Praktek Bias Wacana Daratan dalam Pembangunan Wilayah (Studi tentang Kabupaten Pulau Morotai)
RATNASARI PARAISU, Dr. AAGN Ari Dwipayana,M.Si
2015 | Tesis | S2 Politik dan PemerintahanStudi ini akan mendiskusikan mengenai praktek bias wacana daratan dalam pembangunan kewilayahan Kabupaten Pulau Morotai. Minat untuk studi ini berawal dari keprihatinan penulis terhadap kehidupan masyarakat di daerah kepulauan yang kaya akan sumberdaya kelautan, namun mereka masih terbelenggu dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Kabupaten Pulau Morotai yang kemudian menjadi lokasi studi ini karena Morotai merupakan daerah otonomi baru yang kaya akan potensi sektor kelautan. Kerangka teoritik yang dipakai adalah pembangunan kewilayahan dan bias-bias dalam pembangunan (Chambers). Kerangka ini dipakai karena dipandang bisa menjelaskan mengenai praktek bias wacana daratan yang terjadi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus (case study). Data penelitian diambil dalam enam bulan, dari November 2014 - April 2015. Dari penelitian ini didapatkan beberapa kesimpulan. Pertama, dengan meminjam pemikiran Chambers mengenai bias-bias pembangunan yang terjadi, maka didapatkan ada empat bias yang mempengaruhi yaitu bias tempat, bias proyek, bias musim dan bias elit. Keempat bias ini yang kemudian berpengaruh memunculkan praktek bias wacana daratan tersebut di kabupaten Pulau Morotai. Kedua, akibat keempat bias pembangunan tersebut, mengakibatkan ketidakselarasan antara perencanaan pembangunan wilayah dengan pelaksanaan pembangunan yang terjadi. Morotai sendiri mempunyai pembangunan wilayah pesisir namun dalam realitanya pembangunan wilayah lebih mengarah ke pembangunan yang bersifat land based (daratan). Ketiga, terkait dengan praktek bias wacana daratan tersebut juga menghasilkan marjinalisasi terhadap sektor kelautan. Di mana sektor kelautan yang seharusnya menjadi sektor utama dalam pembangunan wilayah pesisir Morotai seakan dianaktirikan akibat mindset pembangunan yang lebih memperhatikan dan fokus terhadap sektor-sektor pembangunan yang berbasis di daratan. Keempat, selain marjinalisasi sektor kelautan yang ada, ada hal menarik yang ditemukan di Morotai yaitu menyangkut kultur mata pencaharian masyarakat Morotai yang ternyata mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani kelapa, hal ini menarik mengingat Morotai merupakan daerah pesisir yang seharusnya nelayan menjadi mata pencaharian utama yang digeluti oleh masyarakat. Namun pada realitanya, kultur ini dibangun secara turun-temurun oleh masyarakat yang pada akhirnya menjadi bagian dari bentuk bias wacana daratan dari sisi masyarakat.
The study will discuss the bias practices of landward discourse on regional development in Morotai Island regency. The interest of this study came from the concerns of the author of the lives of the people in the islands are rich in marine resources, but they are still locked in poverty and underdevelopment. Morotai Island regency became the location of the study because of Morotai a new autonomous region rich in potential for the marine sector. The theoretical framework used is the regional development and development biases (Chambers). This framework is used because it is seen to explain the bias practices of landward discourse. The research method used is a case study. Data were taken in six months, from November 2014 - April 2015. Results from this research suggest some conclusions. First, by Chambers theory�s about the development biases of that occurs, then got four biases that affect the bias point are spatial biases, project biases, dry season biases and elite biases. The four biases which later gave rise to the bias practise discourse of landward discourse in Morotai Island regency. Second, due to the construction of a four biases, resulting in inconsistencies between regional developments planning with the implementation of the construction going on. Morotai itself has a coastal development but in reality leads to the construction area of over development that is land based. Third, linked to the bias practices of landward discourse also produces the marginalization of the marine sector. Where the marine sector that should be the main sector in the development of coastal areas due to Morotai as marginalized development mindset that more attention and focus on development sectors based on the landward. Fourth, in addition to the marginalization of the marine sector, there are interesting things found in Morotai which involves the culture of the people's livelihood Morotai that turned the majority of people work as coconut farmers, it is interesting to remember Morotai is a coastal area which should fishing be the main livelihood cultivated by society. But in reality, this culture is built for generations by the community that ultimately becomes part of a form of bias on the landward side of the public discourse.
Kata Kunci : Landward Discourse Biases, Regional Development, Marine Sectors, Morotai