Posaasaangu sebagai Nilai Transendental Penciptaan dan Penggunaan Ruang di Permukiman Sulaa Baubau
ISHAK KADIR, Prof. Ir. Achmad Djunaedi, MUP., Ph.D., Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng., Ph.D., Prof. Ir. Bambang Hari Wibisono, MUP., M.Sc., Ph.D.
2015 | Disertasi | S3 ILMU ARSITEKTURSulaa adalah sebuah permukiman pesisir di wilayah Barat Kota Baubau Sulawesi Tenggara. Awalnya berupa permukiman dengan nama Topa pada tahun 1890, yang berfungsi sebagai basis pertahanan terhadap gangguan keamanan laut di masa Kesultanan Buton, ditandai oleh kehadiran dua kelompok masyarakat sebagai pemukim awal, yaitu La Ode Murdin dan La Bawea. Sulaa menjadi pusat tenunan tradisional khas Buton di Baubau dengan keragaman tradisi budaya yang tetap dipertahankan sebagai nilai kearifan lokal. Bentuk permukiman terkonsentrasi di wilayah pesisir pantai di antara perbukitan dan Selat Kadatua. Kondisi tersebut memunculkan permasalahan ruang yang berimplikasi pada bentuk dan tatanan ruang permukiman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Fenomenologi Husserl. Penelitian diawali dengan grand tour dan dilanjutkan dengan mini tour. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi lapangan secara partisipatif. Peneliti menerapkan model analisis induktif tanpa pra konsepsi dan dilakukan dengan penyaringan (reduksi) tiga tahap, yaitu reduksi fenomenologis, reduksi eidetis dan reduksi transendental. Terdapat dua jawaban terhadap pertanyaan penelitian dalam disertasi ini. Pertama, makna ruang Permukiman Sulaa terkandung dalam empat konsep yang terbangun dalam penelitian ini, yaitu (i) eksistensi ruang, (ii) konsensus ruang, (iii) persekutuan ruang, dan (iv) penyesuaian ruang. Kedua, terdapat pengetahuan teoritis lokal yang dapat menjelaskan makna ruang permukiman Sulaa pada masa sekarang, yaitu posaasaangu sebagai kesadaran sosial, budaya, spasial, dan spiritual dalam penciptaan dan penggunaan ruang. Posaasaangu lahir dari budaya lokal masyarakat yang tinggal di Permukiman Sulaa. Budaya tersebut berakar pada sistem nilai yang bersumber dari falsafah hidup masyarakat Buton dan kepercayaan masyarakat terhadap ruang permukiman. Posaasaangu merupakan perwujudan pomaa-maasiaka (saling menyayangi), popia-piara (saling memelihara), pomae-maeka (saling menasehati/takut menakuti) dan poangka-angkataka (saling menghormati). Dalam posaasaangu terkandung tata nilai dalam kehidupan bermasyarakat, seperti persekutuan, kebersamaan, toleransi, kompromi, solidaritas, komunikasi, dan kesetiakawanan. Posaasaangu mendasari sikap, tindakan dan sistem perilaku untuk saling peduli, saling memberi ruang dan saling membantu antara masyarakat yang terejawantahkan dalam penciptaan dan penggunaan ruang. Substansi teori keruangan Permukiman Sulaa adalah kesadaran transendental masyarakat membangun persekutuan (posaasaangu) dalam ruang permukiman, meliputi: (i) persekutuan ritual di mata air dan laut sebagai pusat spiritual dan pusat orientasi permukiman, (ii) persekutuan ekonomi yang berbasis budaya di tempat tinggal mancuana sebagai pusat belajar menenun dan tempat produksi hasil tenunan, (iii) persekutuan hunian di tampa rumah berbasis sistem waris yang membentuk pola hunian secara berkelompok berdasarkan kekerabatan. Persekutuan ruang sebagai strategi keruangan masyarakat dalam mempertahankan eksistensi ruang Permukiman Sulaa tetap bertahan dan survive hingga saat sekarang ini.
ABSTRACT Sulaa is a coastal settlement in the west of Baubau City of Southeast Sulawesi. In the beginning, the existence of settlement called Topa in 1890 served as a basis of defense against threats to maritime security in the Sultanate of Buton with the presence of two groups of people living there as the early settlers, namely La Ode Murdin and La Bawea. Sulaa became Butons traditional weaving center in Baubau with diverse cultural traditions which were maintained as the value of local wisdom. The settlement is concentrated in coastal areas between hills and the Kadatua strait. Such condition causes spatial problems which have impact on the shape and order of settlement space. This research employed Husserls phenomenology. It began with a grand tour and followed by mini tours. Data were collected through interviews and field participatory observations. The researcher applied an inductive analysis model without pre-conception or prejudices and worked it out through in three stages of reduction: phenomenological reduction, eidetic reduction and transcendental reduction. There are two answers to the research questions in this dissertation. First, the meaning of settlement space of Sulaa are contained in the four concepts constructed in this research, namely (i) the existence of space, (ii) consensus of space, (iii) unification of space, and (iv) adjustment of space. Secondly, there is a local theoretical knowledge that can explain the meaning of settlement space of Sulaa at the present time, namely posaasaangu as social, cultural, spatial, and spiritual consciousness in the creation and the use of space. Posaasaangu stems from the local culture of the community living in the Sulaa settlement. The culture is rooted in the value system originating from the world-view of the Butonese and the belief system of the community relating to settlement space. Posaasaangu is a manifestation of pomaa-maasiaka (love one another), popia-piara (keep one another), pomae-maeka (advise one another), and poangka-angkataka (respect one another). Posaasaangu contains values in social life such as unification, togetherness, compromise, tolerance, solidarity, communication, and friendship. Posaasaangu underlies attitudes, actions and behavioral system for a relationship of mutual care, mutual space giving and mutual help among the community members which are manifested in the creation and the use of space. The substance of the spatial theory of the Sulaa settlement is a transcendental consciousness in establishing unifications (posaasaangu) in the settlement. This involves: (i) unification rituals in the spring and the sea as spiritual and orientational centers of the settlement, (ii) unification of culturally-based economic activities in the residence of mancuana as the center for learning to weave and the production of woven products, (iii) residential of unification in the land of houses (tampa rumah) based on the inheritance system shaping residential patterns in groups based on kinship. Unification of space as a spatial strategy of the community in maintaining the existence of the Sulaa spatial settlement, which has resulted in the survival of the settlement space up to the present.
Kata Kunci : posaasaangu, penciptaan ruang, penggunaan ruang, Sulaa/posaasaangu, creation of space, use of space, Sulaa