PENGARUH PERUBAHAN SISTEM MANAJEMEN PERUSAHAAN JEPANG PASKA MELETUSNYA EKONOMI GELEMBUNG TERHADAP MENINGKATNYA JUMLAH FREETER
VIEMA MIRZALITA, Stedi Wardoyo, SS. ,MA
2015 | Skripsi | S1 SASTRA JEPANGPenelitian ini membahas tentang peningkatan jumlah freeter di Jepang sebagai akibat dari berubahnya sistem manajemen perusahaan paska meletusnya ekonomi gelembung yang terjadi pada tahun 1986 sampai 1992. Perubahan yang dimaksud ialah dihapuskannya sistem kontrak kerja seumur hidup karena dianggap sudah tidak relevan lagi .Freeter adalah orang yang berusia15-34 tahun, tidak sedang melakukan pekerjaan rumah tangga ataupun bersekolah serta melakukan satu pekerjaan ke pekerjaan lain dan dari satu tempat ke tempat lain. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, yaitu dengan menelaah informasi yang terkumpul dan kemudian memaparkan dalam bentuk deskripsi. Untuk tujuan tersebut, dikumpulkan informasi yang berasal dari hasil penelitian yang sudah ada, seperti buku yang ditulis oleh Toshiaki Tachibanaki, 2004 yang berjudul Datsu Furiitaa Shakai dan karya ilmiah oleh Peter Firloka, 2006 yang berjudul Japanese Practices Past and Future, serta sumber yang dipublikasikan lainnya seperti: artikel, jurnal ilmiah/popular dan surat kabar. Meletusnya ekonomi gelembung sangat berdampak pada sistem manajemen perusahaan di Jepang, khususnya sistem kontrak kerja seumur hidup. Perekonomian Jepang yang mengalami penurunan mengakibatkan perusahaan mengubah sistem manajemen untuk mengurangi pengeluaran. Sistem yang digunakan ialah dengan mengurangi jumlah pekerja reguler dan menambah pekerja non-reguler, salah satunya freeter. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa dengan memperkerjakan pekerja non regular seperti freeter, perusahaan dapat meminimalisir pengeluaran karena freeter tidak mendapat tunjangan keluarga, jaminan sosial, dan bonus dari perusahaan. Dengan demikian, jumlah freeter di Jepang paska meletusnya ekonomi gelembung pada tahun 1982 mengalami peningkatan yang sangat tajam sampai tahun 2002. Dalam kurun waktu 10 tahun, peningkatan jumlah freeter mencapai empat kali lipat dari jumlah sebelumnya. Kata kunci : ekonomi gelembung, sistem kontrak kerja seumur hidup, perusahaan Jepang, freeter.
The present research discusses about the increased number of freeter in Japan as a result of changes in companies management system after the burst of bubble economy in 1986-1992. The changes caused the abolishment of the lifetime employment system as it was no longer relevant. People considered as Freeter are those whose age within 15-34 years old and do not involved as workers in certain places or doing any household duties, as well as getting any formal or non-formal educations. The method used in this research is a descriptive qualitative method by collecting the required data and then analyze them. The data were gained from some previous researches namely a book written by Toshiaki Tachibanaki entitled Datsu Furiita Shakai (2004), an article written by Peter Firloka entitled Japanese Practices Past and Future (2006), and some other articles, journals and newspapers. The burst of the bubble economy greatly affects the companies� management system in Japan, especially in the lifetime employment system. The decrease of Japanese economy forced many companies changing their management system in order to minimize the companies� expense by reducing the number of regular workers and increasing the non-regular workers, including the freeter. Based on the research analysis, it can be concluded that by hiring nonregular workers, such as freeter, companies can reduce the expenses as freeter do not get any family and social allowances or bonuses from the companies. Thus, the number of freeter in Japan after the burst of bubble economy in 1982 had increased very sharply until 2002. Keywords: bubble economy, lifetime employment system, Japanese companies�, freeter.
Kata Kunci : ekonomi gelembung, sistem kontrak kerja seumur hidup, perusahaan Jepang, freeter.