber utama penelitian ini adalah data survey Pemetaan Perilaku Komplain Peserta Jamkesda di Kabupaten Kulon Progo yang dilakukan oleh tim dosen Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM bekerjasama dengan TIFA Foundation. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi dan wawancara. Teknis analis data yang dilakukan mengunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan jamkesda pada tahun 2013 menunjukkan bahwa tidak semua masyarakat atau responden menggunakan jamkesda untuk berobat. Faktor predisposisi menunjukkan bahwa masyarakat pengguna jamkesda adalah masyarakat yang berada pada usia produktif, background pendidikan yang rendah, jenis pekerjaan di sektor non formal. Kemampuan sumberdaya menunjukkan pemahaman masyarakat terhadap hak pengguna jamkesda masih sangat rendah.. Karakteristik loyalty dalam pemanfataan jamkesda di Kabupaten Kulon Progo sangat dominan dibanding dengan karakter exit dan voice. Karakter exit terletak pada kelas rawat inap dan kualitas pelayanan kesehatan. Karakter voice, masyarakat yang mengalami ketidakpuasaan menyampaikan keluhan langsung ke petugas di fasilitas kesehatan. Karakteristik loyalty, keterikatan masyarakat yang muncul dikategorikan menjadi dua bentuk yaitu keterikatan berdasarkan kepuasaan dan ketidakpuasaan. Strategi untuk mempertahankan keterikatan pengguna melalui dua cara yaitu menguatkan fungsi voice dan menekan fungsi exit. Pertama, peningkatan partisipasi kelompok masyarakat pada tingkat pendidikan rendah dan menengah dengan penerapan konsultasi publik, dan membuka ruang diskresi petugas layanan yang berada dalam garda terdepan. Kedua, pemerintah daerah beserta jaringannya harus memberikan perhatian pada penerapan total coverage dalam monev pelaksanaan jamkesda. Kata kunci: pemanfaatan jamkesda, karakter exit, karakter voice, karakter loyalty, faktor predisposisi, kemampuan sumberdaya, partisipasi kelompok masyarakat, konsultasi publik, diskresi
This study discusses utilization of regional health insurance (Jamkesda) in the District of Kulon Progo with Alberch Hirshman�s theory that i.e. exit, voice, and loyalty. These three approaches are used as a control form of factors affecting jamkesda utilization. Study of jamkesda utilization is regarded important because it gives an image of health service implementation after Universal Health Coverage application. Three main goals of UHC application are (1) equality in accessing health service, (2) good health service quality to improve the users, and (3) protection of financial fall risk. The District of Kulon Progo Jamkesda is started in 2009 with the publication of The District of Kulon Progo Regional Regulation Number 6 Year 2009 about Regional Health Insurance System. Jamkesda management in the District of Kulon Progo develops rapidly which can be observed when there is local leader transfer from Regent of Kulon Progo Toyo Dipo Santoso to Hasto Wardoyo that implication the emergence of Regent Regulation Number 65 Year 2011 about Jamkesda System Implementation Instruction. This regent regulation is the beginning of Universal Health Coverage application in the District of Kulon Progo. Three main questions in this research are (1) how the utilization of jamkesda program in the District of Kulon Progo in 2013 is, (2) how exit and voice characters in jamkesda program utilization are, and (3) how the strategies to maintain loyalty are. Type of research used is secondary data analysis. This research main source is Pemetaan Perilaku Komplain Peserta Jamkesda di Kabupaten Kulon Progo survey data done by Department of Public Policy and Management Faculty of Social and Political Sciences UGM lecturer team cooperating with TIFA Foundation. Data collecting technique is done by using documentation and interview technique. Data analysis technique done is descriptive analysis. Research results show that not all of people or respondents using jamkesda for their medication in 2013. Predisposing factor shows that jamkesda users people are people in productive age, low educational background, and working in non-formal sector. Enabling resources show people understanding toward jamkesda users right is still very low. Loyalty characteristic in utilizing jamkesda in the District of Kulon Progo is very dominant compared to exit and voice characters. Exit character is located at inpatient class and health service quality. Voice character, dissatisfied people deliver their complaint directly to the health facilities staffs. Loyalty character, people attachment arisen is categorized into two forms i.e. attachment based on satisfaction and dissatisfaction. Strategy to maintain users attachment is by two ways i.e. strengthening voice function and suppressing exit function. First, participation improvement of low and middle educated people by implicating public consultation and opening discretion space of service officers in the frontline should be done. Second, regional government and their networking must pay attention to total coverage in jamkesda implementation�s monitoring and evaluation. Keywords: jamkesda utilization, exit character, voice character, loyalty character, predisposing factor, enabling resources, people participation, public consultation, discretion
Kata Kunci : pemanfaatan jamkesda, karakter exit, karakter voice, karakter loyalty, faktor predisposisi, kemampuan sumberdaya, partisipasi kelompok masyarakat, konsultasi publik, diskresi