Laporkan Masalah

HUBUNGAN ANTARA FUNGSI EKSEKUTIF DENGAN LAMA HEMODIALISA RUTIN PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK

NURITA HIDAYATI, dr. Abdul Gofir, Msc.,Sp.S(K).; dr.Imam Rusdi, Sp.S(K)

2015 | Tesis-Spesialis | SP ILMU PENYAKIT SYARAF

Prevalensi terjadinya gangguan fungsi eksekutif pada penyakit ginjal kronis terjadi sekitar 38% pada 80 pasien setelah 24 bulan menjalani hemodialisis. Penelitian mengenai hubungan lama menjalani hemodialisis rutin gangguan fungsi eksekutif belum pernah dilakukan di Indonesia. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah lama hemodialisis lebih dari 24 bulan lebih meningkatkan resiko terjadinya gangguan fungsi eksekutif dibanding yang kurang dari 24 bulan. Metode penelitian menggunakan potong lintang. Subjek penelitian didapatkan dari pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta. Sampel diambil secara berurutan dan diwawancarai menggunakan kuisioner terstruktur dan dilakukan dari Agustus 2014 sampai Februari 2015. Gangguan kognitif menggunakan alat ukur Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia (MoCA-Ina) dan Trail Making B Test (TMT B). Uji hipotesis analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan uji t, sedangkan analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Jumlah subjek penelitian yang masuk dalam kriteria inklusi sebesar 58 subjek, terdiri dari 33 (56,9%) subjek laki-laki dan 25 (43,1%) subjek perempuan. Analisis bivariat lama hemodialisis ruti lebih dari 24 bulan signifikan meningkatkan risiko gangguan fungsi eksekutif dengan RP=5,824 (95%CI 1,062,003). Variabel lain yang bermakna signifikan meningkatkan risiko gangguan fungsi eksekutif adalah usia, durasi hemodialisis dan hipotensi selama dialisis. Hasil analisis multivariat variabel independen yang bermakna secara signifikan terhadap gangguan fungsi eksekutif adalah usia (95%CI 1,737-685,190; p=0,020; RP=34,499). Lama hemodialisis rutin lebih dari 24 bulan pada pasien penyakit ginjal kronis lebih meningkatkan risiko terjadinya gangguan fungsi eksekutif dibanding yang kurang dari 24 bulan.

The prevalence of executive disfunction in chronic kidney disease occurs about 38% from 80 patients after twenty four month haemodialisis treatment. The research about the lenght of hemodialysis with executive dysfunction has never been done in Indonesia before. The aim of this reasearch is to know wether the hemodialysis that more than twenty four months increase the risk of executive dysfunction compare to hemodialysis that less than twenty four months. The method of this study is cross-sectional. The subjects are patients with chronic kidney disease that undergoing hemodialysis at RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Samples were taken in sequence and were interviewed using a structured questionnaire and sample taken from August 2014 until February 2015. Cognitive impairment using a measuring instrument Montreal Cognitive Assestment Indonesian version (MoCA-Ina) and Trail Making Test B (TMT). The bivariate analysis of hypothesis using Chi-square and t-test, while multivariate analysis using logistic regression. The number of subjects that elligable with inclusion criteria were 58 subjects, consisting of 33 (56,9%) male and 25 (43,1%) female. Bivariate analysis of hemodialysis that more than twenty months showed significant increase of executive dysfunction with PR 5,824 (95% CI 1,060 to 32,003). Other variables that also significant with executive dysfunction were age, duration of hemodyalisis and hypotension during dialysis. The result of independet variables of multivariate analysis that also showed significant of executive dysfunction is age (95% CI 1,737-685,190; p= 0.020; PR=34,499). The hemodialysis that more than twenty four months increased the risk of executive dysfunction compared to hemodialysis that less than twenty four months.

Kata Kunci : Chronic kidney disease, hemodialysis, executive dysfunction Correspondence: Nurita Hidayati


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.