KAPASITAS POSYANDU DI INDONESIA Data Indonesia Family Life Survey ( IFLS ) 2007
HUSNUL KHATIMAH, Dr. dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA; Agung Nugroho, MPH
2015 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Setiap tahun, sekitar 12 juta anak balita di negara berkembang meninggal yang dengan masalah yang sebenarnya dapat dicegah. Berbagai intervensi juga telah dilakukan diantaranya adalah pembentukan model pel ayanan yang berbasis masyarakat.Posyandu merupakan wujud penerapan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Permasalahan gizi di Indonesia memiliki keterkaitan yang cukup erat dengan keaktifan kegiatan posyandu. Eksistensi kegiatan posyandu bergantung pada kontribusi kesediaan masyarakat terhadap kegiatan tersebut. Tujuan: Untuk mengetahui faktor � faktor yang mempengaruhi kemandirian posyandu di Indonesia serta dapat merumuskan kebijakan yang tepat sebagai upaya peningkatan kapasitas posyandu di Indonesia dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat,khususnya ibu dan anak. Metode: Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif analisa data sekunder IFLS 2007. Populasi penelitian ini adalah individu dan rumah tangga yang ada di 13 propinsi di Indonesia, denga n menggunakan sampel seluruh 581 posyandu di Indonesia yang menjadi responden IFLS 2007. Hasil : Setelah dilakukan uji statistic didapatkan hasil bahwa 64.89% posyandu di Indonesia dikategorikan sebagai posyandu mandiri. Factor yang paling berpengaruh terhadap kemandirian posyandu adalah keberadaan lokasi posyandu (p value =0,008), pendidikan kader (p value 0,04), dan ketersediaan sumberdana posyandu yang berasal dari anggaran desa (p value 0,007). Kesimpulan : Keberadaan posyandu mandiri di Indonesia masih cukup tinggi. Posyandu di daerah pedesaan memiliki kapasitas pelayanan kesehatan dasar yang lebih rendah dibandingkan dengan posyandu di kota. Banyaknya kader yang aktif tidak selalu dapat menjadi faktor utama sebagai komponen kemandirian posyandu. Pendidikan kader dan kader aktif dapat menjadi komponen yang terkait sebagai indikator kapasitas posyandu
Background: Each year, about 12 million children under five in developing countries died that the real problem can be prevented. Various interventions have also been made include the establishment of a service model based society Posyandu is a form of implementation of community-based health services. Nutritional problems in Indonesia has a fairly close relations with the activeness of Posyandu activities. The existence of Posyandu activities depend on the willingness of the public contribution to the activity. Objective: To determine the factors - factors that affect the independence of Posyandu in Indonesia and can formulate appropriate policy as an effort to increase the capacity of Posyandu in Indonesia in improving health of the people, especially women and children. Methods: This study is a quantitative analysis of secondary data IFLS 2007. The study population was individuals and households in 13 provinces in Indonesia, using the entire sample of 581 Posyandu in Indonesia who were respondents IFLS 2007. Results: After statistical test showed that 64.89% Posyandu in Indonesia are categorized as independent Posyandu. Factors that most influence that has statistic relation on the independence of Posyandu is posyandu location�s (p value = 0.008), education cadre (p value 0.04), and the availability of funding sources Posyandu originating from the village budget (p value 0.007). Conclusion: The presence of independent Posyandu in Indonesia is still quite high. Posyandu in rural areas have the capacity of primary health care that is lower than the Posyandu in town. The number of active volunteers who are not always able to be a major factor a s a component posyandu independence. Active cadres and cadres of education can be related components as an indicator of the capacity of the Posyandu.
Kata Kunci : posyandu, sistem kerja posyandu