Museum Teh Dengan Konsep Akulturasi Kebudayaan Teh Indonesia Dan Potensi Alam Kemuing
ERLANDO PUSTA S., Labdo Pranowo S.T, M.Sc
2015 | Skripsi | S1 ARSITEKTURTeh merupakan salah satu minuman yang digemari banyak orang didunia, minuman ini merupakan hasil infusi tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Minuman ini sudah berkembang lama sejak jaman kekaisaran China di abad ke 15, sedangkan di Indonesia sendiri diperkenalkan sejak adanya penjajahan Belanda. Di Indonesia sendiri teh merupakan salah satu pemasok devisa negara terbesar karena ekspornya, namun nilai ekspor teh bertolak belakang dengan komoditi pasar lokal yang kurang berkembang. Hal ini yang menandakan bahwa sebenarnya teh lokal Indonesia mempunyai pamor yang kalah tinggi bila dibanding minuman lain seperti coklat atau kopi. Padahal bila di lihat dari sudut pandang sejarah dan budaya, teh Indonesia memiliki nilai filosofis yang menarik untuk dibahas. Seperti halnya pada kebudayaan minum teh China atau negara-negara barat lainnya, teh Indonesia memiliki banyak makna kehidupan dan kaya akan arti disamping karena Indonesia sendiri yang memang terdiri dari berbagai macam latar belakang suku bangsa. Namun nilai inilah yang lambat laun menjadi terurai pada generasi sekarang, teh dipandang hanya menjadi suatu pelengkap hidangan tanpa arti. Kehadiran museum teh disini bertujuan untuk tidak hanya sekedar menjadi pewaris nilai-nilai tersebut, namun juga menjadi penyalur intisari kebudayaan teh Indonesia yang dulu pernah berkembang baik. Museum teh inilah yang nantinya akan menjadi sebuah bentuk semangat arti teh Indonesia sesungguhnya untuk berkembang kembali pada masyarakat lokal kini yang telah terbutakan akan arti filosofis teh. Bukan tidak mungkin bila dimasa mendatang animo masyarakat akan teh kembali meningkat seperti saat tempo dimana teh Indonesia sangat dihargai oleh elemen masyarakat Indonesia Dipilihlah sebuah kawasan perkebunan teh untuk eksekusinya, yaitu Kemuning. Kemuning sendiri memiliki latar belakang menarik dibalik segala potensinya untuk pariwisata. Kemuning berhubungan erat dengan keraton dimana akar budaya teh jawa berasal, selain itu perkebunan teh yang merupakan salah satu perkebunan terbesar di Indonesia ini merupakan saksi hidup adanya politik cultuurstelsel yang pernah terjadi pada saat kolonialisme. Dari sisi tersebutlah maka konsep akulturasi kebudayaan teh Indonesia pada museum akan menjadi lebih menarik bila dipadukan dengan potensi alam Kemuning sendiri, elemen elemen tersebutlah yang nantinya menjadi bahan pertimbangan desain museum teh ini.
Tea is one of favored drink by many people in the world, this drink is made by infusion result of Camellia sinensis plant into hot water. This drink has long evolved from the days of imperial China in the 15th century, while in Indonesia itself introduced since the Dutch colonization. In Indonesia tea is one of the largest suppliers of foreign exchange for exports, but the export value of tea is commonly contrast to the local market commodity which is less developed. It is indicating that the actual local tea Indonesia has lost the high prestige when compared to other beverages such as chocolate or coffee. Yet when it viewed from the standpoint of history and culture, Indonesian tea has philosophical values that are interesting to be discussed. As well as on China's tea culture or country - other western countries, Indonesian tea has a lot of meaning of life and rich in meaning as well as its own premises which is composed of various ethnic backgrounds. However, this value is gradually becoming unraveled on the current generation, therefore tea just regarded to be a complement to the dish without meaning these days. The presence of tea museum here aims not for just becoming heir to tea values, but also to be essence of the culture of Indonesian tea who used to thrive back in days. Tea museum is something that will be a form of the spirit of the true meaning of Indonesian tea to grow back in local people who have been blinded in philosophical sense of tea. It is not impossible if the public interest in tea will increased again in the future as good as the time when Indonesian tea highly praised by Indonesian society. Then Chosen a tea plantation region for execution, ie Kemuning. Kemuning itself has an interesting background behind all its potential for tourism. Kemuning closely linked to the kasunanan palace where the java tea cultural roots were originating, Kemuning tea plantation is one of the largest plantations in Indonesia, and it is also a living witness to the political culture system called Cultuurstelsel which occurred at the time of colonialism. Depends on it reference, the concept of Indonesian tea cultural acculturation at the museum will be more attractive when combined with the natural potential of the Kemuning. Those elements is exactly what will be considered the design of this tea museum.
Kata Kunci : Museum, Teh, Akulturasi, Potensi Alam, Kebudayaan