Laporkan Masalah

PERAN KEPALA PUSKESMAS SKM DAN NON-SKM DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MANAJERIAL PUSKESMAS DI KABUPATEN OKU TIMUR

AULAWI, SKM, dr. Riris Andono Ahmad, MPH, PhD; Dr. dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA

2015 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang:Puskesmas sebagai salah satu institusi pelayanan umumdapat dipastikan membutuhkan peran seorang pemimpin yang mampu mengelola puskesmas lebih baik dan mampu membuat puskesmas berperan sebagaimana mestinya. Untuk mendukung hal tersebut terdapat sepuluh peran yang seharusnya dimiliki seorang pemimpin, dan pendidikan kepala puskesmas kemudian mempengaruhi bagaimana kemampuan manajerial mereka dalam memimpin puskesmas. Tujuan:Mengetahui kemampuan manajerial kepala puskesmas SKM dan nonSKM berdasarkan 10 peran manajerial. Metode:Merupakan jenis penelitian deskriptif dengan rancangan studi kasus, menggunakan metode kualitatif yang didukung dengan data kuantitatif. Sampel penelitian sebanyak 8 orang terdiri dari 4 orang kepala puskesmas SKM dan 4 orang kepala puskesmas non-SKM. Staf yang menjadi informan untuk dimintai pendapat tentang kemampuan manajerial pimpinanya sebanyak 40 orang dan 1 orang pejabat dinas kesehatan. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Metode pengumpulan data diperoleh melalui wawancara mendalam dankuesioner. Hasil:Kepala puskesmas SKM mempunyai masa kerja di puskesmas lebih lama dibandingkan dengan kepala puskesmas non-SKM sehingga pengalaman kerja yang dimiliki oleh kepala puskesmas SKM lebih baik dibandingkan dengan nonSKM.Masa kerja di puskesmas mempunyai pengaruh terhadap kemampuan manajerial. Sebaliknya tidak ada perbedaan masa kerja menduduki jabatan kepala puskesmas antara yang paling lama dengan yang paling sedikit terhadap kemampuan manajerial. Kepala puskesmas yang telah mengikuti pelatihan DIKLAT PIM IV dan pelatihan jabatan struktural lainnya diketahui memiliki kemampuan manajerial lebih baik terutama peran kepemimpinan dibanding dengan yang belum mengikuti pelatihan. Kesimpulan: Tidak ada perbedaan kemampuan manajerial antara kepala puskesmas SKM dan non-SKM.

Background:Primary health careasapublicservice institutioncancertainlyrequiresa leader role whois able tobettermanage theprimary health careandprimary health careare able to makeplaysas it should be. To support thisthere aretenrolesshould havea leader, andeducationhead of primary health carethenaffecthowtheir managerial skillsin leading theprimary health care. Objective:To understand public health and non-public health scholar head of primary health care, based on ten managerial roles. Method: This study is a descriptive study with case-series method, using qualitative method that supported by quantitative data. Eight people were recruited as respondents, consist of 4 people that were public health scholar head of primary health careand 4 people that were non-public health scholar head of primary health care.Respondents were recruited by purposive sampling. Data collection method was using in-depth interview and questionnaire. Result:Public health scholar head of primary health carehave period of employmentin primary health care longerthan non-public health scholar. So that have period of employment by the public health scholar head of primary health care better than non-public health scholar.Period of employmentin primary health care have influenceon the managerial capabilities. Otherwisethere is nodifferenceperiod of employmentin positions heads of primary health care amongthe longestwiththe leastto themanagerial capabilities. Heads of primary health care have been trainedTRAININGPIM1Vandtrainingother structuralpositionsare known to havebettermanagerialcapabilities, especially comparedwith theleadership rolethat has not beentrained. Conclusion: There was no differencemanagerial capacitybetween thepublic health and non-public health scholar head of primary health care.

Kata Kunci : Peran, kepala puskesmas, kemampuan manajerial