Dinamika Kerja Sama Regional Barlingmascakeb
DITA WULANDARI, Prof. Dr. M. Baiquni, MA
2015 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAHSalah satu hasil dari otonomi daerah adalah diperkenankannya kerja sama antardaerah, baik dengan daerah lain, pihak ketiga, dan/atau lembaga atau pemerintah daerah di luar negeri. Salah satu bentuk kerja sama regional yang cukup berhasil di Indonesia adalah Kerja Sama Regional Barlingmascakeb. Kerja sama ini diinisiasi oleh lima kabupaten, yakni Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fase perkembangan, mengidentifikasi gap/kesenjangan yang ada, dan mengidentifikasi kelebihan dan kekeurangan model Kerja Sama Regional Barlingmascakeb. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Kerja sama ini mulai dirasa berhasil dilihat dari suksesnya Pasar Lelang sebagai salah satu kegiatan yang paling menonjol. Kemunduran kerja sama disebabkan adanya ketidaksinkronan hukum yang berlaku terkait dengan pelaksanaan dan pembiayaan kerja sama antar daerah. Gap atau kesenjangan yang paling menonjol adalah program kerja yang dilaksanakan terkadang kurang maksimal dan masih banyak trial and error di berbagai hal. Kelebihan dari kerja sama ini adalah adanya unsur budaya Banyumasan dalam diri anggota, sedangkan kekurangan yang paling menonjol terlihat pada ketergantungan pendanaan pada iuran daerah serta payung hukum yang kurang mendukung. Kata kunci : kerja sama regional, regional management, Barlingmascakeb, dinamika kerja sama
As a result of decentralization, any region in Indonesia is allowed for making collaboration, both with other region, any company, and/or any local government abroads in accordance with the statutory provision. One of the most successful is Barlingmascakeb Regional Management (BRM). This Regional Management was initiate by five regions, among others Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, and Kebumen. The purposes of this study was to determinate the phases of Barlingmascakeb Regional Management’s development, to identify the gaps that existed in BRM, and to identify the strengths and the weakness of this models. This cooperation began to be successful seen from the auction market’s achievements as the most prominent activities. Barlingmascakeb Regional Management vacuum in 2012 caused unsynchronized applicable law related to the implementation and financing of inter-regional cooperation. The most prominent gap is the less-maximalized programs and there still a lot of trial and error in various ways, and the cooperation didn’t have a big implication to the region. The most prominent strength of this cooperation is the cultural elements Banyumas inner member, while the most prominent weakness seen in the dependence of funding on local government and the less-supportive legal protection. Keywords : regional cooperation, regional management, Barlingmascakeb, dynamics of cooperation
Kata Kunci : Kata kunci : kerja sama regional, regional management, Barlingmascakeb, dinamika kerja sama