Memahami Transformasi Gerakan Simbolik: Study Kasus Aksi Kamisan
LEONARDO JULIUS P, Dr. Haryanto, MA
2014 | Tesis | S2 Politik dan PemerintahanAbstraksi Penelitian ini ditujukan untuk memahami proses transformasi salah satu bentuk aksi kolektif banalitas menjadi sebuah bentuk aksi simbolik tanpa mengabaikan tujuan utama gerakannya. Protes, yang selalu identik dengan hingar-bingar, tumpah ruah turun ke jalan, berteriak lantang dengan pengeras suara dan tak jarang merusak fasilitas publik untuk menarik simpati dari masyarakat luas, akan menemui sensasi berbeda lewat aksi simbolik. Lain bentuk aksi, lain pula strategi yang diterapkan. Aksi banalitas kebanyakan menerapkan strategi yang srampangan dan lebih dipengaruhi oleh emosional sesaat, namun aksi simbolik Kamisan mengejewantahkan pandangan-pandangan itu. Nyatanya, untuk menyampaikan gagasan dan mencari sela pencapaian tujuan gerakan tidak harus dengan cara-cara yang sudah lumrah dikenal, bahkan dengan metode yang melekat karakteristik tersendiri di dalam bentuk gerakan dan membuatnya berbeda dari kebanyakan aksi, terbukti memiliki implikasi positif terhadap simpati sebagai dukungan atas pencapaian tujuan gerakan. Sedikit demi sedikit, gerakan sederhana tapi teratur ini mampu membangkitkan ingatan kolektif tentang tanggung jawab Negara kepada warganya. Inilah sebuah aksi simbolik yang ditujukan untuk misi besar yang sayang belum banyak diketahui eksistensinya oleh publik dan luput dari amatan ilmuan. Penelitian ini mengambil tempat di Jakarta dan Yogyakarta. Jakarta sebagai titik pusat kekuasaan Negara sebagai pihak yang dituntut oleh gerakan ini dan Yogyakarta merupakan jaringan pengembangan gerakan simbolik. Sebelum lebih jauh, harus dipetakan secara garis besar perihal aksi Kamisan di kedua kota tersebut. Pertama, aksi Kamisan di Jakarta menyoal pengusutan secara tuntas kasus-kasus kejahatan HAM masa lalu dengan sasaran mendesak Presiden mengeluarkan Keppres pembentukan HAM ad hoc, meski dalam aksi di depan Istana itu jamak kasus pelanggaran HAM di masa demokrasi yang diusung, hal itu sebatas manifestasi partisipasi dari transitory teams dan conscience constituency, kasus-kasus yang bukan permasalahan HAM berat masa lalu selalu silih berganti, namun kasus-kasus kunci yang melibatkan petinggi militer di masa lalu tetap bernilai tinggi untuk selalu diwacanakan. Di samping itu, lahirnya aksi simbolik di Jakarta mengawali gambaran atas kegagalan-kegagalan serangkaian aksi banalitas dalam mencapai tujuan utama para korban/keluarga korban kejahatan HAM masa lalu. Apakah kelemahan dan potensi kegagalan dalam aksi banalitas masih bisa ditemui dalam aksi simbolik ini? Jawabannya: iya, namun sejauh itu pula mempertahankan bentuk aksi simbolik masih menjadi bentuk gerakan yang ideal dijadikan kendaraan untuk sampai pada tujuan akhir korban/korban kejahatan HAM masa lalu. Kedua, berbeda dengan aksi Kamisan di Jakarta, gerakan simbolik di luar kota Jakarta sengaja diinisiasi dan dimobilisasi untuk sekedar menggugat ingatan kolektif masyarakat terhadap isu-isu kemanusiaan. Dari dimensi politik, aksi simbolik di luar Jakarta digunakan untuk mengadvokasi kelompok-kelompok lemah dan minoritas dalam mendapatkan hak-hak dasarnya dalam kehidupan sosial dan menuntut Negara agar lebih responsible dengan rasa aman mereka. Para pejuang HAM dan penggiat isu-isu kemanusiaan merancang tujuan yang berbeda di balik satu bentuk aksi yang sama. Babak akhir, proses penelitian ini mengarahkan penarikan kesimpulan pada ketidakoptimalan penggunaan strategi aksi banalitas untuk mencapai tujuan gerakan yang kondisi (status quo) semakin diperburuk dengan ketiadaan political will dari elit-elit politik untuk mengakomodir tuntutan para korban/keluarga korban kejahatan HAM masa lalu. Keyakinan dengan capaian tujuan gerakan seperti yang ditorehkan para the Mothers di Argentina mulai rapuh dari para pelaku aksi Kamisan. Strategi melawan Negara dan pertaruhan kemampuan mempolitisasi isu kejahatan HAM masa lalu sedang dalam ujian yang bergerak dinamis: terkadang mencerahkan, terkadang juga memutus asa.
