Laporkan Masalah

ANALISIS GLOBAL VALUE CHAIN TERHADAP INTERNASIONALISASI BATIK DI INDONESIA (Studi Kasus: Batik Pekalongan, Solo, Yogyakarta dan Batik Lasem)

APRILIA RESTUNING TUNGGAL, Drs. Riza Noer Arfani, MA

2015 | Tesis | S2 Ilmu Hubungan Internasional

Abstrak Lasem merupakan salah satu daerah yang terletak di pantai utara pulau Jawa. Dimana menurut beberapa ahli sejarah merupakan tempat pendaratan pertama kali para pedagang dari Tionghoa di tanah Jawa. dari Lasem kemudian menyebar ke Kudus, Demak, Semarang, Tuban, Gresik dan Surabaya. Akulturasi budaya yang sudah berjalan lama menghasilkan budaya lokal baru di daerah Lasem, salah satunya adalah batik tulis Lasem. batik tulis Lasem merupakan salah satu jenis kain batik yang dihasilkan oleh para pengrajin batik di daerah Kecamatan Lasem dan sekitarnya di Kabupaten Rembang. kain batik tulis Lasem ini merupakan motif gabungan dari budaya Cina-Jawa serta memiliki ciri khas warna merah darah ayam yang konon tidak dapat ditiru oleh pembatik dari daerah manapun. Dilihat dari segi motif, warna dan polanya batik Lasem memiliki kualitas yang sangat bagus, namun di pasar internasional, batik Lasem belum memiliki tempat serta sulit berkembang. Penelitian ini mencoba untuk menjawab mengapa industri batik Lasem belum mampu menembus pasar internasional serta bagaimana upaya pemerintah daerah Kabupaten Rembang dan pihak swasta dalam meningkatkan daya saing batik Lasem. Dengan konsep GVC serta melakukan studi kasus terhadap batik Pekalongan, Solo dan Yogyakarta maka dapat diketahui bahwa batik Lasem belum menembus pasar internasional disebabkan karena belum terciptanya proses upgrading dan governance secara baik. Sedangkan upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Rembang dalam meningkatkan daya saing batik Lasem dinilai belum tepat.

Lasem is one of regions located in north coast of Java Island. Based on some historians, that place is a landing place of traders from Tionghoa in Java for the first time. From Lasem, it then spreads to Kudus, Demak, Semarang, Tuban, Gresik and Surabaya. Acculturation that has been longstanding produces new local culture in Lasem, one of them is Lasem written batik. Lasem written batik is one of batik fabric types produced batik artisans in Lasem District and the surrounding in Rembang Regency. Lasem written batik fabric is combined motifs from Chinese and Javanese cultures and it has typical of red color of chickens blood that purportedly cannot be imitated by batik artisans from any other region. Seen from the motif, the color, and the pattern, Lasem batik has very good quality, but in the international market, Lasem batik still has no place and it is difficult to be developing. This research tries to answer why Lasem batik industries have not been able to penetrate international market and how the efforts of local government of Rembang Regency and private sectors in improving competitiveness of Lasem batik. By the concept of GVC and conducting case. study towards Pekalongan, Solo, and Yogyakarta batiks, it will be known that Lasem batik has not been able to penetrate international market because there has not been the creation of upgrading and governance processes well. Meanwhile, the efforts that have been performed by local government of Rembang Regency in improving competitiveness of Lasem batik are considered not appropriate.

Kata Kunci : Batik, Lasem, Pekalongan, Solo, Yogyakarta, GVC, Governance, Upgrading, Daya saing dan Internasionalisasi.