KESENJANGAN DISTRIBUSI TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS WILAYAH INDONESIA TIMUR ANALISIS DATA IFLS EAST 2012
NURUL HIKMAH B, dr. Lutfan Lazuardi, M.Kes, PhD; Dr. dr. Dwi Handono Sulistyo, M.Kes
2015 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang. Mulai tahun 1980-an Departemen Kesehatan telah menggunakan beberapa pendekatan untuk menentukan kebutuhan staf, menggunakan proyeksi berdasarkan status kesehatan masyarakat, perubahan demografi dan program kesehatan yang ada. Penelitian ini menjelaskan tentang kesenjangan distribusi tenaga kesehatan di wilayah Indonesia Timur karena melihat ketidakadilan penyebaran tenaga kesehatan di Indonesia Timur sehingga pemerintah dapat menangani secara serius dan tegas terhadap permasalahan distribusi tenaga kesehatan, khususnya daerah yang sulit dijangkau. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian jenis kuantitatif dengan desain rancangan penelitian cross sectional. Menggunakan data sekunder skala besar dari Indonesia Family Life survey (IFLS) East. Hasil. Penelitian ini menunjukkan ada kesenjangan besar dalam pemerataan tenaga kesehatan di puskesmas wilayah Indonesia Timur bahkan beberapa puskesmas mengalami kekosongan tenaga kesehatan baik dokter, perawat, bidan maupun bidan desa. Hal ini terlihat dari ketidakseimbangan distribusi tenaga kesehatan antara puskesmas yang berada di wilayah dengan jumlah penduduk padat dan rendah; tingkat kemiskinan tinggi dan rendah; lokasi geografis berdasarkan perkotaan/pedesaan dan keterpencilan bahkan provinsi. Diskusi dan Kesimpulan. Puskesmas di wilayah Indonesia Timur lebih banyak mengalami kekosongan tenaga khususnya dokter dan bidan, juga rendahnya jumlah tenaga kesehatan masyarakat membuktikan bahwa pelayanan kesehatan primer yang berorientasi pada promotif dan preventif terabaikan. Komitmen pemerintah sebagai regulator dan fasilitator yang lebih memfokuskan dan membantu daerah yang kekurangan tenaga kesehatan khususnya provinsi Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Papua Barat yang lebih banyak mengalami kekurangan tenaga kesehatan masyarakat bahkan kekosongan tenaga dokter dan bidan.
Background: Beginning in the 1980s the Ministry of Health has used several approaches to determine staffing needs, using projections based on public health status, demographic changes and health programs that exist. This study describes the distribution of health personnel gap in eastern Indonesia due to see the injustice of health workers in eastern Indonesia so that the government can deal seriously and firmly to the problems of the distribution of health personnel, particularly areas that are difficult to reach. Methods: This study is a quantitative research with quantitative methods using cross sectional design. Using a large-scale secondary data from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) East. Results: This study indicate that there is a big gap in equity of health workforce in primary health care in eastern Indonesia experienced vacancies even some of primary health care both doctors, nurses, midwives and midwife. This is evident from the distribution of health personnel imbalance between primary care located in areas with high and low number of population; high and low poverty rates; geographic location based on the urban/rural and remoteness even provinces. Conclusion: Primary health care in eastern Indonesia more experienced vacancies in particular labor of doctors and midwives, as well as the low number of community health workers to prove that primary health care is oriented on promotive and preventive neglected. Optimizing the role of government as a regulator and facilitator to give more focus and help the areas that lack health worker especially in the province of East Nusa Tenggara, Maluku and West Papua are more likely to be a shortage of public health vacancy even doctors and midwives.
Kata Kunci : Distribusi, Tenaga kerja kesehatan, tenaga kesehatan, Puskesmas, Kesenjangan, Pasar Tenaga kerja