Laporkan Masalah

Introduction Museum di Panggung Krapyak sebagai Langkah Penguatan Kembali Karakter Panggung Krapyak dengan Pendekatan Desain Infill

DEA AVINDITYA LAKSMI, Ardhya Nareswari, S.T.,M.T.,Ph.D.

2015 | Skripsi | S1 ARSITEKTUR

Sebuah dunia tanpa batas menjadi fenomena yang kini terjadi. Sebuah dunia tanpa batas perlahan-lahan membentuk homogenitas dalam berbagai bidang, termasuk diantaranya budaya. Sebuah dunia tanpa batas pada akhirnya memberikan dampak negatif yang mengakibatkan lunturnya nilai lama di masa ini. Kelunturan nilai lama di masa kini pun menjadi tantangan berbagai pihak untuk berpartisipasi, baik dalam melakukan upaya pencegahan maupun upaya untuk meminimalisir dampaknya. Keseragaman yang tengah terjadi berpengaruh terhadap kepariwisataan. Budaya, yang seharusnya menjadi ciri khas sebuah destinasi wisata berangsur-angsur mulai luntur, digantikan dengan budaya yang paling menonjol. Padahal, tujuan berwisata tidak lain untuk mencari hal yang menjadi ciri khas dari suatu daerah, ciri khas tersebutlah yang layak menjadi nilai jual. Budaya tidak melulu dikaitkan dengan yang ragawi, namun juga yang berbentuk fisik. Budaya fisik, atau lebih dikenal sebagai benda atau bangunan cagar budaya, sebagian besar memiliki nasib yang sama, yaitu diabaikan, karena sudah tidak sesuai dengan selera, terlalu kuno untuk masa ini. Budaya menghargai warisan lampau inilah yang menghilang. Pada kenyataannya, kegemaran berwisata kini mengarah pada kegiatan rekreasi, eksplorasi dan edukasi pada situs warisan budaya. Wisata yang tergolong minat khusus ini, mampu menyedot angka kunjungan wisman maupun wisnus ke berbagai daerah dengan potensi warisan budaya yang terpelihara dengan baik, tidak terkecuali di Yogyakarta. Yogyakarta yang menjadi salah satu kota kerajaan tua, memiliki kekayaan histori-filosofi yang sayangnya tidak seluruhnya dipahami dan diketahui oleh khalayak. Ruang sebagai sarana untuk memberikan edukasi terhadap kekayaan histori-filosofi Yogyakarta tidaklah banyak, yang ada pun tidak terkemas dengan menarik. Panggung Krapyak, menjadi salah satu warisan pusaka di penggal sumbu filosofi bagian selatan yang kurang diminati. Keberadaannya, tidak mengesankan peninggalan sejarah apa pun, yang ada hanya sebuah bangunan tetenger di tengah jalan yang bentuknya mirip seperti benteng. Meskipun Panggung Krapyak berpotensi untuk menjadi ikon destinasi wisata yang mewakili penggal sumbu filosofi bagian selatan, namun terdapat tantangan yang harus dihadapi, seperti keadaan permukiman yang dipadati oleh perkampungan, letak Panggung Krapyak yang berada di seputar area industri, dan kondisi sosial-kemasyarakatannya yang sangat menjunjung kultur nilai islami. Hal yang demikian memberikan kesukaran untuk menjadikannya sebuah destinasi wisata baru yang menjunjung nilai histori-filosofi. Padahal, Yogyakarta membutuhkannya, sebuah destinasi wisata baru yang mewakili bagian selatan yang ikut andil dalam misi pelestarian pusaka, baik bendawi maupun ragawi.

A borderless world becomes phenomenon happening nowadays. A borderless world slowly creates homogenity in several things, including the cultures. A borderless world then turns out to give pointless meaning in preserving the aged culture. Which happening nowadays becomes a challenge for people to give their hands in participating, not just to preserve the olds but also to minimize its damage. A homoginity which the world is faced, making a great deal in tourism industry. The cultures, whose becomes the one taking the lead in giving an identity to some tourist destinations, slowly disappear. It is then replaced by the new one, a brand-new-culture bringing modernity, which is contrarary with the fact that the point in doing tourism activity is to finds out things becomes the identitiy in that place. The identity supports tourist to remain coming there.. The culture itself not only related in intangible-things, but there are many of them which come in tangible-things. The tangible-culture, mostly has the same condition, abandoned by people, too medieval for todays. The attitude in caring the past is gone in today’s society. In other hand, the fond of doing tourism activities leads to some recreation, exploration, and education towards the ancient monuments. This cultural-tourism reported in giving a shot in increasing the number of tourism arrival in places which offers it to them, including Yogyakarta as a city where cultures becomes its branding for tourism activities. Yogyakarta is an old kingdom having historical-philosophycal relics in building its city and society. Those glorius historical and philosphycal are yet become understood by people living there as a fact in raising the effect of a-borderless-world phenomenon. Unfortunately has Yogyakarta a few room as a facility to educate people about its richness, it triggers serious problems in preserving its cultures. A place for educate the olds needs to be developed well to welcome, to invite, and to attract people not just to know it but deeply to feel its existence in this age. Panggung Krapyak, is one of the tangible-cultures, an ancient monument, located in a philosophycal-axis that having a less interest among others. Its existence as a landmark in the middle of intersection remains nothing to some people. Developing Panggung Krapyak as a place for educate could represent its historical stories then finally becomes a notable destination in southern Yogyakarta. Though Panggung Krapyak has potential in becoming it, there are many challenges it has to overcomes, such as how to adapt with its environment which dominated with highly populated settlement and its islamic-socio-cultural’s condition. Comparing with the needs in having a place for educate historical and philosophical cultures Yogyakarta’s ever had, those challanges means something small. Yogyakarta need it, a new destination in southern, which having commitment in the mision of preserving historical relics, both tangible and intangible.

Kata Kunci : dunia tanpa batas, homogenitas, aktivitas pariwisata, Panggung Krapyak


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.