Laporkan Masalah

PREDIKTOR KEPATUHAN BEROBAT PENDERITA HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAYANGAN KABUPATEN GIANYAR PROVINSI BALI

I NYOMAN PURNAWAN, Prof. dr. Hari Kusnanto, DrPH; dr. Citra Indriani, MPH

2015 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang: Kepatuhan terhadap pengobatan merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan terapi penderita hipertensi. Namun, kepatuhan terhadap pengobatan seringkali rendah, seperti terjadi di wilayah kerja Puskesmas Payangan, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kepatuhan dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan dalam pengobatan hipertensi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan cross-sectional yang dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Payangan, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali pada bulan Mei-Juni 2015. Populasi adalah seluruh penderita hipertensi yang tercatat dalam data rekam medis di Puskesmas Payangan. Prosedur pemilihan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara menggunakan kuesioner di rumah penderita hipertensi. Pengukuran kepatuhan dilakukan dengan menggunakan kuesioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale-8). Faktor predisposisi (variabel sosiodemografi, pengetahuan, komorbiditas, riwayat keluarga hipertensi, sikap untuk pengobatan), faktor pemungkin (variabel ketersediaan obat, aksesibilitas obat, persepsi jarak, ketersediaan transportasi, kemudahan konsumsi obat) dan faktor penguat (variabel dukungan keluarga, dukungan petugas kesehatan, asuransi kesehatan, keterpaparan informasi) dianalisis sebagai faktor yang berhubungan dengan kepatuhan menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik. Hasil: Dari total 242 responden yang dilibatkan dalam penelitian diketahui bahwa 41,32% patuh dan 58,68% tidak patuh melakukan pengobatan. Terdapat hubungan bermakna antara komorbiditas (p=0,007) dan ketersediaan obat (p=0,045) dengan kepatuhan berobat. Berdasarkan analisis regresi logistik diketahui bahwa komorbiditas merupakan variabel yang paling dominan berhubungan dengan kepatuhan berobat (p=0,006, OR=3,943, CI 95%=1,470-10,575). Kesimpulan: Kepatuhan berobat pasien hipertensi masih rendah, dimana keberadaan komorbiditas mempunyai hubungan dengan kepatuhan berobat. Untuk memaksimalkan kemungkinan kepatuhan, perlu meningkatkan interaksi profesional kesehatan diantara pasien tanpa komorbiditas. Sedangkan pasien dengan komorbiditas perlu mendapatkan perhatian terkait dengan obat-obatan yang dikonsumsi, yang kemungkinan memiliki potensi menyebabkan terjadinya interaksi obat sehingga dapat menghambat keberhasilan terapi.

Background: For patients with hypertension, adherence to treatment is one of the factors that determines the success of therapy. However, adherence to treatment is often low, including in Payangan village, Gianyar regency, Bali province. A survey was conducted to identify adherence patterns and explore predisposing, enabling and amplifying factors that associated with adherence to treatment among hypertensive patients. Methods: A cross-sectional study was conducted among hypertensive patients registered in Payangan village health center medical records. Respondents were selected using simple random sampling from the register. Data were collected in May-June 2015 through interviews at patient homes. Adherence to treatment was measured using MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale) containing 8 questions. Sociodemographic factors, knowledge, comorbidities, family history of hypertension and attitude to treatment were predisposing factors explored. Availability of drugs, accessibility of drug, perception of distance, availability of transportation, ease of drug consumption were enabling factors explored. Family support, health worker support, health insurance, exposure to health information were reinforcing factors explored. We constructed a Chi-square test and logistic regression model to explore as factors associated with adherence. Results: Of 242 respondents, 41.32% were adherent and 58.68% were non-adherent to treatment. Factors included having comorbidities (p value=0.007) and availability of drugs (p value=0.045) have a associate with adherence. Using a logistic regression model, comorbidities have most dominant to associated with adherence to treatment (p value=0.006, OR=3.943, CI 95%=1.470-10.575). Conclusions: Adherence to treatment is low among hypertensive patients. The existence of comorbidities associated with adherence to treatment. To maximize likelihood of adherence, need to improve the health professional interaction among non-comorbidities patients. While, patients with comorbidities need to get the attention of the drugs used by the patient, which may have the potential to cause drug interactions that can hinder the success of therapy.

Kata Kunci : kepatuhan berobat, hipertensi, MMAS-8, Puskesmas, Payangan, Bali