PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP IMUNISASI CAMPAK DI DESA SUKOHARJO KECAMATAN NGAGLIK KABUPATEN SLEMAN
YULIA IRENE H, Dr. Dra. Atik Tri Ratnawati,MA ; dr. Riris Andono Ahmad, MPH., PhD.
2015 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatABSTRAK Latar Belakang : Daerah Istimewa Yogyakarta adalah daerah dengan cakupan imunisasi campak terbaik di Indonesia (90-100%), namun kejadian luar biasa (KLB) campak masih sering terjadi. Pada tahun 2010, KLB campak dengan kasus yang cukup banyak terjadi di Desa Sukoharjo Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman dan di beberapa wilayah lainnya. Tujuan : Untuk memperoleh gambaran secara mendalam mengenai persepsi masyarakat terhadap imunisasi campak. Metode : Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan rancangan fenomenologis. Subjek penelitian adalah informan yang diambil secara purposive sampling, yaitu sampel yang dipilih bukan tergantung pada populasi penelitian, tetapi disesuaikan dengan kepentingan peneliti agar mendapatkan informasi mendalam yang diperlukan. Analisis data dimulai dari mengumpulkan data melalui wawancara mendalam maupun diskusi kelompok terarah, kemudian melakukan transkrip, koding data, kategorisasi dan menginterpretasikan data, sehingga menghasilkan suatu narasi/laporan kualitatif. Hasil : Masyarakat mempunyai persepsi bahwa penyakit campak adalah penyakit biasa dan sudah ada sejak jaman dulu, serta bisa menular tetapi mereka lebih yakin bahwa semua penyakit datang dari Tuhan dan Tuhan yang akan menyembuhkan. Imunisasi campak bukanlah satu-satunya pencegah penyakit tetapi salah satu usaha agar seseorang tidak sakit. Masyarakat lebih menyukai pencegahan penyakit dengan herbal karena tidak mengandung zat kimia dan itu sudah dilakukan sejak jaman Nabi Muhammad SAW Kesimpulan : Imunisasi campak belum bisa diterima sepenuhnya oleh masyarakat. Untuk mencegah penyakit campak, masih diperlukan sosialisasi tentang kehalalan dan kandungan vaksin kepada masyarakat dengan melibatkan tokoh agama dan ilmuwan serta membuat strategi khusus untuk pendekatan kepada masyarakat eksklusif. Kata kunci : persepsi, imunisasi campak, masyarakat
ABSTRACT Background: Yogyakarta special province is the area with the best coverage of measles immunization in Indonesia (90-100%), but the outbreak of measles (KLB) was still common happen . In 2010, measles outbreaks with quite a lot of cases occurred in the village of Sukoharjo Ngaglik Sub District of Sleman and in some other areas. Objective : This study aimed to explore about the public perception of measles immunization. Methods: This study used a qualitative research method with phenomenological design. Subjects were informants were taken by purposive sampling where the sample selected is not dependent on the study population, but It was tailored by the interests of researchers in order to obtain the necessary in-depth information. Data analysis was stareds from data collection through in-depth interviews and focus group discussions, and then writing the transcripts, data coding, categorization, data interpretation, so resulting a narrative or qualitative reports. Results: People have perception that measles is a common disease and It has existed since ancient times, moreover it can be transmitted, but they are more believed that all illness came from God and God will heal it. Measles immunization is not the only barrier of illness but it was apart of the effort to be health. People prefer prevention of diseases with herbs because its does not contain chemicals and its has been done since the Prophet�s period. Conclusion: Measles immunization can not be fully accepted by society. It is still needed a socialization of halal and vaccine content to the community by involving religious leaders and scientists to prevent measles. Furthermore, it should be created a specific strategy to approach the exclusive community. Keywords : perception, measles immunization, community
Kata Kunci : Kata kunci : persepsi, imunisasi campak, masyarakat