Abstraksi Penelitian ini ditujukan untuk memahami proses transformasi salah satu bentuk aksi kolektif banalitas menjadi sebuah bentuk aksi simbolik tanpa mengabaikan tujuan utama gerakannya. Protes, yang selalu identik dengan hingar-bingar, tumpah ruah turun ke jalan, berteriak lantang dengan pengeras suara dan tak jarang merusak fasilitas publik untuk menarik simpati dari masyarakat luas, akan menemui sensasi berbeda lewat aksi simbolik. Lain bentuk aksi, lain pula strategi yang diterapkan. Aksi banalitas kebanyakan menerapkan strategi yang srampangan dan lebih dipengaruhi oleh emosional sesaat, namun aksi simbolik Kamisan mengejewantahkan pandangan-pandangan itu. Nyatanya, untuk menyampaikan gagasan dan mencari sela pencapaian tujuan gerakan tidak harus dengan cara-cara yang sudah lumrah dikenal, bahkan dengan metode yang melekat karakteristik tersendiri di dalam bentuk gerakan dan membuatnya berbeda dari kebanyakan aksi, terbukti memiliki implikasi positif terhadap simpati sebagai dukungan atas pencapaian tujuan gerakan. Sedikit demi sedikit, gerakan sederhana tapi teratur ini mampu membangkitkan ingatan kolektif tentang tanggung jawab Negara kepada warganya. Inilah sebuah aksi simbolik yang ditujukan untuk misi besar yang sayang belum banyak diketahui eksistensinya oleh publik dan luput dari amatan ilmuan. Penelitian ini mengambil tempat di Jakarta dan Yogyakarta. Jakarta sebagai titik pusat kekuasaan Negara sebagai pihak yang dituntut oleh gerakan ini dan Yogyakarta merupakan jaringan pengembangan gerakan simbolik. Sebelum lebih jauh, harus dipetakan secara garis besar perihal aksi Kamisan di kedua kota tersebut. Pertama, aksi Kamisan di Jakarta menyoal pengusutan secara tuntas kasus-kasus kejahatan HAM masa lalu dengan sasaran mendesak Presiden mengeluarkan Keppres pembentukan HAM ad hoc, meski dalam aksi di depan Istana itu jamak kasus pelanggaran HAM di masa demokrasi yang diusung, hal itu sebatas manifestasi partisipasi dari transitory teams dan conscience constituency, kasus-kasus yang bukan permasalahan HAM berat masa lalu selalu silih berganti, namun kasus-kasus kunci yang melibatkan petinggi militer di masa lalu tetap bernilai tinggi untuk selalu diwacanakan. Di samping itu, lahirnya aksi simbolik di Jakarta mengawali gambaran atas kegagalan-kegagalan serangkaian aksi banalitas dalam mencapai tujuan utama para korban/keluarga korban kejahatan HAM masa lalu. Apakah kelemahan dan potensi kegagalan dalam aksi banalitas masih bisa ditemui dalam aksi simbolik ini? Jawabannya: iya, namun sejauh itu pula mempertahankan bentuk aksi simbolik masih menjadi bentuk gerakan yang ideal dijadikan kendaraan untuk sampai pada tujuan akhir korban/korban kejahatan HAM masa lalu. Kedua, berbeda dengan aksi Kamisan di Jakarta, gerakan simbolik di luar kota Jakarta sengaja diinisiasi dan dimobilisasi untuk sekedar menggugat ingatan kolektif masyarakat terhadap isu-isu kemanusiaan. Dari dimensi politik, aksi simbolik di luar Jakarta digunakan untuk mengadvokasi kelompok-kelompok lemah dan minoritas dalam mendapatkan hak-hak dasarnya dalam kehidupan sosial dan menuntut Negara agar lebih responsible dengan rasa aman mereka. Para pejuang HAM dan penggiat isu-isu kemanusiaan merancang tujuan yang berbeda di balik satu bentuk aksi yang sama. Babak akhir, proses penelitian ini mengarahkan penarikan kesimpulan pada ketidakoptimalan penggunaan strategi aksi banalitas untuk mencapai tujuan gerakan yang kondisi (status quo) semakin diperburuk dengan ketiadaan political will dari elit-elit politik untuk mengakomodir tuntutan para korban/keluarga korban kejahatan HAM masa lalu. Keyakinan dengan capaian tujuan gerakan seperti yang ditorehkan para the Mothers di Argentina mulai rapuh dari para pelaku aksi Kamisan. Strategi melawan Negara dan pertaruhan kemampuan mempolitisasi isu kejahatan HAM masa lalu sedang dalam ujian yang bergerak dinamis: terkadang mencerahkan, terkadang juga memutus asa.
Kata Kunci : Kata Kunci: Aksi Simbolik, Kejahatan HAM, Pengadilan HAM ad hoc, dan Melawan Negara