KEMAMPUAN BERTUNAS TIGA KLON Eucalyptus pellita F. Muell PADA TAHAP INDUKSI KULTUR TUNAS AKSILER
GAMA WIDYA SETA, Dr. Sapto Indrioko, S.Hut., M.P;Ir Toni Herawan, M.P.
2015 | Skripsi | S1 KEHUTANANEucalyptus pellita F. Muell merupakan tanaman asli Indonesia yang banyak dibudidayakan sebagai tanaman utama pada hutan tanaman industri karena memiliki pertumbuhan yang cepat dan adaptif pada berbagai jenis lahan di dataran rendah. Salah satu teknik perbanyakan vegetatif yang digunakan untuk menghasilkan tegakan yang seragam adalah kultur jaringan. Kemampuan bertunas antar klon yang beragam dapat mempengaruhi laju perkembangbiakan pada perbanyakan kultur jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan bertunas tiga klon E. pellita (006, 007, dan 014) pada tahap stool plant dan induksi kultur tunas aksiler. Penelitian dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pada tahap stool plant dan induksi kultur tunas aksiler. Kombinasi perlakuan pada tahap stool plant adalah perbedaan tinggi batang (30 cm ; >30 cm-60 cm; dan >60 cm -100 cm dari permukaan media tanam) terhadap pertumbuhan tunas pada tiap klon. Kombinasi perlakuan pada tahap induksi kultur tunas aksiler adalah klon dan umur tunas (6 minggu dan 7 minggu). Media kultur yang digunakan pada tahap induksi kultur tunas aksiler adalah MS dengan tambahan 0,15 mg/l kineatin dan 3 mg/l BAP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan pertumbuhan jumlah tunas yang nyata antar klon tersebut (P = 0,62). Perlakuan perbedaan tinggi batang tidak memberikan perbedaan secara nyata terhadap jumlah tunas yang tumbuh (P = 0,531). Secara umum, rerata jumlah tunas aksiler tiga klon E. pelita pada eksplan umur 6 dan 7 minggu yang ditanam pada media EP3 selama 24 hari kurang dari 2 tunas per eksplan.
Eucalyptus pellita F. Muell is one of native species to Indonesia, and it is cultivated as one of important species for timber estate development. This is a fast growing species and adaptive on wide range of soil types in the lowland area. Tissue culture technique is one of vegetative propagation techniques used to produce uniform stand. The variations of sprouting ability among clones can affect the tissue culture reproduction rate of this species. The aims of this study were to find out sprouting ability of three E. pellita clones (006, 007, and 014) in stool plant and induction of axillary bud culture phases. Completely Randomized Design (CRD) was applied for this experiment. In stool plant phase, the treatment combinations were clones and stem height (30 cm ; >30 cm -60 cm; and >60 cm -100 cm from stem base). In induction of axillary bud culture phase, the treatment combinations were clones and explant ages (6 and 7 week). The media used in this experiment was EP3, modified MS medium added 0,15 mg/l of kineatin and 3 mg/l of BAP. The result showed that there were no significant differences of shoot number on the clones (P = 0,62) and the stem height treatments on the shoot number (P = 0,531). Generally, the average number of the axillary shoots produced by the three E. pellita clones explants 24 day after planted in EP3 medium was less than 2 shoots per explant
Kata Kunci : Eucalyptus pellita, kultur jaringan, kemampuan bertunas