Laporkan Masalah

HUBUNGAN KEHAMILAN USIA REMAJA DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 2015

EDY MARJUANG PURBA, Prof. Dr. M. Hakimi, SpOG (K), PhD; drg. Theodola Baning R, M.Kes

2015 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang: Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Kabupaten Gunungkidul meningkat 3 tahun terakhir. Kehamilan usia remaja yang dianggap sebagai salah satu faktor risiko BBLR juga cukup tinggi (372 kehamilan) pada tahun 2014 bahkan yang tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kehamilan usia remaja dengan kejadian BBLR di Kabupaten Gunungkidul. Metode: Penelitian ini adalah observational dengan desain kohort retrospektif. Total sampel 394 yang terdiri dari 197 kelompok studi dan 197 kelompok kontrol. Kelompok studi adalah ibu hamil yang berusia remaja (<20 tahun) sedangkan kelompok kontrol adalah ibu hamil yang berusia dewasa (�20 tahun) dimana kedua kelompok melahirkan bayi lahir hidup. Sampel kelompok studi diambil dari semua puskesmas yang memiliki pencatatan lengkap dan sampel kontrol diambil dengan systematic random sampling. Penelitian ini menggunakan data sekunder dan analisis hubungan antar variabel menggunakan uji Chi-square dan regresi binomial. Hasil: Dari 197 kehamilan usia remaja, 59 orang (29,9%) melahirkan BBLR sedangkan dari 197 kehamilan usia dewasa, 27 orang (13,7%) melahirkan BBLR. Analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara kehamilan usia remaja dengan kejadian BBLR (RR=2,19; 95%CI=1,45-3,29). Variabel luar yang berhubungan dengan kejadian BBLR adalah Kekurangan Energi Kronik (KEK) (RR=2,27; 95%CI=1,56-3,29), status anemia (RR=3,00; 95%CI=2,06-4,38), dan kunjungan antenatal care (ANC) (RR=1,92; 95%CI=1,30-2,84) sedangkan tingkat pendidikan dan hipertensi tidak berhubungan. Analisis multivariat tetap menunjukkan hubungan yang bermakna antara kehamilan remaja dengan kejadian BBLR (RR=1,72; 95%CI=1,15-2,58). Kesimpulan: Kehamilan usia remaja berhubungan dengan kejadian BBLR tanpa maupun disertai variabel KEK dan anemia. Ibu dengan KEK dan anemia meningkatkan probabilitas melahirkan BBLR khususnya pada ibu usia remaja. Diharapkan untuk melakukan pemeriksaan kehamilan khususnya pengukuran lingkar lengan atas (LILA) dan Hb secara teratur untuk mengontol dan mencegah ibu dari KEK dan anemia khususnya ibu usia remaja karena mereka memiliki risiko yang lebih besar melahirkan BBLR. Perlu juga dilakukan penyuluhan risiko kehamilan usia remaja ke sekolah tingkat SLTP maupun SLTA serta konseling tentang penundaan kehamilan bagi ibu yang menikah pada usia <20 tahun.

Background: Low Birth Weight (LBW) infants in Gunungkidul increased in the last three years. Teenage pregnancy considered as an important risk factor for LBW is also quite high (372 pregnancies) in 2014 even the highest in Yogyakarta. The study aimed to determine association between teenage pregnancy and LBW in Gunungkidul District. Method: The study was observational analytical with retrospective cohort design. Total sample was 394 consisting of 197 exposured and not exposure respectively. The exposured group were pregnant women aged teenage(<20 years) while not exposured group were pregnant women aged adults (�20 years) and the both gave birth to baby born alive. Exposured group were taken from all health centers that had complete recording whereas not exposure group were taken with systematic random sampling. The study used secondary data and did unvariable, bivariable, stratification, and multivariable analysis. Results: Of 197 teenage pregnancies, 59(29.9%) gave birth to LBW while of 197 adult pregnancies, 27(13,7%) gave birth to LBW. Bivariate analysis showed that there was a significant association between teenage pregnancy with LBW (RR=2.19; 95%CI=1.45-3.29). External variables associated with LBW were chronic energy deficiency (CED) (RR=2.27; 95%CI=1.56-3.29), anemia (RR=3.00; 95%CI=2.06-4.38) and antenatal care (ANC) (RR=1.92; 95%CI=1.30-2.84), while education level and hypertension did not associate with LBW. The result of multivariate analysis still showed significant association between teenage pregnancy and LBW (RR=1.72; 95%CI=1.15-2.58). Conclusion: Teenage Pregnancy was associated with LBW without or with other variables (CED and anemia). Mothers who had CED and anemia further increased the probability to give birth LBW infant, especially in the teenage mother. Required to do more intensive prenatal care to teenage pregnancy, particularly to measure mid upper arm circumference and Hb and regularly to control and prevent the mother from CED and anemia) because they have a greater risk to give birth LBW infant. It was also suggested to do elucidation or counseling about the risk of teenage pregnancy to junior high schools and senior high schools as well as counseling about delay pregnancy for mothers who married aged <20 years.

Kata Kunci : Kehamilan usia remaja, BBLR, KEK, anemia, Kabupaten Gunungkidul

  1. S2-2015-353107-abstract.pdf  
  2. S2-2015-353107-tableofcontent.pdf  
  3. S2-2015-353107-title.pdf