PERENCANAAN KOLABORATIF ANTAR DAERAH DI PERBATASAN KOTA-KOTA JOGLOSEMAR
HADI WAHYONO, Prof.Ir.Achmad Djunaedi,MUP.,Ph.D.
2015 | Disertasi | S3 ILMU ARSITEKTURKarena garis batas daerah bersifat maya, pengaruh otonomi daerah kota melewati garis batas daerah dan mempengaruhi daerah tetangga di kawasan perbatasan. Akibatnya, kawasan perbatasan menjadi tempat terjadinya saling pengaruh antar daerah yang saling berbatasan di dalamnya. Kota dan daerah tetangga memanfaatkan kolaborasi antar daerah di kawasan perbatasan, untuk memenuhi kepentingannya sendiri, kepentingan bersama dengan daerah tetangga, dan atau wilayah yang lebih luas. Jika kota memanfaatkannya untuk kepentingan daerahnya sendiri, interaksi yang terjadi cenderung menguntungkan hanya kota tersebut dan merugikan daerah tetangga. Interaksi yang demikian bersifat rawan konflik. Sebaliknya, jika mereka memanfaatkannya untuk kepentingan bersama, dalam bentuk kerja sama antar daerah, dapat menguntungkan bersama. Sifat yang demikian menunjukkan bahwa kawasan perbatasan memiliki sifat mendua. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitian disertasi ini adalah memperkaya teori perencanaan kolaboratif antar daerah, melalui penelitian terhadap ragam interaksi dan strategi kolaborasi antar daerah di perbatasan kota-kota Joglosemar. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian disertasi ini menggunakan strategi penelitian studi kasus. Penelitian ini menggunakan dua tahap penelitian. Tahap pertama adalah pengkategorisasian kasus-kasus penelitian, yaitu memasukkan kasus-kasus ke dalam kategori-ketegori sesuai proposisi penelitian. Tahap kedua adalah kajian kasus-kasus dan lintas kasus untuk mengkaji secara terperinci terhadap kontribusi kasus terhadap penelitian. Penelitian ini menggunakan paradigma interpretivisme, dengan pendekataan kualitatif, metoda pengumpulan data wawancara dengan narasumber, pengamatan lapangan dan dokumen; serta metoda kajian secara tematik. Berdasarkan hasil penelitian disertasi ini, teori perencanaan kolaboratif antar daerah yang dapat dibangun dari penelitian terhadap perbatasan kota-kota Joglosemar adalah perencanaan yang mewadahi daerah-daerah yang terlibat sehingga dapat melihat perbedaan masalah secara konstruktif, dapat mengeksplorasi perbedaan, dan mencari solusi yang melampaui keterbatasan pemahaman daerah-daerah tersebut terhadap kemungkinan yang ada. Untuk menghadapi sifat mendua di perbatasan kota, perencana dapat menggunakan dua pendekatan perencanaan antar daerah yang berhasil digali melalui penelitian disertasi ini, yaitu pendekatan yang berbasis otonomi dan berbasis fungsi. Pendekatan berbasis kewajiban sosial daerah mempertimbangkan cara pandang daerah di dalam perencanaan kolaboratif antar daerah, yang mengedepankan otonomi daerah. Kasus-kasus yang menggunakan pendekatan berbasis otonomi daerah-adalah kasus-kasus yang melibatkan lembaga-lembaga daerah, baik lembaga-lembaga penentu kebijakan maupun lembaga-lembaga teknis daerah di dalam kolaborasi antar daerah. Hal ini sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada, baik perundang-undangan maupun peraturan-peraturan pelaksanaannya. Pendekatan berbasis kewajiban sosial daerah mempertimbangkan cara pandang daerah di dalam perencanaan kolaboratif antar daerah, yang mengedepankan kewajiban sosial daerah dalam urusan lintas batas daerah, yaitu memenuhi kepentingan dan kebutuhan masyarakat umum. Dengan mengedepankan fungsinya tersebut, daerah seringkali menyingkirkan otonomi atau kewenangan yang bersifat administratif yang melekat padanya. Dengan kata lain, pada pendekatan ini, daerah cenderung meniadakan batas-batas administrasi di dalam pelayanan publik lintas daerah di perbatasan kota. Disamping mempertimbangkan cara pandang daerah terhadap kolaborasi antar daerah, atau dengan kata lain harus mempertimbangkan kewajiban otonomi daerah dan sosial daerah, perencanaan kolaboratif antar daerah di lingkungan mendua juga harus mempertimbangkan cara bersikap daerah terhadap daerah tetangga. Sikap kooperatif suatu daerah terhadap daerah tetangga di perbatasan kota adalah bahwa daerah tersebut yang lebih memperhatikan daerah tetangga daripada kepentingan daerahnya sendiri, sedangkan sikap asertif adalah sikap suatu daerah yang cenderung lebih memperhatikan kepentingan atau penyediaan kebutuhan dan kepentingan daerahnya sendiri, daripada kepentingan daerah tetangga. Sikap asertif berkebalikan dengan kooperatif yang lebih memperhatikan kepentingan bersama daripada kepentingan daerahnya sendiri.. Dalam perencanaan kolaboratif antar daerah di perbatasan kota, sikap asertif dilakukan oleh suatu daerah karena daerah tersebut mengedepankan kebutuhan dan kepentingan daerahnya sendiri, termasuk mengedepankan kebutuhan dan kepentingan masyarakat di kawasan perbatasannya daripada kepentingan daerah tetangga. Dalam beberapa kondisi, sikap asertif dilakukan oleh suatu daerah karena merasa memiliki kapasitas potensi daerah yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah tetangga. Oleh karena itu, daerah tersebut berani untuk melakukan interaksi dengan daerah tetangga, baik secara langsung maupun tidak langsung memberikan pengaruh kepada daerah tetangga.
