STRATEGI EKSISTENSI INDUSTRI GENTENG SOKKA (Studi Kasus di Desa Kebadongan, Klirong, Kebumen)
MOHAMAD ANAS ADHA, Dr. S. Djuni Prihatin, M.Si
2015 | Skripsi | S1 ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)Masalah ketenagakerjaan sampai saat ini masih menjadi momok yang harus segera diatasi oleh negara-negara sedang berkembang termasuk Indonesia. Banyaknya jumlah tenaga kerja tidak sebanding dengan ketersediaan pekerjaan sehingga menimbulkan pengangguran. Industri genteng Sokka di Desa Kebadongan, Klirong, Kebumen muncul sebagai dampak dari keterbatasan mata pencaharian pedesaan. Sebagaimana desa lain di Indonesia, mata pencaharian masih terbatas pada sektor pertanian. Untuk itu, munculnya industri genteng sebagai salah satu alternatif penghasilan di luar pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi yang dilakukan oleh sektor industri genteng Sokka di Desa Kebadongan agar tetap eksis memberikan pilihan mata pencaharian di pedesaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan terhadap informan yang berjumlah 10 orang dengan rincian 5 orang pengusaha genteng yang dipilih secara snowball, 5 orang lainya dipilih secara purposive yaitu 2 orang pekerja genteng, 1 orang pejabat Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pengelolaan Pasar, 1 orang pejabat Desa Kebadongan dan 1 orang pengusaha genteng di luar Desa Kebadongan. Sedangkan teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan uji kredibilitas yang berupa triangulasi sumber, yaitu membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan informasi yang diperoleh melalui waktu dan informan yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan industri genteng memberikan banyak manfaat yaitu munculnya pengusaha genteng sebagai wirausahawan pedesaan sebagai motor penggerak perekonomian di pedesaan, banyak masyarakat yang mendapatkan penghasilan dari aktifitas genteng seperti pekerja produksi, tenaga menjemur genteng, tenaga pembakaran genteng, tenaga penjualan genteng, penjual bahan baku tanah liat, penjual kayu, dan penjual bata merah. Selain memberikan manfaat, kehadiran industri genteng masih banyak terdapat kelemahan seperti ketersediaan modal yang terbatas, bahan baku semakin berkurang, dan penghasilan pekerja yang relatif kecil. Walaupun terdapat kelemahan, namun industri genteng sampai saat ini mampu bertahan sebagai pilihan mata pencaharian di pedesaan. Mereka beradaptasi menyesuaikan kelemahan untuk dijadikan celah agar mampu bertahan hingga saat ini. Upaya mereka adalah dengan strategi manajemen permodalan yang terbatas dengan cara "nandon" bahan baku, menjaga hubungan antara pengusaha-pekerja untuk menjaga loyalitas, dan strategi pemasaran dengan keterbatasan dengan cara "nggletak".
Labour issue is still be a problem that must be overcome by many developing countries, including Indonesia. Large numbers of workers are not comparable to the availability of jobs, causing unemployment. "Sokka" tile industry in Kebadongan village, Klirong, Kebumen emerged as a result of the limitations of rural livelihoods. As other villages in Indonesia, livelihood sources in Kebadongan still limited in the agricultural sector. Therefore, the emergence of the roof tile industry could be an alternative income source. This research aims to determine the strategy undertook by the tile industry in Kebadongan village in order to keep providing the livelihood options in rural areas. Data collection technique used in this research is qualitative while the data collection techniques are observation, interviews, and documentation. Interviews were conducted among 10 people, 5 of them are tile industry employers who selected by snowball method, the other five persons are selected purposively i.e two employees of "Sokka" industry, one official of Department of Industry, Trade and Market Management, one officer of Kebadongan village and one tile businessmen form outside Kebadongan. Data validity technique used in this research is credibility test i.e triangulation of sources, comparing and checking the degree of information obtained through different time and different informants. The results of the research showed that the presence of the tile industry provides many benefits, namely the emergence of entrepreneurs tile as a countryside entrepreneur which could be the motor of the economy in rural areas, as well as many people can earn income from industry activities such as by being production workers, drying tile workers, encombustion tile workers, tile-sales workers, clay sellers, wood sellers, and red brick sellers. Aside from providing benefits, the presence of tile industry still hold many weaknesses such as the limited availability of capital, the less of raw materials, and the relatively small income of workers. Despite weaknesses, the tile industry today is able to survive as an option of rural livelihoods. The industry adapt and using the weaknesses to be adjusted with opportunity in order to be able to survive until today. Their efforts are done through limited-capital management strategy i.e "nandon" raw materials; maintain relationship between employers-workers to keep loyalty; and "nggletak" marketing strategy.
Kata Kunci : eksistensi, genteng sokka, industri kecil