Implementasi Kebijakan Pemberdayaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Pasca Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 (Studi Kasus Program WISMP di Kabupaten Klaten)
ARIF WURIANTONO, Prof. Dr. M. Baiquni, M.A.
2015 | Tesis | S2 Administrasi PublikIrigasi merupakan salah satu kunci utama untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Oleh karena itu pengelolaan irigasi perlu dilakukan secara terus-menerus baik secara fisik (jaringan irigasi) maupun sumber daya manusianya. Perubahan wewenang pembinaan pemberdayaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) menurut Peraturan Pemerintah nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Propinsi dan Pemerintahan Kabupaten / Kota telah menimbulkan dampak perubahan dalam pembinaan P3A di tingkat lapang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas implementasi pemberdayaan P3A dalam mewujudkan pengelolaan irigasi partisipatif di Kabupaten Klaten. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara mendalam. Dalam analisis implementasi pemberdayaan P3A mencakup proses pelaksanaan kegiatan, kendala – kendala yang dihadapi dan pendekatan yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan P3A di Kabupaten Klaten belum berjalan secara maksimal. Pendekatan yang dilakukan bersifat top down dan koersif-instruktif. Masyarakat petani masih diposisikan sebagai obyek sasaran program WISMP. Kata Kunci : pemberdayaan, P3A, pengelolaan irigasi.
Irrigation is one of the main keys to achieve food sovereignty. Therefore, irrigation management should be carried out continuously both physically (irrigation) and human resources. The changing authority of coaching empowerment water-use farmer association (P3A) according to the Government Regulation No. 38/2007 on the Distribution of the Government affairs, between the cental Government, Provincial Government and the Government of Regency/City has resulted in a change in coaching P3A at the field level. The aim of this study was to determine the effectiveness of the empowerment implementation of P3A in creating participatory irrigation management in Klaten. This study used a descriptive qualitative method by using in-depth interview technique. The analysis of the P3A empowerment implementation explained the process of activities implementation, the constraints and the approaches used. The results showed that the empowerment of P3A in Klaten has not run optimally. The approach was still top down and coercive-instructive. Farming communities were still positioned as a program target object of WISMP. Keywords: empowerment, P3A, irrigation management
Kata Kunci : pemberdayaan, P3A, pengelolaan irigasi/empowerment, P3A, irrigation management