Because the area is a virtual boundary line, the influence of regional autonomy the city crossed the line and affect the neighboring areas in border oc the city. As a result, border of the city became the scene of the interplay between regions that abut each other in it. The city and its neighboring areas take advantage of the interaction between regions in the border, to meet their own interests, mutual interests with neighboring regions, and or the wider region. If city use it for the benefit of their own region, the interactions that occur tend to benefit only the city and its neighboring areas disadvantage. Such interactions are prone to conflict. Conversely, if they use it for the common good, in the form of inter-regional cooperation, can benefit together. Such properties show that the border has properties ambiguity. Based on the research background, this dissertation research goal is to enrich the theory of collaborative planning between regions, through a variety of research on the interaction and collaboration among regional strategies in urban areas in the border towns that are Joglosemar ambiguity. To achieve these objectives, this research used strategy case study. This study used a two-stage study. The first stage is the categorization of case studies, which include cases in a category-category corresponding research propositions. The second stage is the study of cases and traffic cases to study in detail the contribution of the case study. This study used interpretivism paradigm, with a qualitative approach, the method of data collection in-depth interviews, field observations and documents; as well as the method of thematic studies. Based on the results of this researh, the theory of collaborative planning between regions which can be built from a study of urban areas in the border towns accommodate Joglosemar is planning areas involved so that they can see the difference problem constructively, can explore the differences, and seek solutions beyond the understanding of the limitations of these areas to the existing possibilities. To deal with the nature of ambiguity in border of the city, planners can use two inter-regional planning approach that successfully explored through the study of this dissertation, namely the autonomy-based approach and based functions. Autonomy based approach is an approach that considers the local perspective in collaborative planning between regions, which emphasizes local autonomy. The cases of regional autonomy based approach-are cases involving local institutions, both institutions and policy making institutions in the technical area of interaction between regions. This is in accordance with existing regulations, both statutory and regulatory implementation. While the function-based approach is an approach that considers the local perspective in collaborative planning between regions, which emphasizes local service functions in matters of cross-border regions, which meet the interests and needs of the general public. By prioritizing functions, regions often get rid of autonomy or authority of an administrative nature attached to it. In other words, in this approach, the region tends to negate the administrative boundaries in the public services across regions in border of the city. Besides considering the regional perspective of the interactions between regions, or in other words should consider regional autonomy and service functions of cross-border, inter-regional collaborative planning environment ambiguity should also consider how to behave towards the neighboring areas. A cooperative attitude towards the neighboring areas in the urban area on the border of the city is that the area is more concerned than the neighboring regions own regional interests. Meanwhile, the attitude of assertiveness is an area that tends to pay more attention to the interests or the provision of the needs and interests of its own country, rather than the interests of neighboring regions. Assertive attitude contrasts with a more cooperative attention to common interests rather than the interests of its own country .. In a collaborative planning between regions in the border of the city, assertiveness performed by an area because the area promoting the needs and interests of its own country, including prioritizing the needs and interests of the community in the border region rather than the interests of neighboring regions. In some conditions, assertiveness performed by a local region because they feel has the potential capacity of the area is higher than the neighboring regions. Therefore, the local region dare to make interaction with neighboring regions, either directly or indirectly give effect to the neighboring areas.
Kata Kunci : collaborative planning, local region interactions, collaboration strategies, local region cooperation.