Laporkan Masalah

MENJADI MUSLIM MUNA; Katoba, Proses Reproduksi Identitas dalam Masyarakat Muna

ASLIAH ZAINAL, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra; Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A.

2015 | Disertasi | S3 Antropologi

ABSTRAK Praktek pelaksanaan agama dalam banyak masyarakat Indonesia menyuguhkan fakta agama tak selalu bisa dipisahkan secara tegas dari praktek adat atau tradisi lokal. Penelitian-penelitian tentang komunitas muslim banyak menegaskan fenomena ini. Sebut saja misalnya Jay (1969); Nakamura (1984); Koentjaraningrat (1985); Muhaimin, (2002); Beatty, (2001); Pranowo, (2009); Haliadi (2001). Penelitian-penelitian tersebut menegaskan bagaimana Islam yang dilandasi oleh kultur lokal memiliki varian yang beragam. Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari akar lokalitasnya, oleh sebab Islam yang hadir pada suatu wilayah tertentu tidak lahir dalam kevakuman budaya. Studi ini mengkaji satu ritual inisiasi anak dalam masyarakat Muna yang disebut dengan ritual katoba. Dengan pendekatan interpretif-fenomenologis, studi ini menfokuskan pada penafsiran atas makna-makna dalam simbol katoba, baik simbol verbal maupun nonverbal. Simbol-simbol yang terlihat dalam katoba menunjukkan banyak makna dalam masyarakat Muna, yaitu makna pertobatan dan pengislaman, mengaktifkan kembali peran-peran dalam katoba demi sebuah kohesi sosial dalam masyarakat, hingga akhirnya dapat mengantarkan seseorang menjadi manusia rahasia atau sebaliknya menjadi manusia sia-sia. Keseluruhan simbol-simbol dalam katoba dan bagaimana simbol-simbol tersebut dimaknai memperlihatkan bahwa katoba adalah cara masyarakat Muna menunjukkan identitas sosial mereka yang mencakup dua hal sekaligus, yaitu identitas budaya (sebagai orang Muna) dan identitas agama (sebagai orang Islam). Dengan demikian katoba adalah cara masyarakat menunjukkan identitas mereka sebagai Muslim Muna. Katoba pada dasarnya memuat dua elemen sekaligus, yaitu elemen-elemen tradisi lokal dan elemen-elemen Islam. Bercampurnya elemen-elemen tradisi lokal dalam penyelenggaraan katoba menyebabkan masyarakat memaknai simbol-simbol dalam ritual secara berbeda. Perbedaan pemaknaan terhadap simbol-simbol katoba memunculkan tiga varian Islam dalam masyarakat Muna, yaitu Islam tradisi, Islam puritan, dan Islam alternatif. Tiga kategorisasi Islam dalam masyarakat Muna didasarkan pada perbedaan paham tentang boleh tidaknya elemen tradisi hadir dalam ritual. Walaupun berbeda dalam pemaknaan, akan tetapi masing-masing varian melakukan upaya akomodasi dan negosiasi atas posisi tawar mereka berhadapan dengan varian lainnya dalam kapasitas sebagai bagian dari keluarga besar dan sebagai orang Muna. Negosiasi dilakukan dalam pemahaman agama dan dalam relasi soial yang lebih luas. Negosiasi yang dilakukan masing-masing varian tersebut menunjukkan bagaiamana identitas sosial direproduksi dari sesuatu yang boleh jadi tidak sama pada awalnya. Selain itu, ritual katoba yang dilaksanakan dalam tiap tahap life-cycle dan mengapa ia masih tetap dipraktekkan oleh masyarakat Muna menggarisbawahi bagaimana reproduksi identitas sebagai muslim Muna perlu dikuatkan dan ditegaskan sepanjang hidup manusia. Lagi pula, katoba yang tetap dilakukan masyarakat Muna baik ia bertempat di dalam maupun di luar sentral kebudayaan menegaskan bahwa identitas perlu direproduksi secara terus menerus dan tak pernah usai.

ABSTRACT The implementation of religious practice in many Indonesian local-communities present that religion could not be strictly separated from the practice of local customs or traditions. The abundance researches on Muslim communities confirm this phenomenon, such as Jay (1969); Nakamura (1984); Koentjaraningrat (1985); Muhaimin, (2002); Beatty, (2001); Pranowo, (2009); Haliadi (2001). These studies highlight how Islam is mingled with the local culture has diverse variants. Islam in Indonesia could not be separated from the local tradition, and because Islam is practiced in certain area is not born in a cultural vacuum. This study examines the ritual of initiation among Munanese community was called katoba. By using interpretive-phenomenological approach, this study focuses on the interpretation of both verbal and nonverbal symbols in katoba ritual. The symbols appear in katoba show a lot of meaning. We can find the meaning of repentance, how to be Muslim, reactivate social roles within katoba in favor of a social cohesion, and finally, katoba could deliver the human being to become a perfect man or otherwise becomes useless man. Such symbols in katoba and how these symbols are interpreted are the way how Munanese people present their social identity which includes both ethnic identity (as the Munanese people) and religious identity (as a Muslim). Thus katoba among Munanese is how people identify themselves as Munanese Muslims. Katoba basically contains two elements at once, the elements of local tradition and the elements of Islam. The mixture of traditional elements and Islamic elements in practices katoba ritual causes Munanese people interpret the symbols differently. Differences the meaning toward the symbols of katoba raises three variants of Islam in Munanese society, namely traditional Islam, puritan Islam, alternative Islam. Three categories base on the different understanding whether the elements of tradition could be present or not in ritual. Although each variants give the different meaning, but all do the negotiation efforts on their bargaining position to deal with the other variants in the capacity as part of a large family and as the Munanese people. Negotiations are carried out by each of these variants shows how the social identity is reproduced that may not be the same at first. However, katoba ritual performed in every life-cycle stage and why it is still practiced by the people of Muna underlined how the reproduction of identity as Munanese Muslims is definitely needed to strength repeatedly. Moreover, the ritual still practiced by Munanese whether they are inside or outside Muna indicate that the identity reproduction is continues over time and never ended.

Kata Kunci : Ritual inisiasi, Islam dan adat, Katoba Muna, Reproduksi identitas, Negosiasi, Simbol dan makna ritual