Laporkan Masalah

Kriminalitas dan Perempuan dalam Dinamika Gender Equality di Yogyakarta

SULY KUMALA SUSANTO, Drs. Hendrie Adji Kusworo, M.Sc, Ph.D

2015 | Skripsi | S1 ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)

Kesejahteraan merupakan keadaan yang bersifat multi-dimensional di mana salah satunya mencakup keamanan, karena kesejahteraan tidak hanya diukur dengan ekonomi semata, namun yang juga tidak kalah penting adalah segi sosial. Namun, faktanya banyak terjadi tindak kriminalitas yang meresahkan masyarakat. Kriminalitas yang terjadi di jalanan, seperti penjambretan, merupakan hal yang sangat dekat dengan masyarakat dalam melakukan aktifitas sehari-hari, di mana lebih banyak menyasar korban perempuan. Hal ini merupakan salah satu dampak negatif dari konstruksi budaya tradisional yang memandang perempuan sebagai pihak yang lemah dan inferior, makhluk kelas kedua dan memiliki posisi yang selalu berada di bawah laki-laki sehingga korban penjambretan yang berjenis kelamin perempuan dinilai lebih mudah ditaklukkan oleh pelaku laki-laki yang terkonstruksi sebagai pihak kuat. Berdasarkan hasil penelitian, nilai-nilai yang terkandung dalam konstruksi tradisional yang menggambarkan perempuan sebagai pihak yang inferior memiliki kaitan dengan persepsi pelaku penjambretan terhadap calon korban/korbannya yang berjenis kelamin perempuan. Hal ini berimplikasi pada kecenderungan pelaku memilih korbannya yang lebih banyak kaum perempuan. Para pelaku beranggapan bahwa perempuan lebih lemah dibanding dirinya sehingga mereka merasa peluang keberhasilannya lebih besar jika berhadapan dengan korban perempuan karena perempuan dirasa akan sulit atau bahkan tidak bisa melawan. Lebih dari itu, mereka juga merasa perempuan lekat dengan ciri khas seorang perempuan yang semakin memperbesar ketertarikannya untuk menjadikan perempuan sebagai obyek tindak kejahatannya. Oleh karenanya, perempuan sangat rawan menjadi korban kriminalitas-penjambretan. Hal ini juga bisa menjadi salah satu kontribusi yang memotret kondisi kesetaraan gender, khususnya di Yogyakarta dalam lingkup kriminalitas. Perempuan belum sepenuhnya terbebas dari konstruksi gender tradisional yang dilekatkan padanya oleh nilai-nilai budaya. Perempuan masih dinilai menjadi sosok yang lemah dan tidak berdaya berhadapan dengan kekuatan dan keperkasaan laki-laki, di mana hal tersebut telah diakui sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya. Pada akhirnya, lagi-lagi hal ini semakin memojokkan perempuan dan seakan mempersempit eksistensi dirinya sebagai manusia.

Welfare is a condition which tend to be multi-dimensional, where one of them covers safety, because welfare is not only measured by the purely economic yet which also important is also from the social side. However, the fact that there are still many crimes which is worried the society. Criminality which happens in the street such as robbery is really close to society in doing their daily activity, where targeting more on women as the victims. This is one of the negative effects from traditional culture construction which assumes women as the weaker and inferior party, as the second class creatures who have position which always below the men so the women robbery victims are assumed to be more easily conquered by the robber (men) who are constructed as the strong party. Based on the research result, values that contained in the traditional construction, which described women as the inferior parties, has relation between robber perceptions on the women potential victims. This matter is implicated the robber to choose more women victims. The robber assumes that women are weaker than them so that they think the chance of success are higher if dealing with women victims because women will be difficult or even could not fight back. Moreover, they also think that women is stick with Woman typical which make the interest higher to make women as the object of crime. Therefore, women are fragile to be the victim of robber-criminality. It can be one of the contributions which photograph the condition of the gender equality, especially in Yogyakarta scope crime. Women are not fully free from the traditional gender construction which is stuck to them by the culture values. Women are still assumed as the weaker and fragile party in dealing with men strength and power, where it is recognized as deservedly thing. At last, again, it is cornered women and seemed to narrow their existence as human being.

Kata Kunci : kriminalitas-penjambretan, perempuan, laki-laki, konstruksi, inferior.

  1. S1-2015-317998-abstract.pdf  
  2. S1-2015-317998-bibliography.pdf  
  3. S1-2015-317998-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2015-317998-title.pdf