Laporkan Masalah

RESPONSIVITAS GENDER DALAM PROSES PEMBERDAYAAN OLEH YAYASAN ANNISA SWASTI (Studi Pada Sekolah Kepemimpinan Buruh Gendong Pasar Beringharjo)

PRADITA D. MUTIARA, Dr. Ambar Widaningrum, MA

2015 | Tesis | S2 Manajemen dan Kebijakan Publik

Buruh gendong adalah salah satu representasi pekerjaan sektor informal yang mayoritas dilakukan oleh perempuan. Pekerjaan ini hanya mengandalkan kekuatan tubuh semata dan seringkali dipilih karena tidak membutuhkan pendidikan ataupun keahlian tertentu. Selain itu pekerjaan ini juga muncul karena adanya tuntutan ekonomi yang semakin meningkat dan tidak diimbangi dengan akses pendidikan yang lebih besar bagi kaum termarjinal. Dalam konteks ini adalah perempuan, karena selama ini mereka masih sering mengalami diskriminasi dalam mengakses sumberdaya-sumberdaya negara. Melihat kealphaan negara dalam memberikan perhatian terhadap nasib buruh gendong perempuan, maka Yasanti (Yayasan Annisa Swasti) hadir untuk mengisi celah tersebut. Dengan mengakomodir para buruh gendong perempuan yang bekerja di Pasar Beringharjo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, mereka berusaha untuk kembali meningkatkan kesadaran kaum perempuan akan hak-hak mereka sebagai seorang perempuan maupun sebagai seorang buruh gendong. Oleh sebab itu munculah sebuah kegiatan yang dinamakan �Sekolah Kepemimpinan Buruh Gendong�. Lantas terbersit pertanyaan mendasar tentang bagaimana sesungguhnya kegiatan ini dilaksanakan. Bagaimana responsivitas gender pada kegiatan ini dan sudahkah kegiatan ini memberikan manfaat yang sesuai dengan tujuan awal. Untuk menjawab pertanyaan ini maka Teknik Analisis Longwe digunakan sebagai pedoman utama. Teknik Analisis Longwe digunakan untuk melihat sejauh mana dimensi-dimensi pemberdayaan berhasil dipenuhi. Pemenuhan terhadap dimensi kesejahteraan, akses, kesadaran kritis, partisipasi dan kontrol, digunakan sebagai tolak ukur untuk melihat responsivitas gender pada sebuah program/ kegiatan Hasil temuan pada akhirnya diperoleh. Kegiatan Sekolah Kepemimpinan Buruh Gendong telah responsive gender dengan memberikan pemenuhan terhadap dimensi akses, kesadaran kritis dan partisipasi. Walaupun telah responsive gender, akan tetapi bukan sebuah jaminan bahwa kegiatan ini akan mampu memberikan manfaat yang sesuai dengan tujuan awal. Kegiatan ini seharusnya mampu memberikan manfaat dengan meningkatkan dimensi kesejahteraan dan kontrol bagi buruh gendong perempuan. Namun kenyataannya hingga saat ini tujuan tersebut masih perlu melalui proses yang cukup panjang.

Carrying Workers is one of representation of informal sector jobs which done by women. This job just are rely on physical strength and often chosen because it does not require any particular skill or education. Besides this work also arise because of the demands of the growing economy and low access of education towards the marginal community. In this context the marginal community is the women, because during this time they still suffer from discrimination to access the resources in this country. Concern on the mission in giving attention to the fate of women carrying workers, then Yasanti (Yayasan Annisa Swasti) present to fill the gap. By accommodating women carrying workers working in Beringharjo, Special Region of Yogyakarta, they are trying to re-raise the awareness of women about their rights as a woman and as a carrying worker. Therefore they emerge an activity which is called " Leadership School for Carrying Workers ". Then dawned the fundamental questions about the real implementation of this activity, about the gender responsiveness in these activities and the benefits of this activities that should be accordance with the original purpose. The Longwe Analysis Techniques used as the main guideline to answer it all. Longwe analysis technique is used to see the extent of the dimensions of empowerment that is success. Compliance toward the dimensions of well-being, access, critical awareness, participation and control, used to see the gender responsiveness in a program or activity The findings ultimately obtained. Leadership School for carrying workers have been gender responsive by providing compliance towards the dimensions of access, critical awareness and participation. Although it has a gender responsiveness, but not a guarantee that these activities will be able to provide benefits in accordance with the original purpose. This activity should be able to provide benefits by increasing the dimensions of well-being and control for women carrying workers. But in fact, there are still need to go through a long process to achieve the purpose.

Kata Kunci : Gender Responsiveness, Longwe Analysis, Carrying Workers, Annisa Swasti Foundation


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.