HUBUNGAN ANTARA KADAR HEMOGLOBIN DAN KEJADIAN GANGGUAN KOGNITIF PADA PASIEN HIV/AIDS
SILVI AMELIA, dr. Sekar Satiti, Sp.S(K).; Dr. dr. Ismail Setyopranoto, Sp.S(K)
2015 | Tesis-Spesialis | SP ILMU PENYAKIT SYARAFPrevalensi HIV di beberapa provinsi di Indonesia telah melebihi 5% secara konsisten, mengantarkan Indonesia dari negara low level epidemic menjadi concentrated level epidemic. Angka kejadian gangguan kognitif pada pasien HIV cukup tinggi (>50%) dan sudah bergeser dari gejala yang berat menjadi ringan, sehingga kadang sering tidak terdeteksi jika tidak dilakukan asesmen neurokognitif secara formal. Anemia merupakan kelainan hematologi yang paling sering ditemukan pada penderita HIV dan dapat meningkatkan risiko terjadinya demensia atau gangguan kognitif. Penelitian ini bertujuan mencari hubungan antara kadar hemoglobin dan kejadian gangguan kognitif pada pasien HIV/AIDS. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross-sectional (potong lintang) yang melibatkan 96 pasien HIV/AIDS yang datang ke poliklinik Edelweis maupun rawat inap di RSUP Dr. Sardjito. Kadar hemoglobin merupakan variabel bebas dan gangguan kognitif merupakan variabel tergantung. Setelah dilakukan analisis statistik didapatkan hasil persentase kejadian gangguan kognitif pada populasi penelitian ini sebesar 52,1%, dengan domain kognitif yang paling banyak terganggu adalah domain memori. Hasil analisis bivariat didapatkan kadar hemoglobin dan usia memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian gangguan kognitif pada pasien HIV/AIDS sedangkan variabel lain seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan, lamanya menderita HIV/AIDS, terapi ARV dan angka trombosit tidak bermakna secara statistik. Pada analisis multivariat didapatkan hasil bahwa hanya kadar hemoglobin yang secara independen mempengaruhi kejadian gangguan kognitif. Kesimpulan penelitian adalah kadar hemoglobin dan usia memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian gangguan kognitif pada pasien HIV/AIDS.
The prevalence of HIV in some countries in Indonesia have reached 5%, bring Indonesia from low level epidemic to concentrated level epidemic country. The prevalence of cognitive impairment in patient with HIV is also high (>50%) and it has shifted from severe to mild symptoms, so it is difficult for clinician to identify this cognitive impairment if there is no specific neurophysichology examination. Anemia is the most common haematology disorder happened in patient with HIV/AIDS and it can increase the prevalence of cognitive impairment. The objective of this study is to find correlation between level of hemoglobin and cognitive impairment in patients with HIV/AIDS. This study used a cross sectional study, involving 96 patients with HIV/AIDS, who routinely check-up in Edelweis clinic and hospitalize in ward of Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta. Level of hemoglobin is dependent variabel and cognitive impairment is independent variabel. After statistic analysis we found that the overall prevalence of cognitive impairment was 52,1%, with memory was the common domain disturbed. In bivariate analysis we found that level of hemoglobin and aging had significant correlation with cognitive impairment in patient with HIV/AIDS, whereas there were no significant risks defined from gender, education, ART and level of platelet. In multivariate analysis we found that level of hemoglobin independently had a strong association with cognitive impairment. Conclusion of this study is level of hemoglobin and aging are associated with cognitive impairment in patients with HIV/AIDS.
Kata Kunci : hemoglobin level, cognitive impairment, HIV/AIDS