PERILAKU BETON SERAT KELAPA DAN BETON SERAT IJUK DENGAN VARIASI SERAT 0%; 0,175%; 0,35% TERHADAP BEBAN LEDAKAN
JESSLYN GAHARA D L, Ir. Suprapto Siswosukarto, Ph.D.
2015 | Skripsi | S1 TEKNIK SIPILKonflik antar daerah atau bahkan aksi terorisme yang masih terjadi di Indonesia tak jarang masih menggunakan bahan peledak yang dapat merusak bangunan-bangunan sekitar dan juga menimbulkan korban jiwa. Maka dari itu perlu adanya perancangan bangunan tahan ledak yang berada pada daerah konflik di Indonesia. Salah satu cara adalah dengan menggunakan bahan lokal yaitu serat ijuk dan serat kelapa sebagai bahan campuran beton untuk meningkatkan kekuatan beton. Kadar serat yang digunakan pada penelitian ini adalah 0%; 0,175%; 0,35% dari berat beton dan dengan panjang serat 5 cm. Kemudian dibuat benda uji berupa pelat beton berukuran 100 x 40 x 8 cm dan menghasilkan lima benda uji yaitu beton tanpa serat (BN), beton serat ijuk kadar 0,175% (BSI 0,175%), beton ijuk kadar 0,35% (BSI 0,35%), beton serat kelapa kadar 0,175% (BSK 0,175%), beton kelapa kadar 0,35% (BSK 0,35%). Bahan peledak, yaitu TNT dengan kapasitas 450 gram, berukuran 12 x 6 x 4 cm, ditempelkan pada tengah pelat beton untuk menguji kemampuan beton dalam menerima beban ledakan. Berdasarkan pengujian ledak yang telah dilakukan, seluruh benda uji hancur pada bagian tengah dikarenakan benda uji mengalami kegagalan geser pons. Benda uji BN; BSI 0,175%; BSI 0,35%; BSK 0,175%; BSK 0,35% memiliki kuat geser pons berturut-turut 83,572 kN; 62,114 kN; 64,6 kN; 61,528 kN; 51,536 kN. Sementara gaya yang dihasilkan dari ledakan TNT sebesar 141744,492 kN, sehingga seluruh benda uji hancur pada bagian tengah. Selain itu, benda uji BN; BSI 0,175%; BSI 0,35%; BSK 0,175%; BSK 0,35% memiliki kuat lentur berturut-turut 17,92 kN; 13,056 kN; 16,981 kN; 15,701 kN; 12,8 kN. Seluruh benda uji memiliki kuat lentur yang jauh di bawah gaya ledak TNT, sehingga benda uji mengalami retak-retak bahkan patah. Berdasarkan pengamatan pola retak akibat beban ledakan, dapat diperkirakan nilai kerusakan yang terjadi berdasarkan jumlah patahan yang tersisa dari benda uji BN; BSI 0,175%; BSI 0,35%; BSK 0,175%; BSK 0,35% berturut-turut adalah 52,88%; 60,85%; 66,08%, 69,93%; 71,7%. Penambahan serat kelapa dengan kadar 0,35% memiliki nilai kerusakan yang lebih kecil dibanding benda uji yang lain.
Konflik antar daerah atau bahkan aksi terorisme yang masih terjadi di Indonesia tak jarang masih menggunakan bahan peledak yang dapat merusak bangunan-bangunan sekitar dan juga menimbulkan korban jiwa. Maka dari itu perlu adanya perancangan bangunan tahan ledak yang berada pada daerah konflik di Indonesia. Salah satu cara adalah dengan menggunakan bahan lokal yaitu serat ijuk dan serat kelapa sebagai bahan campuran beton untuk meningkatkan kekuatan beton. Kadar serat yang digunakan pada penelitian ini adalah 0%; 0,175%; 0,35% dari berat beton dan dengan panjang serat 5 cm. Kemudian dibuat benda uji berupa pelat beton berukuran 100 x 40 x 8 cm dan menghasilkan lima benda uji yaitu beton tanpa serat (BN), beton serat ijuk kadar 0,175% (BSI 0,175%), beton ijuk kadar 0,35% (BSI 0,35%), beton serat kelapa kadar 0,175% (BSK 0,175%), beton kelapa kadar 0,35% (BSK 0,35%). Bahan peledak, yaitu TNT dengan kapasitas 450 gram, berukuran 12 x 6 x 4 cm, ditempelkan pada tengah pelat beton untuk menguji kemampuan beton dalam menerima beban ledakan. Berdasarkan pengujian ledak yang telah dilakukan, seluruh benda uji hancur pada bagian tengah dikarenakan benda uji mengalami kegagalan geser pons. Benda uji BN; BSI 0,175%; BSI 0,35%; BSK 0,175%; BSK 0,35% memiliki kuat geser pons berturut-turut 83,572 kN; 62,114 kN; 64,6 kN; 61,528 kN; 51,536 kN. Sementara gaya yang dihasilkan dari ledakan TNT sebesar 141744,492 kN, sehingga seluruh benda uji hancur pada bagian tengah. Selain itu, benda uji BN; BSI 0,175%; BSI 0,35%; BSK 0,175%; BSK 0,35% memiliki kuat lentur berturut-turut 17,92 kN; 13,056 kN; 16,981 kN; 15,701 kN; 12,8 kN. Seluruh benda uji memiliki kuat lentur yang jauh di bawah gaya ledak TNT, sehingga benda uji mengalami retak-retak bahkan patah. Berdasarkan pengamatan pola retak akibat beban ledakan, dapat diperkirakan nilai kerusakan yang terjadi berdasarkan jumlah patahan yang tersisa dari benda uji BN; BSI 0,175%; BSI 0,35%; BSK 0,175%; BSK 0,35% berturut-turut adalah 52,88%; 60,85%; 66,08%, 69,93%; 71,7%. Penambahan serat kelapa dengan kadar 0,35% memiliki nilai kerusakan yang lebih kecil dibanding benda uji yang lain.
Kata Kunci : serat ijuk, serat kelapa, beton serat, tahan ledak