PENAKSIRAN TINGKAT KERENTANAN SOSIAL TERHADAP BAHAYA BANJIR LAHAR PASCA ERUPSI GUNUNGAPI MERAPI (Studi Kasus: Kec. Cangkringan, Kec. Ngemplak dan Kec. Kalasan, Kab. Sleman, Prov. DIY
DEVIE ANIKA BANU A, Dr. Dyah Rahmawati Hizbaron, S.Si., M.T., M.Sc.
2015 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANPasca erupsi Gunungapi Merapi, di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya di Kabupaten Sleman sangat rawan terkena bahaya luapan banjir lahar. Hal ini didasarkan pada aspek lokasi, dimana letak kabupaten tersebut berada dekat dengan Gunungapi Merapi, seperti halnya di Kecamatan Cangkringan, Kecamatan Ngemplak dan Kecamatan Kalasan. Pada ketiga kecamatan tersebut juga dilalui tiga sungai utama yaitu Kali Gendol, Kali Kuning dan Kali Opak yang sering kali terjadi bencana banjir lahar setelah turunnya hujan lebat. Salah satu tindakan yang dapat dilakukan dalam langkah mitigasi bencana ini adalah dengan penilaian kerentanan sosial terhadap bahaya banjir lahar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui persebaran tingkat kerentanan sosial banjir lahar di Kecamatan Cangkringan, Kecamatan Ngemplak dan Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, DIY secara spasial. (2) Mengkaji faktor yang paling menentukan tingkat kerentanan sosial pada masing-masing wilayah administrasi. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data kependudukan untuk tahun 2013, serta data pendukung berupa Citra Geo-Eye dan Peta RBI. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE). SMCE terdiri dari proses penyusunan skenario permasalahan, standardisasi data, pembobotan dan pembuatan peta kerentanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Nilai kerentanan sosial tertinggi pada wilayah penelitian ditunjukkan pada Desa Wukirsari, Kec. Cangkringan, sedangkan wilayah dengan nilai kerentanan sosial terendah ditunjukkan pada Desa Umbulmartani, Kec. Ngemplak dan Desa Argomulyo, Kec. Cangkringan. (2) Faktor yang paling menentukan dalam penilaian tingkat kerentanan sosial adalah indikator sosial. Berisi lima parameter yaitu, kepadatan penduduk, rasio jenis kelamin, rasio penyandang cacat, jumlah penduduk menurut pendidikan terakhir yang ditamatkan dan rasio kelompok umur atau rasio ketergantungan.
Sleman district, on pasca-eruption of Merapi Volcano, is vulnerable to debris flow hazard. That statement is based on location, Cangkringan, Ngemplak, and Kalasan which is included in Sleman is near also from Merapi Volcano. There are three main rivers i.e., Gendol River, Kuning River, and Opak River. Those rivers often affected by debris flow hazard, particularly after heavy rain. The social vulnerability assessment toward debris flow is one of the way on disaster mitigation. This research aims to (1) find out the distribution of social vulnerability classification because of debris flow in Kecamatan Cangkringan, Kecamatan Ngemplak, and Kecamatan Kalasan, Sleman, and (2) reviewing the most influencing factor toward social vulnerability because of debris flow in each region. This research uses secondary data that is data of population 2013, also supporting data i.e., Geo-Eye image and RBI maps. This research uses Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE) consists of preparing problem scenarios, data standardization, weighting, and then preparing vulnerability maps. The results of this research are (1) Desa Wukirsari, Cangkringan has the highest value of social vulnerability because of debris flow, while Desa Umbulmartani, Ngemplak and Desa Argomulyo, Cangkringan have the lowest value, (2) The decisive factor on social vulnerability classification is social indicators. There are five parameters included in social indicator i.e. population density, sex ratio, ratio of people with disabilities, population based on education level and dependency ratio.
Kata Kunci : SMCE, Kerentanan Sosial, Banjir Lahar, Sleman