BULLYING DAN DEPRESI PADA REMAJA SMA DI KOTA YOGYAKARTA
GITRY MARELA, Dr. dr. Carla R. Marchira, Sp.KJ(K); Drs. Abdul Wahab, MPH
2015 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Depresi merupakan penyebab nomor satu penyakit dan kecacatan pada remaja. Secara global, diperkirakan 350 juta orang menderita depresi. Prevalensi gengguan mental emosional usia 15 tahun keatas, penduduk kota Yogyakarta memiliki prevalensi diatas nasional. Peristiwa negatif ketika berinteraksi dengan teman sebaya, komunikasi yang buruk dan penolakan dari teman sebaya dapat meningkatkan kecenderungan untuk mengalami depresi pada remaja. Tujuan: Mengetahui perbedaan kejadian depresi pada remaja SMA yang mengalami bullying dan tidak mengalami bullying di Kota Yogyakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional. Sampel penelitian remaja SMA di Kota Yogyakarta sebanyak 210 orang. Variabel bebas bullying, variabel terikat depresi dan variabel luar jenis kelamin, kelas dan status sosial ekonomi. Analisis data meliputi: analisis univariabel, analisis biavariabel dengan uji Chi-square dan analisis multivariabel dengan uji regresi logistik. Hasil: Analisis bivariabel menunjukkan hubungan yang bermakna antara bullying dengan depresi. Remaja yang mengalami bullying berpeluang 1.5 kali lebih besar mengalami depresi dibandingkan dengan remaja yang tidak mengalami bullying. (RP 1.57; CI 95% 1.10-2.22). Analisis multivariabel menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara bullying dengan depresi setelah dikontrol variabel jenis kelamin dan kelas (OR 2.53; CI 95% 1.39-4.61). Remaja yang mengalami bullying berpeluang 2.5 kali lebih besar mengalami depresi setelah dikontrol dengan variabel jenis kelamin dan kelas. Kesimpulan: Kejadian depresi pada remaja SMA yang mengalami bullying lebih tinggi dari pada remaja yang tidak mengalami bullying.
Background: Depression was the number one cause of disease and disablement in adolescents. Globally, it was estimated 350 million people suffered from depression. The prevalence of mental emotional disorder was at age 15 years or older, the population of Yogyakarta city had over national prevalence. Negative incidents when interacted with peers, poor communication and rejection from peers could increase the tendency to suffered depression in adolescents. Objective: Determine the differences in the incidence of depression in high school adolescents who received bullying and who did not received bullying in Yogyakarta city. Method: This study used a cross-sectional design. The research involved 210 high school adolescents in Yogyakarta city. Independent variable was bullying, dependent variable was depression and external variables were gender, grade and socioeconomic status. Data analysis included: univariable analysis, bivariable analysis used Chi-square and multivariable analysis used logistic regression. Results: Analysis of bivariable showed a significant relationship between bullying with depression. Adolescents who received bullying 1.5 times greater potentially become depressed than adolescents who did not received bullying (RP 1.57; CI 95% 1.10-2.22). Multivariable analysis showed that there is a significant relationship between bullying with depression after controlled for variable of gender and grade (OR 2.53; CI 95% 1.39-4.61). Adolescents who received bullying 2.5 times greater potentially become depressed after controlled for variable of gender and grade. Conclusions: The incidence of depression in high school adolescents who received bullying was higher than adolescents who are not received bullying.
Kata Kunci : Kejadian depresi pada remaja SMA yang mengalami bullying lebih tinggi dari pada remaja yang tidak mengalami bullying/ depression, bullying, adolescents