Laporkan Masalah

POLITICOTAINMENT DALAM MEDIA TELEVISI (Studi Analisis Naratif Politik Entertainment Dalam Talkshow Jelang Pilpres 2014 Di Metro Tv dan TV One)

HERFRIADY, Dr.Phil. hermin Indah Wahyuni;Dr.Budiawan

2015 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan Media

Program talkhsow media televisi menempatkan Pilpres 2014 sebagai panggung politik dan hiburan. Konstelasi politik ditengah kepentingan media menjadi hal yang menarik untuk dikaji. Dalam Pilpres 2014 ada banyak peristiwa baru yang menarik untuk dikaji, namun pada penelitian ini penulis mencoba mengkaji tentang bagaimana politik media bermain melalui program talkshow yang cenderung mengedepankan pada aspek hiburan. Penelitian tentang politik media bukan sesuatu yang baru untuk dianalisis, namun politik media pada Pilpres 2014 ini menjadi menarik ketika hanya ada dua pasangan Capres sehingga kesan head to head dan ini merupakan Capres baru tidak ada incumbent bertarung pada Pilpres 2014. Penelitian ingin mengungkapkan tentang bagaimana struktur naratif dalam program talkshow dikonstruksi media sebagai panggung politik dan hiburan dalam perhelatan politik Pilpres 2014. Penelitian ini meggunakan program talkshow di Metro Tv dan TV One sebagai objek kajian. Sedangkan isu diangkat adalah tentang bagaimana politik dan hiburan dalam talkshow ini bermain yang juga terselubung kepentingan politik Capres. Untuk mengelaborasi ini maka peneliti menggunakan studi analisis naratif pemikiran Hellen Fulton. Peneliti melakukan analisis teks yang didapat melalui hasil transkrip diskusi dalam program talkshow. Peneliti menggunakan pemikiran tentang konsep politicotaiment dari Kristina Reigert. Teori menjelaskan politik media yang mengedepankan aspek hiburan ketimbang subatansi dari maateri. Kedua tentang stuktur naratif dalam konsep ini mencoba menjelaskan bagaimana teks secara sekuensial diorganisir sehingga audio dan video yang muncul tidak begitu saja tampil secara acak. Teks yang terorganisir inilah kemudian dapat memberikan ruang untuk memulai gagasan, ide, tema, dan bahkan karakter-karakter tertentu untuk bergerak dan berkembang pada tatanan yang kohere. Ketiga teori dramaturgi, konsep teoritik yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah konsep dramaturgi pemikiran Erving Goffmen. Dramaturgi merupakan karya yang dikembangkan oleh Erving Goffman karya terpenting tentang diri dalam interaksionisme simbolik. Perspektif interaksi sosial yang digunakan oleh Erving Goffman adalah perspektif pertunjukan teater (theatrical performance). Pada pertunjukan ini dimana orang-orang yang terlibat menerapkan prinsip dramaturgis. Penelitian mencoba menunjukan apa yang dilakukan media dalam mengkonstruksi program talkshow politik untuk disimulasikan kedalam hiburan. Konflik yang diciptakan oleh media kepada tim pendukung Capres menjadikan figur masing-masing Capres menjadi sosok yang negatif. Media mengkontrol secara keselurahan dari konten program talkshow ini. Sedangkan para narsumber hanya memiliki kontrol terhadap pertanyaan dari presenter. Sehingga masing-masing Capres dibingkai oleh media itu sendiri. Metro TV dan TV One mencoba menempatkan figur dalam versi yang berbeda.Apa yang dihadirkan kedua stasiun televisi tidak saja diterima begitu, sebab ada kemungkinan tersimpan makna dan tujuan berbeda dari kontek program talkshow ini. Politik dalam program ini dikemas dengan berbagai macam teknik dan strategi agar menjadi sebuah hiburan.

Talk show television programs in Indonesian media constructed the 2014 presidential election as a politic and entertainment issue. Political constellation affected by media interest becomes an interesting study. Research on media politics is actually not a new study, but since there were only two candidates who were not incumbent in the 2014 presidential election, the impression of head to head politics simulated into entertainment makes the issue interesting. Thus, the study aims to analyze how talk show television programs, Metro TV and TV One, constructed the candidates in the 2014 presidential election narratively. To reveal the issue, a narrative analysis approach by Hellen Fulton was used. Data collected were transcripts of the discussion in both talk show television programs. The data then were analyzed by using Kristina Reigert politicotaiment concept. By using this concept, how text is sequentially organized can be analyzed so that the audio and video appeared are not just because of random purpose. It means that organized text contains space for ideas, themes, and even certain characters moving and developing in coherence. Besides, Erving Goffman dramaturgical theory was also used in this study. Dramaturgical theory can reveal symbolic interactionism within the text. Social interaction perspective used by Erving Goffman is a theatrical performance perspective. Based on the result analysis, the conflict created by the media supporting one of the candidates made the figure of the candidate positive. In the other hand, the conflict created made the unsupported candidate a as negative figure. It means that the media institutions always control the content of those talk show programs. Even, the interviewees could not control the questions of the presenter. Thus, each candidate was framed differently depended on which candidate the media supported. In other words, politics issue in these talk show programs was packed with a wide variety of techniques and strategies in order to become an entertainment.

Kata Kunci : Talkshow, Politicotainment, dramaturgi dan Struktur naratif