Laporkan Masalah

UMAWIM

ALBERTUS HERIYANTO, Prof.Dr.P.M.Laksono, MA

2015 | Disertasi | S3 Antropologi

Seperti suku-suku lain di dunia, Orang Balim pun mengalami banyak kendala dalam proses integrasi sosialnya dalam masyarakat modern. Akibatnya, mereka mengalami ketegangan, stres dan frustrasi, yang membuat banyak di antara mereka terjebak dalam perjudian, kemabukan, pergaulan bebas dan tindak kekerasan. Dalam situasi masyarakat yang tidak stabil itulah pecah perang saudara di Assolokobal, yang dipicu oleh pelemparan babi. Studi ini menganalisis tentang betapa mendarahdagingnya budaya perang dalam masyarakat Balim, sehingga konflik kecil yang terjadi akibat pelemparan babi, bisa berkembang menjadi perang saudara (umawim). Upaya untuk menyelesaikan konflik itu secara dialogis gagal, dan ketika kata-kata tidak lagi berdaya, orang pun menggunakan kekerasan untuk menunjukkan eksistensi dan mempertahankan harga dirinya. Fokus penelitian ini tertuju pada beberapa pertanyaan berikut: mengapa peristiwa pelemparan babi bisa menyebabkan terjadinya umawim, bagaimana orang Balim di Assolokobal mengelola konflik tersebut, dan bagaimana dampak konflik tersebut terhadap integrasi masyarakat. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya telah melakukan penelitian antropologis yang berlangsung sejak Agustus 2011 sampai Agustus 2012. Setelah itu saya juga melakukan kunjungan kembali untuk menyegarkan data pada akhir Mei hingga pertengahan Juni 2014. Metode yang saya gunakan adalah metode etnografi, yaitu mengamati dan terlibat dalam kehidupan mereka guna memahami proses-proses sosial yang terjadi dalam masyarakat tersebut. Data saya kumpulkan dengan metode observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi kepustakaan. Data yang diperoleh kemudian saya susun secara sistematis dan saya analisis secara reflektif-interpretif guna memaknai setiap peristiwa, tindakan, serta simbol-simbol yang ada dalam kehidupan masyarakat tersebut. Hasil penelitian ini merupakan sebuah teori modernisasi masyarakat kesukuan. Temuan tersebut saya sajikan melalui deskripsi mendalam. Dengan cara tersebut saya menjelaskan pengaruh interkoneksi global terhadap masyarakat Balim. Dalam situasi liminal tersebut para tokoh setempat berusaha mengelola konflik yang terjadi dalam masyarakatnya dengan memanfaatkan sistem-sistem kendali sosial yang ada, baik nilai-nilai adat yang mereka miliki, maupun nilai-nilai agama dan hukum negara. Dalam pengelolaan konflik itu terlihat bagaimana mereka membentuk identitasnya sebagai orang Balim modern yang mencoba mengevaluasi budayanya, dan mengapropriasi berbagai hal baru ke dalam kehidupan mereka.

Like many other tribes in the world, Balim people also face constraints in their social integration process into modern society. As a result, they experience much stress and frustration, which have trapped them in gambling, drunkenness, promiscuity and acts of violence. In that unstable situation, a civil war happened in Assolokobal, which was triggered by a case of pelting a pig. This study analyzes how the culture of war is so innate in Balim society that a small conflict that occurred as a result of pelting a pig could turn into a civil war (umawim). Their efforts to resolve the conflict in dialogue was failed, and as words were powerless, Balim people use violence to show their existence and maintain their dignities. This research focused on some questions as follows: why a case of pelting a pig could cause an umawim, how the Baliem people in Assolokobal manage the conflict, and how the impact of the conflict is to the social integration. To answer those questions, I have done anthropological research that lasted from August 2011 to August 2012. After that I also did another visit to refresh the data at the end of May to mid-June 2014. The method I used was the ethnographic method in which I observed and involved in their lives in order to understand the social processes within the society. My data was collected by the method of participant observation, in-depth interviews, and through the study of literature. Then I collated the data systematically, and did a reflective-interpretive analysis to interpret any event, action, and symbol in the life of the people. The result of this research is a modernization theory of a tribal society. I present these findings in an in-depth description; by which I attempt to explain the influence of the global connections to the Balim people. In this liminal situation, the local leaders tried to manage conflicts in the society by utilizing any social control system, both traditional values, as well as religious values and state law. In their efforts to manage the conflict, we can see how they build their identities as a modern Balim, who try to evaluate their culture and to appropriate new things into their lives.

Kata Kunci : Kata kunci: Balim, umawim, konflik, oposisi segmentaris, integrasi.

  1. S3-2015-274781-abstract.pdf  
  2. S3-2015-274781-bibliography.pdf  
  3. S3-2015-274781-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2015-274781-title.pdf