Laporkan Masalah

SIASAT ELIT MENCURI KUASA NEGARA DI KABUPATEN MANOKWARI SELATAN PROVINSI PAPUA BARAT

I NGURAH SURYAWAN, Prof. Dr. P.M. Laksono, M.A

2015 | Disertasi | S3 Antropologi

Desertasi ini mempermasalahkan bagaimana siasat para elit dalam mengapropriasi kuasa negara di Kabupaten Manokwari Selatan Provinsi Papua Barat melalui permainan identitas budaya. Data-data di lapangan mengungkapkan proses transformasi orang-orang Papua melalui pemekaran daerah sangat rentan diapropriasi (dicuri) oleh para elit yang mengatasnamakan orang-orang Papua yang non-elit. Oleh karena itu kondisi di tengah masyarakat Papua menjadi terpecah-belah, kehilangan solidaritas bersama, dan transformasi sosial budaya pun menjadi mandeg. Untuk menjelaskan masalah ini saya memilih pendekatan reflektif yang menempatkan subyek identitas budaya orang Papua sebagai ruang penafsiran persoalan resistensi (siasat), perlawanan serta gerakan sosial. Metodologi reflektif memungkinkan saya bersama-sama orang Papua untuk membangun pengetahuan dan berefleksi mengubah diri masing-masing. Saya menempatkan persoalan dari desertasi ini sebagai bagian dari krisis akulturasi dalam transformasi sosial budaya yang diapropriasi elit. Saya melakukan penelitian lapangan di Kampung SA Kabupaten Manokwari Selatan dan Kota Manokwari selama satu tahun sepanjang 2013-2014.

This dissertation deals with the problem of the elites tactics in appropriating state power in South Manokwari District, West Papua Province, by using cultural identity tricks. Field data reveal that the process of Papuan peoples transformation through the creation of new administrative regions is very susceptible to being appropriated by the elites who act in the name of the nonelite Papuans. Therefore, the people become divided, lose their collective identity, and the socio-cultural transformation becomes stagnant. In order to explain this problem, I chose to apply the reflective approach that places the subject of Papuan cultural identity as a space for interpreting the issues of resistance, opposition and social movement. Reflective methodology enables me to be together with the Papuan people in developing knowledge and reflecting to change ourselves. I put the problem of this dissertation as part of the acculturation crisis in the socio-cultural transformation appropriated by the elites. I conducted my field research in SA Village, South Manokwari District, and Manokwari City for a year, from 2013 to 2014.

Kata Kunci : pemekaran, transformasi, siasat, elit, identitas budaya, akulturasi, reflektif