ANALISIS HUBUNGAN PERTUMBUHAN EKONOMI DENGAN KETIMPANGAN ANTAR KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA TAHUN 2003-2013
SHARA FEBRIANTI TPM, Anisa Nurpita, S.E., M.Ec.Dev.
2015 | Tugas Akhir | D3 EKONOMIKA TERAPAN SVIndonesia memiliki perbedaan karakteristik wilayah dalam hal kepemilikan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM). Wilayah mempunyai pengaruh yang kuat pada terciptanya pola pembangunan ekonomi, dimana pola pembangunan ekonomi wilayah indonesia tidak seragam. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab timbulnya kesenjangan atau ketimpangan daerah. Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah Pertumbuhan PDRB, PDRB Per Kapita dan Investasi Swasta. Total daerah yang ada di Provinsi D.I. Yogyakarta ada 5 kabupaten dan 1 kota. Kesenjangan yang terjadi di Kabupaten Gunung Kidul disebabkan oleh Laju Pertumbuhan PDRB yang cukup rendah dibandingkan dengan daerah Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Kulon Progo. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis Tipologi Klassen, Indeks Williamson, Indeks Entropi Theil, dan Korelasi Pearson. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola pertumbuhan ekonomi Provinsi D.I. Yogyakarta selama kurun waktu 2003-2013 mengalami pertumbuhan yang sangat fluktuatif. Wilayah yang berpotensi tinggi dalam meningkatkan perekonomian Provinsi D.I. Yogyakarta berdasarkan hasil LQ (Location Quotient) yaitu lebih dari LQ >1 dan Shift share menunjukkan daerah yang masuk pada kategori daerah maju dan cepat tumbuh adalah Kota Yogyakarta, sedangkan daerah yang relatif tertinggal adalah Kabupaten Kulon Progo dan Gunung Kidul, sedangkan kategori Kabupaten/Kota yang berkembang cepat adalah Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman. Hasil analisis Indeks Williamson menunjukkan ketimpangan antar Kabupaten/Kota di Provinsi D.I. Yogyakarta masih dapat dikatakan kecil sehingga pembangunan di Kabupaten/Kota di Provinsi D.I. Yogyakarta masih dapat dikatakan merata. Namun, pada Indeks Entropi Theil menunjukkan nilai yang semakin menjauh dari angka nol, hal ini berarti terjadi ketimpangan yang semakin besar antar Kabupaten/Kota di provinsi D.I. Yogyakarta. Hasil analisis Korelasi Pearson antara pertumbuhan ekonomi dengan Indeks Williamson diperoleh koefisien korelasi sebesar 0.464. Hal ini berarti bahwa terdapat hubungan yang sedang antara pertumbuhan ekonomi dengan Indeks Williamson dengan arah positif. Ketika terjadi kenaikan pertumbuhan ekonomi maka diikuti kenaikan ketimpangan regional. Namun, hasil tersebut secara statistik tidak signifikan karena signifikansi 0.151>0.05.
Indonesia has a different characteristic of the area in terms of ownership Natural Resources (SDA) and Human Resources (HR). The region has a strong influence on the creation of the economic development pattern, where the pattern of economic development of Indonesia region is not uniform. This has become one of the causes of the gap or inequality area. Variables used in this research is the growth of GDP, Per Capita GDP and Private Investment. The total area in the province of D.I. Yogyakarta there are five counties and one city. Gaps in Gunung Kidul caused by the GDP growth rate is quite low compared to the city of Yogyakarta, Sleman, Bantul and Kulon Progo. The analytical method used in this study include analysis Typology Klassen, Williamson index, Theil entropy index and Pearson Correlation. The results showed that the pattern of economic growth in DI Yogyakarta during the period 2003-2013 grew very volatile. Regions with high potential in improving the economy DI Yogyakarta based on the LQ (Location Quotient) is more than LQ> 1 and Shift share indicates the area that goes to the category of developed regions and rapidly growing is the city of Yogyakarta, while regions that are lagging behind is Kulon Progo and Gunung Kidul, while the category of District / City fast growing is Bantul and Sleman. Williamson index analysis results showed inequality between districts / municipalities in DI Yogyakarta is still so small that it can be said the development in the regency / city in DI Yogyakarta still be said to be evenly distributed. However, the Theil entropy index shows the value of getting away from zero, it means there is a greater disparity between districts / municipalities in the province of DI Yogyakarta. Pearson correlation analysis results between economic growth and Williamson index obtained correlation coefficient of 0.464. This means that there is a relationship between economic growth with moderate Williamson index with a positive direction. When an increase in economic growth that followed the increase in regional inequality. However, these results were not statistically significant due to the significance of 0151> 0.05.
Kata Kunci : Pertumbuhan Ekonomi, Ketimpangan, Indeks Williamson, Entropi Theil / Economic Growth, Inequality, Williamson index, Entropy Theil