Posisi Pemberitaan Kasus Ervani Emy Handayani di Surat Kabar (Analisis Isi pada Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat dan Harian Jogja Periode 29 Oktober 2014 hingga 5 Januari 2015)
LIA TITI MALINDA, Mufti Nur Latifah, SIP. MA
2015 | Skripsi | S1 ILMU KOMUNIKASIKasus pelanggaran UU ITE yang menjerat Ervani Emy Handayani merupakan salah satu kasus yang cukup menyita perhatian masyarakat Yogyakarta. Kasus yang bermula ketika Ervani memposting status di media sosial facebook kemudian dilaporkan oleh Dyas Sarastuti atau Ayas dengan tuduhan pencemaran nama baik melalui media elektronik. Media cetak lokal pun tak luput memberitakan kasus Ervani ini, seperti halnya Surat Kabar Kedaulatan Rakyat dan Harian Jogja. Posisi pemberitaan yang memihak seharusnya tidak boleh dilakukan. Sebuah berita yang disajikan haruslah bersifat netral dan tidak berpihak. Dalam penelitian ini maka kemudian muncul rumusan masalah, yakni bagaimana posisi pemberitaan kasus Ervani Emy Handayani di Surat Kabar Kedaulatan Rakyat dan Harian Jogja periode 29 Oktober 2014 hingga 5 Januari 2015? Peneliti menggunakan metode analisis isi kuantitatif yang dirasa tepat untuk melihat bagaimana posisi pemberitaan pada surat kabar berdasarkan hitungan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan indikator dimensi impartiality (ketidakberpihakan) sebagai tolak ukurnya. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa Harian Jogja lebih memiliki posisi pemberitaan yang cenderung berpihak kepada Ervani, namun tidak terlalu berpihak seperti halnya Kedaulatan Rakyat. Hal tersebut dapat dilihat dari 11 indikator yang diberikan, 4 indikator menunjukkan pada posisi netral (tidak mengandung 4 indikator tersebut). Sedangkan, hasil analisis data berikutnya menunjukkan bahwa Kedaulatan Rakyat cenderung memiliki posisi pemberitaan yang juga berpihak kepada pihak Ervani sebagai korban UU ITE dibandingkan pihak Ayas sebagai korban pencemaran nama baik. Terbukti dari 11 indikator yang diberikan, hanya terdapat 1 indikator saja yang menunjukkan posisi netral (sama sekali tidak mengandung indikator tersebut, yakni indikator stereotypes).
UU ITE infringement case that ensnare Ervani Emy Handayani is one case that enough attention people of Yogyakarta. Cases that began when Ervani post facebook status on social media then reported by Dyas Sarastuti or Ayas with allegations of defamation through electronic media. Local print media were not spared Ervani proclaim this case, as well as Kedaulatan Rakyat daily newspaper and Harian Jogja daily newspaper. Position reporting siding should not be done. A news is presented must be neutral and impartial. In this study it later emerged formulation of the problem, namely how to position reporting cases Ervani Emy Handayani in Kedaulatan Rakyat and Harian Jogja daily newspapers period October 29, 2014 until January 5, 2015? Researchers used quantitative content analysis method that seems right to see how the position of the news in the newspaper based on quantitative count. This study uses indicators of impartiality dimension as a starting measuring. Results from this study showed that Harian Jogja daily newspaper more positions that tend to side with Ervani, but not too closely aligned as well as Kedaulatan Rakyat daily newspaper. It can be seen from 11 indicators provided, 4 indicators show a neutral position (not containing 4 indicators). Meanwhile, the results of subsequent data analysis showed that Kedaulatan Rakyat daily newspaper tend to have a position reporting are also aligned to the Ervani as victims UU ITE compared Ayas as a victim of defamation. Evident of 11 indicators that are given, there is only one indicator that shows the neutral position (not containing these indicators, namely indicators of stereotypes).
Kata Kunci : analisis isi, impartiality, kasus Ervani, posisi pemberitaan, surat kabar; content analysis, impartiality, Ervani case, position reports, newspaper