MENCARI CELAH KESEMPATAN: PENGORGANISASIAN REMAJA DALAM PROGRAM SEKOLAH REMAJA YAYASAN KAMPUNG HALAMAN
VUVUT ZERY HARYANTO, Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, MA
2015 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYAPasca Orde Baru 1998, Indonesia memasuki masa transisi dari negara yang bersistem otoriter menuju sistem demokrasi. Transisi disini diisi oleh masyarakat dalam membentuk berbagai pola dan pilihan seperti pilihan politik, ekonomi, dan pengekspresian diri. Salah satu bagian dari masyarakat yang ikut terlibat dalam pembentukan pola dan pilihan adalah Remaja. Pada awal 80-an dan awal 90-an, remaja menghiasi berbagai artikel, surat kabar yang menceritakan aktivitas mereka di dalam konser musik rock, bioskop, disco, sepak bola, dan tawuran. Stereotip tentang remaja ini menggambarkan bahwa mereka adalah kelompok orang yang belum matang, tidak disiplin, dan gampang naik darah. Dapat dikatakan juga mereka adalah kelompok rentan dimasyarakat. Pada 2000-an, khususnya di kota Cirebon, sekelompok remaja menghiasi surat kabar dengan berita bahwa mereka adalah bagian dari kelompok geng motor yang bisa bertindak apa saja terhadap orang lain. Ditengah gemparnya berita kenakalan yang dilakukan oleh remaja Cirebon, ada salah satu dusun di Cirebon yang remaja di dalamnya mencoba berkontribusi aktif dalam pembangunan wilayah tempat tinggalnya menjadi lebih baik. Tulisan ini akan membahas bagaimana proses remaja Surapandan berkontribusi aktif dalam pembangunan dusun Surapandan. Tentu akan ada proses panjang yang dilalui remaja Surapandan melihat posisi mereka dianggap sebagai invididu yang belum matang. Selain itu, secara hukum Pidana dan Perdata, remaja tidak masuk dalam kategori tersendiri dan tidak dijelaskan di dalamnya. Lokasi penelitian dilakukan di Dusun Surapandan, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.
The year 1998 marked a new era for Indonesia: the downfall of "New Order" political regime put Indonesia in a transition into democracy. People finally have more economic and political choices, as well as self-expressions. The changes affected all part of society including youth and teenagers, who - in the 80s and 90s - were heavily stereotyped and related with rock music, movie theatres, discotheque, football, and student fights. Said stereotypes thus pictured youth as immature and indiscipline; a weak link of the society's chain. Came the 2000s, the news were shaken by a group of youth in Cirebon claiming they were outlaw motorcycle gang who could do whatever mischief they please to everything and everyone. On the other end of the stick, there was also a hamlet in Cirebon in which the youth there are developing an improving themselves. With this writings, the author seeks to understand and analyze the youth of Surapandan's process of developing themselves and improving their communities and village. It's a long and difficult process, indeed, knowing that the youth was seen as immature individuals. The research was conducted in Surapandan hamlet, Argasunya village, Harjamukti sub-regency, the city of Cirebon.
Kata Kunci : remaja, kampung halaman, pengorganisasian, antropologi terapan